Jumat, 28 Agustus 2015

ML Awal Sebuah Ketulusan

Awal Sebuah Ketulusan




Pada mulanya aku tidak begitu tertarik dengan namanya chatting. Tetapi lama kelamaan aku jadi ketagihan dan setiap hari aku selalu meluangkan waktu Untuk beberapa saat lamanya sembari mengerjakan tugas harian di kantor. Baik itu melalui MIRC ataupun di YM. Dan mulai dari sinilah aku mulai mengenal apa itu dunia cyber. Suatu hari aku chatting dengan menggunakan nickname Jingga yang kebetulan aku suka banget dengan warna purple.

Hingga sampailah aku di pertemukan dengan cewek yang berumur 17 tahun yang mempunyai nama asli Adinda. Adinda yang masih berstatus pelajar di salah satu SMU negeri di Jakarta dan tinggal di sekitar Jakarta Barat. Dengan paras yang cantik serta bentuk tubuh yang sexy di dukung penampilannya yang selalu mengenakan rok abu-abunya di atas lutut. Menjadikan dirinya patut untuk di kagumi oleh setiap lelaki. Apalagi dengan hem putihnya yang sedikit transparan setiap Adinda berangkat ke sekolah. Begitu menerawang terbentuk segaris Bra 36 warna hitam kesukaannya menjadikan setiap mata yang memandangnya tak akan berkedip sedetikpun.

Adinda adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang di Jakarta. Kesibukan papanya sebagai seorang pengusaha, menjadikan Adinda selalu merasa kesepian. Demikian juga dengan Mamanya yang selalu sibuk dengan urusan arisan, shopping, senam, salon dan banyak lagi kesibukan yang datang tak pernah habisnya. Karena merasa kesepian setiap pulang dari sekolah ataupun saat libur sekolah, menjadikan Adinda tumbuh tanpa seorang figur dari keluarganya. Kalau melihat kepribadiannya Adinda sebenarnya mempunyai kepribadian yang periang dan ramah.Semua itu bisa di lihat dengan kesehariannya yang selalu tersenyum kepada semua orang yang di jumpainya.

Demikian juga saat bertemu denganku lewat Chatting. Setiap perjumpaan selalu diakhiri dengan kesan yang baik, bagaimanapun juga aku sangat menghargai. Kejujurannya yang menceritakan masalah keluarganya yang super sibuk dan mantan cowoknya yang berpaling darinya, karena tidak bisa bersabar menghadapi Adinda yang belakangan menjadi pemurung. Sifatnya yang pemurung itu disebabkan oleh suasana keluarganya yang mulai tidak harmonis lagi dan menjadikan sosok Adinda menjadi minder di sekolahnya.

Hingga pada satu kesempatan dia memutuskan ingin bertemu secara langsung denganku. Hari itu setelah kita chatting beberapa saat, tiba-tiba dia menangis dan butuh teman untuk curhat secara langsung dan alasannya, karena dia sudah akrab dan percaya kepadaku.

Setelah menentukan tempat yang cukup aman, sejuk udaranya dan tidak bising akhirnya aku sepakat menemuinya. Dengan perasaan deg-degan, sepanjang perjalanan aku berpikir ada masalah apa dengan Adinda. Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika aku benar-benar ketemu dengannya.

Sesaat Aku terkagum-kagum melihat penampilannya hari itu. Berbeda dengan kesehariannya yang selalu mengenakan seragam sekolah. Hari itu Adinda mengenakan stelan celana jeans agak belel warna biru di padu dengan kaos putih ketat yang menonjol di bagian dadanya. Rambut panjangnya di biarkannya tergerai menyentuh bahunya melewati leher jenjangnya yang putih bersih.

Dari penampilannya yang mengagumkan aku sempat menelan ludah sesaat. Adinda adalah sosok cewek idolaku. Mulai dari wajahnya, dadanya, pinggulnya dan lekukan Pantatnya yang sexy tecetak jelas di celananya yang ketat juga. Membuat aku menelan terdiam sesaat, sambil membayangkan bagaimana jika aku bisa bercinta dengan dia.

Di sebuah cafe yang suasananya pada siang itu tidak begitu ramai, dengan hanya beberapa pengunjung, menjadikan pertemuanku dengan nya akan sangat berkesan tentunya. Selama pembicaraan di cafe, jantungku berdetak kencang setiap melirik paras Adinda yang cantik dan manis sekali dan aku membayangkan jika aku dapat menikmati bibirnya yang merekah. Untuk menghilangkan rasa cemasku, aku berusaha membuka pembicaraan dengan menanyakan bagaimana kesannya setelah bertemu dan ada masalah apa sampai dia memintaku datang menemuinya.

Pertemuan itu sebenarnya hanya sekedar alasannya aja agar bisa ngobrol denganku dan mengenal lebih dekat siapa diriku sebenarnya. Hal itu aku ketahui setelah kami terlibat perbincangan serius di cafe dan dia berterima kasih, kalau selama ini aku bisa dengan penuh kesabaran mendengarkan semua masalah yang di hadapinya.

"Diet.. Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Adinda tiba-tiba.
"Boleh.. Ada apa emangnya?" tanyaku balik.
"Aku mulai merasakan semua kasih sayang kamu selama ini," jawabnya.
"Dan aku juga ingin memberikan hal yang sama buat kamu," lanjutnya.

Aku hanya bisa terdiam mendengar semua penjelasannya, dengan lembut aku memeluk tubuhnya untuk meyakinkan bahwa semua yang kulakukan tulus adanya. Dan dengan pelan aku genggam jemari tangannya yang halus serta aku pegang dagunya dengan lembut bibirku menyentuh bibirnya yang terbuka sedikit. Yang tak lama aku telah menciumi leher Adinda yang terlihat sangat bersih dan putih.

"Adinda aku sayang kamu..," bisikku di telinganya lirih.

Adinda semakin erat memelukku sebagai ungkapan kebahagiaannya atas sikapku. Setelah perbincangan di cafe selesai, Adinda mengajakku untuk bersantai sejenak sambil beristirahat dengan memesan sebuah kamar di sebuah hotel yang tak jauh letaknya dari cafe tersebut.

"Diet.. Ohh..," desah Adinda ketika aku mencumbu lehernya setelah kita sampai di kamar. Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Adinda yang jenjang.
"Akhh Diet.." tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Adinda yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.
"Ooohh.. Diet.." desahnya lirih.

Adinda mulai terangang ketika ujung lidahku menjilati bukit payudaranya yang berukuran 36 itu. Aku semakin berani untuk melakukan yang Iebih jauh.. Dengan meremas payudara yang satunya.

"Adinda.. Sayang, aku buka baju kamu yah.."? bisiku di telinganya.

Adinda hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk melepaskan pakaiannya, sampai akhirnya dia hanya mengenakan Bra warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika pundaknya yang putih nampak dengan jelas di depanku.

Setelah terbuka, kembali aku mengulum bibirnya yang merekah. Lidahku menjelajahi rongga di langit-langit mulutnya dan sesekali menghisap lidah Adinda yang mulai terangsang dengan ciumanku. Tanganku yang nakal mulai melepas Bra warna hitam miliknya. Dan.. Wow.. Tersembullah puting yang kencang.. Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Adinda untuk kemudian mulai menjilati puting Adinda yang berwarna kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat putingnya berdiri dengan kencang.. Sedangkan tangan kananku memilin puting yang lainnya.

"Ooohh Diet.. Enak sekali sayang..," rintih Adinda.

Dan saat aku mulai menegang.. Adinda berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi aku tidak memberikan kesempatan Adinda untuk bangkit dari pinggir ranjang. Parfum Adinda yang harum menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuhnya.

Aku beranikan diri untuk mulai membuka celana jeans serta CD hitam berenda yang dipakainya. Dan darahku mendesir saat melihat gundukan yang ditumbuhi dengan rambut yang hitam lebat. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang vagina Adinda.

"Oohh.. Diet.. Nikmat.. Sayang," Adinda merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang kewanitaannya.
"Akhh.. Kamu pintar sekali sayaang.." Desah Adinda disaat jilatanku semakin cepat, Adinda sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda mau orgasme dan sesaat kemudian..
"Mass Adiet.. Sayang.. Aku nggak tahan.. Oohh.. Mass aku mau.." Adinda menggelinjang hebat sambil menjepit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa semakin terbenam di selangkangannya.
"Maass.. Ookkhh.. Aakuu keluaarr.." Jeritnya lirih.

Adinda merintih panjang saat mencapai orgasmenya yang pertama, dia tersenyum puas. Aku biarkan dia terlentang menikmati orgasmenya, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan. Aku memperhatikan Adinda begitu puas dengan pemanasan tadi, itu terlihat dari raut wajahnya yang begitu berbinar-binar.

Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuhnya yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir ranjang, dan tanpa pikir panjang penisku yang berukuran lumayan besar, langsung menghujam celah kenikmatan Adinda sembari bibirku mengulum payudaranya.

"Aaakhh.. Diet..," desah Adinda, saat penisku melesak ke dalam lubang vaginanya.
"Diet.. Penis kamu ohh.." desahnya kemudian.

Aku merasakan setiap jepitan bibir vaginanya yang begitu ketat, sampai terasa begitu nikmat lubang senggama Adinda. Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Adinda yang pertama kalinya merasakan nikmatnya bercinta. Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu membuat tubuh Adinda menggelinjang hebat karena dia mulai bisa merasakan dan menikmati permainan ini.

"Diet.. Sudah.. Sayang.. Akhh.." sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir vagina Adinda menjepit batang penisku.

Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari vagina Adinda. Aku tidak mempedulikan desahan Adinda yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memasukkan penisku lebih dalam lagi. Tiba-tiba Adinda mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Penisku bergerak keluar masuk dengan cepat dan.. Sesaat kemudian.

"Diet.. Aku.. Mau.. Keluarr lagi.. Aaakk.. Sayang, aku.. Nggak tahan.."
Seiring jeritan itu, aku merasakan cairan hangat kembali meleleh disepanjang batang penisku.
"Aaakhh.. Sayang.. Enak sekali.. Ooohh..," rintih Adinda lirih.
Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, diatas tubuh Adinda. Disaat aku mulai mencapai klimaks, aku meminta Adinda berganti posisi diatas.
"Adinda.. Sayang kamu diatas yah.."Pintaku

Aku melepas penisku dan langsung terlentang. Adinda bangkit dan langsung menancapkan penisku dalam-dalam di lubang kewanitaannya.
"Akhh gila, penis kamu enak banget Maas.. Ooohh.." Adinda merintih sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
"Aduhh enak Diet.." desahnya lagi.
Goyangan pinggul Adinda membuat gelitikan halus di penisku..
"Adinda.. Sayang.. Akh..," aku mengerang kenikmatan saat Adinda menggoyang pinggulnya.
"Diet.. Aku mau keluar nih..," sambil merintih panjang, Adinda menekankan dalam-dalam

Tubuhnya hingga penisku amblas ditelan vaginanya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan tanda-tanda akan mencapai orgasme.

"Aaahh.. Ahh.. Ohh," teriakku
"Crott.." bersamaan dengan menyemburnya spermaku. Aku biarkan spermaku menyembur di dalam vaginanya. Sebagian dari spermaku langsung meleleh di sekujur pahanya yang mulus.

Setelah itu Adinda berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera mencuci spermaku yang baru keluar dari vaginanya. Permainan itu berakhir dengan penuh kenikmatan dalam diri kami berdua, karena baru pertama kalinya Adinda bercinta denganku, dia mengalami multi orgasme yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

"Diet.. Kapan kamu ada waktu lagi untuk melakukan semua ini sayang," tanya Adinda.
Aku menjawab lirih, "Terserah Kamu deh, aku akan selalu sediakan waktu untuk kamu."
"Makasih sayang.. Kamu telah memberikan apa yang selama ini belum aku rasakan," kata Adinda.
Kemudian aku mengecup kembali Bibirnya yang merekah sebagai tanda kasih sayangku kepada Adinda yang tulus.

Enaknya ML dengan Perawan Rina

Enaknya Perawan Rina



Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, dan sekarang sudah tingkat akhir. Untuk saat ini aku tidak mendapatkan mata kuliah lagi dan hanya mengerjakan skripsi saja. Oleh karena itu aku sering main ke tempat abangku di Jakarta.

Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP.

Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. Oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.

Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.

"Hallo, Oom Ryan..!" Rina yang baru masuk tersenyum. "Eh, tolong dong bayarin bajaj... uang Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya."

Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan bajaj yang cuma dua ribu rupiah.

Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Dia memandang kepadaku dan tertawa geli.

"Ih! Oom Ryan! Begitu to, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat."

Gugup aku menjawab, "Rina... kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin."

"Aahhh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tuh liat... cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem."

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.

Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan... astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga... jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai "bergerak", sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

"Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..?"

"Ah, gampang! Semut lagi push -up! Kan ada di tutup botol Fanta! Gantian... putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?"

Rina mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.

"Yang bener... Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di bajaj..!"

"Aahhh... Oom Ryan ngeledek..!"

Rina meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan... tersandung!

Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.

Nafas Rina makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.

"Uuuhh... mmmhhh..." Rina menggelinjang.

Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya. Aahhh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

"Ehhh... mmmaaahhh..," tangan Rina meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.

Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.

"Ooohh... aduuhhh..," Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.

Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina.

"Mmmhh... mmmhhh... ooohhhmmm..," ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.

Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.

Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang.

"Ohhmm, mam... masuk... hhh... masukin... Omm... hhh... ehekmm..."

Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Rina mengernyit lagi, tapi lama-kelamaan mulutnya menceracau.

"Aduhhh... ssshhh... iya... terusshh... mmmhhh... aduhhh... enak... Oommm..."

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Rina makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

"Aduh, Oom... Rina lemes. Tapi enak banget."

Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan... kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme,dan Rina... entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku "blowjob", aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.
Tamat

Erly Gadis Perawan


Erly Gadis Perawan


 Kuperkenalkan dulu diriku, aku seorang yang berasal dari keluarga sederhana. Namaku Heri, umurku sekarang 23 tahun,aku akan menceritakan awal mula pertama kali melakukan hubungan badan dengan lawan jenis. Saat itu usiaku 18 tahun, aku baru saja lulus dari SMK swasta di kotaku, boleh dikata nilai ijazahku sangat memuaskan,lalu aku melamar pekerjaan ke salah satu perusahaan otomotif terkemuka di negeri ini, disaat aku menunggu panggilan kerja, Om ku datang menawarkan pekerjaan buat aku, katanya ada lowongan di tempat om bekerja, tapi posisinya sebagai OB alias appointment boy,waduuh apes banget gue, begitu ada yang nawarin pekerjaan tapi Cuma sebagai OB”pikirku, tapi nggak apa dech, itung- itung ngisi waktu buat nunggu panggilan kerja. Dihari pertama aku kerja di tempat om ku, sungguh diluar dugaanku. Ternyata karyawan ceweknya cantik2, banyak lagi. Wah kesempatan nih mumpung aku lagi jomblo, siapa tahu ada karayawati om yang mau sama aku,gumamku. Aku melihat salah seorang karyawati yang kuketahui bernama Erly, orangnya cantik, putih, tinggi badan kurang lebih 168 cm, ukuran bra kira-kira 36 C ditambah bodinya yang aduhai karena dia giat banget fitness,apalagi pantatnya yang besar,kalau dia lagi jalan,pantatnya naik turun yang bikin pikiran cowok yang memandangnya ingin meremas pantatnya,pernah suatu hari aku melihatnya diruang blow room,dia sedang menanggalkan blouse atasnya,saat itu aku liat dia Cuma pakai hem warna putih transparant yang seakan-akan terlalu kecil buat dia,seakan-akan ada yang nggak muat dibalik bajunya,mungkin karena teteknya terlalu gede kali,wah..wah..montok banget nih cewek, aku sudah membayangkan bagaimana kalau aku bisa meluk dia…pastinya angeeeet banget,Aku mulai cari informasi mengenai dia,apa yang dia suka dan apa yang dibencinya,tiap kali bertemu dia,aku selalu menyapanya..diapun membalas sapaanku..ada kemajuan nih pikirku. Selang waktu 2 bulan, keakraban kami bukan lagi sebagai atasan dan bawahan,saat aku capital kerumahnya diapun menyambutku dengan ramah.Sudah saatnya aku mengungkapkan perasaanku kalau aku sayang padanya.”Er aku mau ngomong sesuatu sama kamu,sebenarnya aku sudah absolutist pengin ngomong ini”dia jawab

ngomong aja,”aku sebenarnya sayang sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku?lalu dengan ekspresi kaget di jawab” Her, berarti selama ini kamu salah tafsir tentang kebaikanku ke kamu,aku Cuma nganggap kamu teman,lagian kedudukan kita berbeda,aku sekretaris kantor sedangkan kamu Cuma OB”saat itu aku bagaikan tersambar petir,bukan masalah aku ditolak, tapi dia sudah menghina aku dengan kata-kata seperti itu.Saatnya aku bikin perhitungan sama dia,nggak masalah aku ditolak,tapi aku harus bikin dia takluk sama aku…besok harinya kebetulan dia kerja lembur karena dapat banyak tugas dari om ku,seandainya dia aku perkosa,jelas sekali kalau dia akan mengadukan aku ke polisi, tapi kalau aku bius, darimana aku bisa dapat Chloroform?akhirnya aku dapat ide, temenku pernah cerita kalau minuman bersoda bermerek s***** dicampur salah satu obat tetes mata I****,bisa bikin orang teler alias pingsan,segera aku membeli minuman serta obat tersebut. Begitu aku sampai kantor, aku campur minuman tadi dengan obat tetes mata dengan dosis beberapa 2 tetes, aku pura2 ngasih sama dia minuman tadi, dengan alasan sebagai permintaan maaf atas kelancanganku dan berharap kita masih bisa temenan, awalnya dia nolak,tapi aku bilang ke dia kalau aku nggak ada maksud lain…biar tidak curiga lalu aku pura2 ijin pulang,tapi sebenarnya aku sembunyi di allowance direksi,aku intip dia dari ruang itu,aku liat dia mulai teguk minuman yang aku kasih tadi,ternyata benar juga,dalam hitungan menit dia langsung jatuh pingsan diatas kursi kerjanya,wah inilah kesempatanku,aku datangi dia lalu aku coba bangunin dia,siapa tau dia Cuma tertidur….aku colek tangannya dia diem,lalu aku colek teteknya,dia tetep diem…ehhh ternyata beneran dia pingsan,dia kusandarkan dikursi,aku jongkok didepannya,lalu aku peluk dia erat2,akhirnya apa yang aku impikan selama ini tercapai,awalnya aku remas teteknya yang gede itu dari luar pakaiannya,wihh kenyal banget pentilmu Er,ooohhh…enak banget Erly,lalu aku mulai mencium bibirnya yang seksi,aku kulum sampai bibirnya memerah,slurp…oh enak banget…slurp…slurp, aku mulai turun mencumbu lehernya,lalu melepas blousenya, mulai kubuka kancing bajunya satu persatu,wowwww……tiba tiba aku terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat,tetek loe gede banget Er,ini beneran tetek? Kok bent segedesemangka gini…???lalu aku lanjutin membuka BH nya,wiiiii… what a nice tits babe…..aku rasa tetekmu ini lebih dari 36 C,atau mungkin

tepatnya 39 C, American cup admeasurement man..pokoknya malam ini loe harus muasin gue,mulai kukulum putingnya yang berwarna merah muda,dan putingnya yang belum nongol,apa mungkin dia sama sekali belum dijamah sama cowok ya? Pikirku,aku mulai menjilati ujung teteknya, kadang aku gigit sampai ada bekas di teteknya,aku makin bergairah saja,aku remas teteknya yang kenyal banget, habisnya kayak bola karet,he..he..kukulum2 sampai putingnya mulai mengeras,lalu aku mulai menjilati pusarnya dan akhirnya kulepas roknya yang seksi itu,Erly aku udah nggak sabar nih,pengin masukin kon***ku ke lubang vag***mu, begitu roknya terlepas dari kakinya,kulihat celana dalamnya yang makin bikin aku bertambah gairah, dia memakai tounge G-string(celana dalam seksi yang kayak tali),yang biasa dipake bule saat berjemur di pantai (kayak yang aku liat di tivi),transparan lagi….aku jilati pahanya yang putih mulus,lalu aku sampai pada ujung pangkal pahanya,mulai kuturunkan celana dalamnya,pelan-pelan aku menghayati aksiku,aku lihat pemandangan yang luar biasa,vag***nya menggelembung kayak seonggok daging,dan mataku tertuju pada klitorisnya yang sedikit basah kemerahan,dengan ditumbuhi bulu halus disekitar agency kewanitaannya.Waduh harus cepet-cepet nih masukin barang gue,udah ngaceng keatas gini…aku mulai menjilati dengan ganasnya,lalu aku buka bibir kemaluannya,kujilati terus tanpa henti,Erly ini saatnya gue masukin tongkol gue ke vag*** loe,kon*** gue udah nggak tahan nih,aku tanggalkan semua pakaianku,kini kami berdua telanjang tanpa sehelai benangpun,aku geser tubuhnya sedikit lalu aku angkat kaki kanannya…..aku tempelkan kon***ku ke vaginanya,mula-mula kugosokkan pelan-pelan mulai dari bibir atas vag***nya yang sudah basah oleh liurku,ini backbone sih lubangnya? Susah amat nyarinya,pembaca harap maklum, saat itu aku baru pertama kali ngelakuin yang namanya chargeless sex,begitu ketemu,aku tekan maju mundur dengan pelan2,kok sempit banget pikirku…oke,aku akan paksa kont**ku ngambil perawan loe Er..satu..dua..tiii..gaaaaa…preeet..preett,kok kayak ada yang sobek?? Tapi apa’an ya,awwwww yes…kont**ku dah masuk separuh,tapi rasanya ada yang ngilu di pusakaku ini,kayak kejepit pintu..tapi bedanya ini rasanya enak banget,kutarik pelan-pelan,kudorong lagi..blesssss..akhirnya kont**ku masuk sepenuhnya,lalu mulai kugenjot dia sampai teteknya yang montok itu bergoyang keatas dan kebawah,Er enak banget memiaw
loe,udah cantik,putih,montok ditambah memiawmu yang sempit ini,beruntung banget aku….kugenjot dia selama setengah jam,Er gue mau kluar nih,kluarin didalem aja ya….langsung kuluberkan spermaku kedalam vag***nya crooott…croott,ohhh…ohhh… begitu kont** aku tarik keluar,ada bekas noda darah dikemaluanku, juga pada memiawnya,ternyata dia masih perawan ooiiii….lumayan ML pertama kali dapet bidadari perawan,setelah istirahat 5 menit,kuangkat dia keatas meja,kutaruh dia dengan posisi tengkurap,lalu aku ent*t lagi memiawnya dari belakang,kuremas teteknya,oohhh..opffhh….yes…oh my god…(biar kayak di film2 porno gitu),enak er…terusin ya sayang,aku lebarkan lagi kakinya dengan posisi badan membungkuk diatas meja,kupeluk dia sambil terus meremas toketnya yang yahud,sampai-sampai genjotanku terdengar suara..creeek..creeek…ccreeek…aku masih belum puas,lalu kurapikan lagi pakaiannya,mulai dari baju, blouse sampai roknya,tapi tanpa BH dan celana dalamnya,gue akan lebih puas kalau ngent*t loe dengan pakaian utuh,biar kayak karyawan kantor yang lagi ngelakuin activity secara sembunyi,lalu aku duduk dikursi,kutaruh dia diatasku dengan posisi membelakangiku,tangan kiriku meremas teteknya dari belakang,sedang tangan kananku menelusup kedalam roknya,aku arahkan lagi rudalku kearah vag***nya,dan bleeess…ohhh…enak banget Erly,oohhh…ngent*t loe dari belakang sambil megang toket loe,oohh..nggak tahan neh Er,gue mau keluar lagi nih….croott..croott…legaaa….aku bangun lagi,lalu aku telentangkan dia dilantai,kubuka lagi kancing bajunya,Erly aku pengin ngent*t toket loe nih….kuhisap dulu pentilmu ya,sluuuurp….sluuuurp…segeeeerr….enaaak banget kalo minum susu dari sumbernya,lalu kutaruh ludahku ditengah toketnya yang putih mulus itu,biar licin gitu….kutempatkan kont**ku di situ,kutekan toketnya dari samping kiri kanan biar bisa menjepit kont**ku,mulai ku maju mundurkan rudalku,,wowwwww…..what absurd tits honey,I ‘d never acquainted like this afore ( ya iyalaaahh,namanya juga baru pertama kali ngesexnya),kont**ku Cuma kliatan helmnya,seakan-akan kont**ku tertelan sama toketnya erly,,apalagi saat aku duduk diatas tubuhnya,pantatku terasa angeet banget,dan pahaku terasa bergetar saat terbentur toketnya yang montok dan kenyal itu,makin kupercepat gerakanku,makin terasa nikmat…ploook…plokk…plook…ohhhh…aohhhh…terusin ya sayang,toketmu bener2 luar biasa,sambil aku remas pentilmu yang gede dan putih ini,putingmu aku pelintir ya,biar makin nongol keatas,babe,my agent appetite to cum’….mau kluar nih saying,udah nggak tahan,crooottt…crooot….crooottt….spermaku keluar membasahi wajahnya yang cantik,,thanks honey…malam ini gue bener-bener puas,loe udah ngelayanin gue sampai kont**ku nggak sanggup berdiri lagi,lalu aku ambil tisu sama air buat bersihin dia,lalu kurapikan pakaiannya seakan-akan tak terjadi apa-apa,nggak terasa sudah 3 jam aku melampiaskan nafsuku sama erly,saat aku hendak keluar dari ruangan tersebut…tiba-tiba……terdengar suara seorang cewek yang memanggilku, mas….mas heri bangun…udah siang nih…mau narik nggak….jam segini masih molor,ooohhh sialan ternyata semua Cuma khayalan mimpiku,aku dibangunin sama istriku yang namanya juga erly tapi jauh banget dari apa yang aku impikan tadi,dia gendut, pendek,kulitnya item,ditambah lagi kerjanya sebagai penjual jamu gendong, sedangkan aku sendiri bekerja sebagai tukang becak……sekian…!!!!!

Kamis, 27 Agustus 2015

ML dengan sepupu

ML dengan sepupu


Tommy, sepupuku, baru duduk di kelas empat SD. Baru saja ia tiba di rumah. Tommy nongkrong di lantai teras depan rumah. Rumahnya kosong. Ayah dan ibunya pergi bekerja, sedangkan ia anak tunggal. Tommy asyik membaca sebuah novel yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh orang dewasa.

"Halo, Tommy. Lagi asyik baca nih. Mama udah pulang belum?", Datang seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan.
"Eh, Tante Tika. Mama belum pulang tuh!" jawab Tommy sambil menyembunyikan novel yang dibacanya ke belakang tubuhnya. Tante Tika, adik ayah Tommy, baru saja bercerai dengan suaminya.
"Eh, Tommy baca apa sih? Kok pake di umpet-umpetin segala? Tante boleh lihat nggak?" Setelah dibujuk-bujuk, Tommu mau menyerahkan novel itu kepada Tante Tika.

"Astaga, Tommy. Masih kecil bacaannya ginian!", seru Tante Tika setelah melihat sampul buku yang bergambarkan seorang gadis muda dengan busana yang sangat minim dan pose yang menggiurkan. Tante Tika lalu membolak-balik halaman novel itu. Saat membaca bagian di mana terdapat adegan yang merangsang dalam buku itu, sekilas terjadi perubahan pada wajahnya.
"Tom, daripada kamu sendirian di sini, lebih baik ke rumah Tante yuk!", ajak Tante Tika.
"Tapi, Tante, Tonny disuruh Mama jaga rumah".
"Alaa, tinggal kunci pintu saja sudah", kata Tante Tika sambil mengunci pintu rumah lalu ia menarik tangan Tommu ke mobilnya.

Mobil Tante Tika sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah Tommy yang duduk di sampingnya.
"Masih kecil sudah ganteng begini", gumam Tante Tika dalam hati. Ia menggerakkan tangannya meremas-remas kemaluan bocah yang masih hijau itu.
"Aduh, Tante. Geli ah", kata Tommy. Tante Tika tersenyum penuh arti. Ia menarik tangannya ketika mobil sudah tiba di depan rumahnya yang megah bak istana di seberang danau Sunter.

Tante Tika usianya sudah mencapai tiga puluh dua tahun, tapi penampilannya masih seperti gadis berusia dua puluh tahunan berkat giatnya ia mengikuti senam aerobik di sebuah klub kebugaran beken di Jakarta. Wajahnya yang cantik ditambah dengan tubuhnya yang bahenol serta seksi. Payudaranya yang besar memang amat menawan, apalagi dia sekarang seorang janda. Sudah banyak lelaki yang mencoba merebut hatinya, tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Menurutnya mereka hanya menginginkan hartanya saja. Tante Tika memang kaya raya, mobil mewahnya ada beberapa buah dari model yang mutakhir lagi. Rumahnya mentereng, di kawasan perumahan elite lagi. Itu semua berkat kerja kerasnya sebagai direktris sebuah perusahaan asuransi papan atas.

Oh ya, Tante Tika mempunyai seorang anak gadis bernama Andriana, putri satu-satunya, tapi biasa dipanggil Andri saja. Gadis manis ini duduk di kelas dua sebuah SMP swasta top di daerah Kelapa Gading. Pada usianya yang baru menginjak empat belas tahun ini, tubuh Andri sedang mekar-mekarnya. Payudara remajanya sudah ranum sekali, berukuran lebih besar daripada gadis-gadis sebayanya, laksana payudara gadis berusia tujuh belas tahun. Mungkin kemontokannya ini warisan dari ibunya. Tapi Andri memang anak yang agak kurang pergaulan alias kuper karena kebebasannya dibatasi dengan ketat oleh ibunya, yang kuatir ada pihak-pihak yang memanfaatkan kemolekan tubuh anaknya tersebut. Sama sekali Andri belum pernah merasakan apa artinya itu cinta. Padahal banyak sudah cowok yang naksir dia. Namun Andri belum sadar akan cinta.

"Tom, badan Tante pegal nih. Tolong pijatin ya", kata Tante Tika sambil mengajak Tommy ke kamar tidurnya. Tante Tika membuka busananya. Lalu ia membaringkan tubuhnya yang telanjang bulat tengkurap di ranjang. Tommy masih lugu sekali. Ia belum tahu apa-apa tentang keindahan tubuh wanita.

"Tante kok buka baju? Kepanasan ya?", tanya Tommy dengan polosnya. Tante Tika mengangguk. Lalu Tommy memijati tubuh Tante Tika. Mula-mula punggungnya. Lalu turun ke bawah. Tante Tika mendesah sewaktu tangan mungil Tommy memijati gumpalan pantatnya yang montok.

"Tante, kenapa? Sakit ya?", tanya Tommy lugu. Mula Tante Tika memerah. Dia duduk di atas ranjang. Tangannya menarik tangan Tommy ke payudaranya.
"Tante, ini apaan? Kok empuk amat sih?", tanya Tommy ketika tangannya menjamah payudara tantenya. Tante Tika mulai bangkit nafsu birahinya.
"Ini namanya payudara, Tom".
"Kok Tante punya sih? Tommy nggak ada?".
"Tommy, Tommy. Kamu bukan cewek. Semua cewek kalau udah gede pasti akan punya payudara. Payudara adalah lambang keindahan tubuh wanita", Tante Tika menjelaskan dengan bahasa yang terlalu tinggi bagi anak seusia Tommy.
"Lalu pentilan ini apa namanya?", tanya Tommy sambil memijit puting susu tantenya. Tante Tika sedikit menggelinjang terangsang.
"Ah.., Ini namanya puting susu. Semua wanita juga mempunyai puting susu. Mamamu juga punya. Dulu waktu kamu masih bayi, kamu minum susu dari sini".
"Masa sih Tante. Biasanya kan susu dari sapi?"
"Mau nyobain nih kalo kamu nggak percaya. Sini deh kamu isap puting susu Tante!".

Tommy kecil mendekatkan mulutnya pada payudara Tante Tika lalu diisapnya puting susunya.
"Ih, Tante bohong. Kok nggak keluar apa-apa?", kata Tommy sambil terus menyedoti puting susu Tante Tika yang tinggi menegang itu. Tapi tantenya nampaknya tidak mempedulikan perkataan keponakannya itu.
"Teruskan.., Tom.., Sedot terus.., Ouuhh..", kata Tante Tika bernafsu. Karena merasa mendapat mainan baru, Tommypun menurut. Dengan ganasnya ia menyedot-nyedot puting susunya. Tante Tika menggerinjal-gerinjal. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja di dekatnya, sehingga isinya tumpah membasahi bahu dan celana pendek Tommy.
"Ya, Tante. Pakaian Tommy basah deh!", kata Tommy sambil melepaskan isapannya pada puting susu Tante Tika.
"Ya, Tommy. Kamu buka baju dulu deh. Nanti Tante ambilkan baju ganti. Siapa tahu ada yang pas buat kamu", kata Tante Tika sambil beranjak ke luar kamar tidur. Sempat dilihatnya tubuh telanjang Tommy. Dikenalkannya pakaiannya lagi. Tante Tika pergi ke kamar anaknya, Andri, yang baru saja pulang dari sekolah.

"Dri".
"Apa, Ma?", tanya Andri yang masih memakai baju seragam. Blus putih dan rok berwarna biru.
"Kamu punya baju yang sudah nggak kamu pakai lagi nggak?".
"Ngg.., Ada Ma. Tunggu sebentar", Andri mengeluarkan daster yang sudah kekecilan buat tubuhnya dari dalam lemari pakaiannya.
"Buat apa sih, Ma?", kata Andri seraya menyerahkan dasternya kepada ibunya.
"Itu, buat si Tommy. Tadi pakaiannya basah ketumpahan air minum".
"Tommy datang ke sini, Ma? Sekarang dia di mana?".
"Sudah! Kamu belajar dulu. Nanti Tommy akan Mama suruh ke sini!".
"Ya.., Mama!" Gerutu Andri kesal. Ibunya tak mengindahkannya. Andri senang pada Tommy karena ia sering saling menukar permainan komputer dengannya. Tapi Andri keras kepala. Setelah jarak ibunya cukup jauh, diam-diam ia membuntuti dari belakang tanpa ketahuan. Sampai di depan kamar ibunya, Andri mengintip ke dalam melalui pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya ibunya sedang berbicara dengan Tommy.

"Tommy, coba kamu pake baju ini dulu. Bajunya Andri, sambil nunggu pakaian kamu kering", kata Tante Tika sambil memberikan daster milik Andri kepada Tommy.
"Ya, Tante. Tommy nggak mau pake baju ini. Ini kan baju perempuan! Nanti Tommy jadi punya payudara kayak perempuan. Tommy nggak mau!".
"Nggak mau ya sudah!", kata Tante Tika sambil tersenyum penuh arti. Kebetulan, batinnya. Kemudian ia menanggalkan busananya kembali.
"Kalo yang ini apa namanya, Tom?", tanya Tante Tika sambil menunjuk batang kemaluan Tommy yang masih kecil.
"Kata Papa, ini namanya burung", jawab Tommy polos.
"Tommy tahu nggak, burung Tommy itu gunanya buat apa?".
"Buat pipis, Tante".
"Bener, tapi bukan buat itu aja. Kamu bisa menggunakannya untuk yang lain lagi. Tapi itu nanti kalo kamu sudah gede".

Andri heran melihat ibunya telanjang bulat di depan Tommy. Semakin heran lagi melihat mulut ibunya mengulum batang kemaluannya. Rasanya dulu ibunya pernah melakukan hal yang sama pada kemaluan ayahnya. Semua itu dilihatnya ketika kebetulan ia mengintip dari lubang kunci pintu kamar ibunya. Kenapa ya burung si Tommy itu, pikir Andri.
"Enak kan, Tom, begini?", tanya Tante Tika sembari menjilati ujung batang kemaluan Tommy.
"Enak, Tante, tapi geli!", jawab Tommy meringis kegelian.
"Kamu mau yang lebih nikmat nggak?".
"Mau! Mau, Tante!".
"Kalau mau, ini di pantat Tante ada gua. Coba kamu masukkan burung kamu ke dalamnya. Terus sodok keras-keras. Pasti nikmat deh", kata Tante Tika menunjuk selangkangannya.

"Cobain dong, Tante", Tante Tika menyodokkan pantatnya ke depan Tommy. Tommy dengan takut-takut memasukkan "burung"nya ke dalam liang vagina Tante Tika. Kemudian disodoknya dengan keras. Tante Tika menjerit kecil ketika dinding "gua"nya bergesekkan dengan "burung" Tommy. Andri yang masih mengintip bertambah heran. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan ibunya sampai menjerit begitu. Tapi Andri segera berlari kembali ke kamarnya ketika ia melihat ibunya bangkit dan berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Tommy yang hanya memakai celana dalam ibunya. Sampai di kamarnya, Andri berbaring di ranjang membaca buku fisikanya. Tommy muncul di pintu kamar.

"Mbak Andri. Kata Tante tadi Mbak mau cari Tommy ya?".
"Iya, kamu bawa game baru nggak?", tanya Andri. Tommy menggeleng.
"Eh, Tom. Ngomong-ngomong tadi kamu ngapain sama mamaku?".
"Nah ya, Mbak tadi ngintip ya? Pokoknya tadi nikmat deh, Mbak!", kata Tommy berapi-api sambil mengacungkan jempolnya.
"Enak gimana?", Andri bertanya penasaran.
"Mbak mau ngerasain?".
"Mau, Tom".
"Kalo begitu, Mbak buka baju juga kayak Tante tadi", kata Tommy.
"Buka baju?", tanya Andri, "Malu dong!".

Akhirnya dengan malu-malu, gadis manis itu mau membuka blus, rok, BH, dan celana dalamnya hingga telanjang bulat. Tommy tidak terangsang melihat tubuh mulus yang membentang di depannya. Payudara ranum yang putih dan masih kencang dengan puting susu kemerahan, paha yang putih dan mulut, pantat yang montok. Masih kecil sih Tommy!

"Bener kata Tante. Mbak Andri juga punya payudara. Tapi punyanya Tante lebih gede dari punya Mbak. Pentilnya Mbak juga nggak tinggi kayak Tante", Tommy menyamakan payudara dan puting susu Andri dengan milik ibunya.
"Pentil Mbak keluar susu, nggak?".
"Nggak tahu tuh, Tom. Nggak pernah ngerasain sih!", kata Andri lugu.
"Pentilnya Tante nggak bisa ngeluarin apa-apa, payah!".
"Masak sih bisa keluar susu dari pentilku?", kata Andri tidak percaya sambil memandangi puting susunya yang sudah meninggi meskipun belum setinggi milik ibunya.
"Mbak nggak percaya? Mau dibuktiin?".
"Boleh!", kata Andri sambil menyodorkan payudaranya yang ranum.

Mulut Tommy langsung menyambarnya. Diisap-isapnya puting susu Andri, membuat gadis itu menggerinjal-gerinjal kegelian.
"Ya, kok nggak ada susunya sih, Mbak?".
"Coba kamu isap lebih keras lagi!", kata Andri. Tommy segera menyedoti puting susu Andri. Tapi lagi-lagi ia kecewa karena puting susu itu tidak mengeluarkan air susu. Tapi Tommy belum puas. Diisapnya puting susu Andri semakin keras, membuat gadis manis itu membelalak menahan geli.
"Nggak keluar juga ya, Tom", tanya Andri penasaran.
"Kali kayak sapi. Harus diperas dulu baru bisa keluar susunya", kata Tommy.
"Mungkin juga. Ayo deh coba!", kata Andri seraya meremas-remas payudaranya sendiri seperti orang sedang memerah susu sapi. Sementara itu Tommy masih terus mengisapi puting susunya. Akhirnya mereka berdua putus asa.

"Kok nggak bisa keluar sih. Coba yang lain aja yuk!", kata Tommy membuka celana dalamnya.
"Apaan tuh yang nonjol-nonjol, Tom?", tanya Andri ingin tahu.
"Kata Papa, itu namanya burung. Cuma laki-laki yang punya. Tapi kata Tante namanya kemaluan. Tau yang bener yang mana!".
"Aku nggak punya kok, Tom?", kata Andri sambil memperhatikan daerah di bawah pusarnya. Tidak ada tonjolan apa-apa".
"Mbak kan perempuan, jadi nggak punya. Kata Tante, anak perempuan punya.., apa tuh namanya.., va.., vagina. Katanya di pantat tempatnya.
"Di pantat? Yang mana? Yang ini? Ini kan tempat 'eek, Tom?!", kata Andri sambil menunjuk duburnya.
"Bukan, lubang di sebelahnya", kata Tommy yakin.
"Yang ini?", tanya Andri sembari membuka bibir liang vaginanya.
"Kali!".
"Jadi ini namanya vagina. Namanya kayak nama mamanya Hanny ya?", kata Andri. Ia menyamakan kata vagina dengan Tante Gina, ibuku.
"Tadi mamaku ngisep-ngisep burung kamu. Emangnya kenapa sih?", lanjut Andri.
"Tommy juga nggak tahu, Mbak".
"Enak kali ya?".
"Kali, tapi Tommy sih keenakan tadi".

Tanpa rasa risih, Andri memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutnya, lalu diisap-isapnya.
"Ah, nggak enak kok Tom. Bau!", kata Andri sambil meludah.
"Tapi kok kudengar mamaku menjerit-jerit. Ada apaan?", tanya Andri kemudian.
"Gara-gara Tommy masukin burung Tommy ke dalam guanya. Nggak tahu tuh, kok tahu-tahu Tante menjerit".
"Gua yang mana?", Andri penasaran.
"Yang tadi tuh, Mbak. Yang namanya vagina".
"Apa nggak sakit tuh, Tom?".
"Sakit sih sedikit. Tapi nikmat kok. Mbak!".
"Bener nih?".
"Bener, Mbak Andri. Tommy berani sumpah deh!".
"Coba deh", Andri akhirnya percaya juga.

Tommy memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang vagina Andri yang masih sempit. Andri menyeringai.
"Sakit dikit, Tom".
Tommy menyodok-nyodokkan "burung"nya berulang kali dengan keras ke "gua" Andri. Andri mulai menjerit-jerit kesakitan. Tapi Tommy tidak peduli karena merasa nikmat. Andri tambah menjerit dengan keras. Mendengar lengkingan Andri, Tante Tika berlari tergopoh-gopoh ke kamar putrinya itu.
"Dri, Andri. Kenapa kami?", tanya Tante Tika. Ia terkejut melihat Andri yang meronta-ronta kesakitan disetubuhi oleh Tommy kecil.
"Ya ampun, Tommy! Berhenti! Gila kamu!" teriaknya naik darah. Apalagi setelah ia melihat darah yang mengalir dari selangkangan Andri melalui pahanya yang mulus.

Astaga! Andri telah ternoda oleh anak kecil berusia sepuluh tahun, sepupunya lagi?! Putrinya yang baru berumur empat belas tahun itu sudah tidak perawan lagi?!
"Nanti aja, Tante! Enak!".
"Anak jahanam!", teriak Tante Tika marah. Ia menempeleng Tommy, sehingga bocah itu hampir mental. Sementara itu, Andri langsung ambruk tak sadarkan diri.
Sejak kejadian itu hubungan keluarga Tommy dengan Tante Tika menjadi tegang.

Rabu, 26 Agustus 2015

Petualangan Villa Cinta

Petualangan Villa Cinta



Pagi-pagi benar handphone-ku sudah bunyi. Aku
sedikit kesal dan malas bangun dari tempat tidurku.
Tapi bunyinya itu tidak kurang keras, aku malah tidak
bisa tidur lagi. Akhirnya aku paksakan juga berdiri dan
lihat siapa yang call aku pagi-pagi begini. Eh, tidak
tahunya temanku Vivie. Aku sedikit ketus juga
menjawabnya, tapi langsung berubah waktu aku
tahumaksudnya. Si Vivi mengajakku ikut bareng
cowoknya ke vilanya tidak terlalu jauh dari
tempatku.Aku sih setuju sekali sama ajakan itu, terus
aku tanya, apa aku boleh ajak cowokku. Si Vivi malah
tertawa, katanya ya jelas dong, memang harusnya
begitu. Rencananya kami bakal pergi besok sore dan
kumpul dulu di rumahku.
Singkat cerita kami berempat sudah ngumpul di
rumahku. Kami memang sudah saling kenal, bahkan
cukup akrab. Alf, cowoknya Vivie teman baik Ricky
cowokku. Oh ya, aku belum mengenali aku sendiri ya,
namaku Selvie, umurku sekarang 17 tahun, sama-
sama Si Vivie, Ricky cowokku sekarang 19 tahun,
setahun lebih tua dari Alf cowoknya Vivie. Oke, lanjut
ke cerita. Kami berempat langsung cabut ke villanya
Vivie. Sekitar setengah jam kami baru sampai. Aku
sama Vivie langsung beres-beres, menyimpani
barang-barang dan menyiapkan kamar. Ricky sama Si
Alflagi main bola di halaman villa. Mereka memang
pecandu bola, dan kayaknya tidak bakalan hidup
kalau sehari saja tidak menendang bola.
Villa itu punya tiga kamar, tapi yang satu dipakai
untuk menyimpani barang-barang. Mulanya aku atur
biar aku sama Vivie sekamar, Ricky sama Alf di kamar
lain. Tapi waktu aku beres-beres, Vivie masuk dan
ngomong kalau dia mau sekamar sama Si Alf. Aku
kaget juga, nekad juga ini anak. Tapi aku pikir-pikir,
kapan lagi aku bisa tidur bareng Si Ricky kalau tidak
di sini. Ya tidak perlu sampai gitu-gituan sih, tapi kan
asik juga kalau bisa tidur bareng dia, mumpung
jauhdari bokap dan nyokap-ku. Hehehe, mulai deh
omes-ku keluar. Oke, akhirnya aku setuju, satu kamar
buat Alf dan Vivie, satu kamar lagi buat Ricky sama
aku.
Sore-sore kami makan bareng, terus menjelang malam,
kami bakar jagung di halaman. Asik juga malam-
malam bakar jagung ditemani cowokku lagi. Wah,
benar-benar suasananya mendukung. Hehehe, aku
mulai mikir yang macam-macam, tapi malu kan kalau
ketahuan sama Si Ricky. Makanya aku tetap diam
pura-pura biasa saja. Tapi Si Vivie kayaknya
memperhatikan aku, dan dia nyengir ke aku, terus
gilanya lagi, dia ngomong gini, "Wah... sepertinya
suasana gini tidak bakalan ada di Bandung. Tidak
enak kalau dilewatin gitu saja ya." Aku sudah melotot
ke arah dia, tapi dia malah nyengir-nyengir saja,
malah dia tambahin lagi omongannya yang gila benar
itu, "Alf, kayaknya di sini terlalu ramai, kita jalan-jalan
yuk!" Aku sudah tidak tahu harus apa, eh Si Alf juga
samanya, dia setuju sama ajakan Si Vivie, dan
sebelum pergi di ngomong sama Ricky, "Nah, sekarang
elu harus belajar bagaimana caranya nahan diri kalau
elu cuma berdua sama cewek cakep kayak Si Selvie."
Aku cuma diam, malu juga dong disepet-sepet kayak
gitu.
Aku lihati Si Alf sama Si Vivie, bukannya jalan-jalan
malahan masuk ke villa. Aku jadi tidak tahu harus
ngapain, aku cuma diam, semoga saja Ricky punya
bahan omongan yang bisa diomongin. Eh, bukannya
ngomong, dia malah diam juga, aku jadi benar-benar
bingung. Apa aku harus tetap begini atau nyari-nyari
bahan omongan. Akhirnya aku tidak tahan, baru saja
aku mau ngomong, eh... Si Ricky mulai buka mulut,
"Eh... kamu tidak dingin?" Duer... Aku kaget benar,
tidak jadi deh aku mau ngomong, sebenernya aku
memang mau ngomong kalau di sini itu dingin dan
aku mau ajak dia ke dalam. Tapi tidak jadi, aku tidak
sadar malah aku geleng-geleng kepala. Ricky
ngomong lagi, "Kalau tidak dingin, mau dong kamu
temenin aku di sini, lihat bulan dan bintang, dan...
bintang jatuh itu lihat...!" Ricky tiba-tiba teriak sambil
menunjuk ke langit. Akukontan berdiri kaget sekali,
bukan sama bintang jatuhnya, tapi sama teriakan Si
Ricky, aduh... malu benar jadinya. Ricky ikutan berdiri,
dia rangkul aku dari belakang, "Sorry, aku tidak punya
maksud ngagetin kamu. Cuma aku seneng saja bisa
lihat bintang jatuh bareng kamu."Aku cuma bisa diam,
tidak biasanya Ricky segini warm-nya sama aku. Dia
malah tidak pernah peluk aku seerat ini biasanya. Aku
tengok arlojiku, jam 11.00 malam. Kuajak Ricky ke
dalam, sudah malam sekali. Dia setuju sekali, begitu
masuk ke villa kami disambut sama bunyi pecah dari
lantai atas. Kontan saja kami lari ke atas melihat ada
apa di atas. Ricky sampai duluan ke lantai atas, dan
di nyengir, terus dia ajak aku turun lagi, tapi aku
masih penasaran, memang ada apa di atas. Waktu
aku mau ketuk pintu kamar Vivie, tiba-tiba ada
teriakan lembut, "Aw... ah... pelan-pelan donk!" Gila
aku kaget setengah mati, tapi tanganku sudahkeburu
ngetuk pintu. Terus kedengaran bunyi gedubrak-
gedubrak di dalam. Pintu dibuka sedikit, Alf nongol
sambil nyengir, "Sorry, ngeganggu kalian ya? tidak
ada apa-apa kok kami cuma..."Aku dorong pintunya
sedikit, dan aku lihat Si Vivie lagi sibuk nutupi
badannya pakai selimut. Dia nyengir, tapi mukanya
merah benar, malu kali ya. Aku langsung nyengir, "Ya
sudah, lanjutin saja, kami tidak keganggu kok."
Terus aku ajak Ricky ke bawah. Ricky nyengir, "Siapa
coba yang tidak bisa nahan diri, hehehe." Tiba-tiba
ada sandal melayang ke arah Ricky, tapi dia langsung
ngelak sambil nyengir, terus buru-buru lari ke bawah.
Aku ikut-ikutan lari sambil ketawa-ketiwi, dan kami
berdua duduk di sofa sambil mendengarkan lagu di
radio. Tidak lama kedengaran lagi suara-suara dari
atas.Aku tidak tahan dan langsung nunduk menahan
ketawa. Gila, bisa-bisanya mereka berdua meneruskan
juga olah raga malamnya, padahal sudah jelas-jelas
kepergok sama kami berdua. Eh, di luar dugaan aku,
Ricky bediri dan mengajakku slow-dance, kebetulan
lagu di radio itu lagu saat Ricky ngajak aku jadian.
Aku jadi ingat bagaimana deg-degannya waktu Ricky
ngomong, dan bagaimana aku akhirnya menerima dia
setelah tiga bulan dia terus nunggui aku. Ricky
memang baik, dan dia benar-benar setia
menungguiku.
Selesai dance, Ricky tanya lagi, "Eh kalau mereka
berdua ketiduran, aku tidur dimana? memang tidur
sama barang-barang?" aku malu sekali, bagaimana
ngomongnya. Tapi akhirnya akubuka mulut, "Kita...
kita tidur berdua." Wah lega sekali waktu omongan itu
sudah keluar. Tapiaku takut juga, bagaimana ya reaksi
Si Ricky. Eh tahunya dia malah nyengir, "Oke deh
kalau kamu tidak masalah. Sebenernya aku juga
sudah ngantuk sih, aku tidur sekarang ya." Aku jadi
salah tingkah, Ricky naik ke lantai atas dan tidak
sengaja aku panggil dia, "Eh... tunggu!" Ricky berbalik,
dia nyengir, "Oke... oke... ayo naik, tidak bagus anak
cewek sendirian malam-malam gini." Aku sedikit
canggung juga sih, baru kali ini aku tidur seranjang
sama cowok, tapi lama-lama hilang juga. Kami berdua
tidak ngapa-ngapain, cuma diam tidak bisa tidur. Dari
kamar sebelah masih kedengaran suara Vivie yang
mendesah dan menjerit, dan sepertinya itu juga yang
bikin Ricky terangsang. Dia mulai berani remas-remas
jariku. Aku sih tidak nolak, toh dia khan cowokku. Tapi
aku kaget sekali, Ricky duduk terus sebelum aku tahu
apa yang bakal dia lakukan,bibirku sudah dilumatnya.
Aku mau nolak, tapi kayaknya badan malah kepingin.
So, aku biarkan dia cium aku, terus aku balas
ciumannya yang semakin lama semakin buas.
Baru saja aku mulai nikmati bibirnya yang hangat di
bibirku, aku merasa ada yang meraba tubuhku,
disusul remasan halus di dadaku. Aku tahu itu Ricky,
aku tidak menolak. Aku biarkan dia main-main
sebentar di sana. Ricky makin berani, dia angkat
badanku dan diduduki di pinggir ranjang. Dia cium
aku sekali lagi, terus dia mau buka pakaian tidurku.
Aku tahan tangannya, ada sedikit penolakan di
kepalaku, tapi badanku kayaknya sudah kebelet ingin
mencoba, kayak apa sih nge-sex itu. Akhirnya
tanganku lemas, aku biarkan Ricky buka pakaianku,
dia juga buka baju dan celananya sendiri. Dia cuma
menyisakan celana dalam putihnya. Aku lihat penisnya
yang membayang di balik celana dalamnya, tapi aku
malu melihati lama-lama, so aku ganti lihat badannya
yang lumayan jadi. Mungkin karena olahraganya yang
benar-benar rajin.
Aku tidak tahu apa aku bisa tahan memuaskan Ricky,
soalnya aku tahu sendiri bagaimana staminanya
waktu dia main bola. 2x45 menit dia lari, dan dia
selalu kuat sampai akhir. Aku tidak terbayang
bagaimana aksinya di ranjang, jangan-jangan aku
harus menerima kocokannya2x45 menit. Gila, kalau
gitu sih aku bisa pingsan.
Waktu aku berhenti memikirkan stamina dia dan aku,
aku baru sadar kalau bra-ku sudah dilepasnya.
Sekarang dadaku telanjang bulat. Aku malu setengah
mati, mana Ricky mulai meremas dadaku lagi, yah
pokoknya aku tidak tahu harus bagaimana, aku cuma
diam, merem siap menerima apa saja yang bakal dia
lakukan. Tiba-tiba remasan itu berhenti, tapi ada
sesuatu yang hangat di sekitar dadaku, terus berhenti
di putingku. Aku melek sebentar, Ricky asik menjilati
putingku sambil sesekali mengisap-ngisap. Aku makin
malu, mana ini baru pertama kali aku telanjang di
depan cowok, apalagi dia bukan adik atau kakakku.
Wah benaran malu deh.

Lama-lama aku mulai bisa menikmati bagaimana
enaknya permainan lidah Ricky di dadaku, aku mulai
berani buka mata sambil melihat bagaimana Ricky
menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Tapi tiba-tiba aku
dikagetkan sesuatu yang menyentuh selangkanganku.
Tepat di bagian vaginaku. Aku tidak sadar mendesah
panjang. Rupanya Ricky sudah menelanjangiku bulat-
bulat. Kali ini jarinya mengelus-elus vaginaku yang
sudah basah sekali. Dia masih terus menjilati puting
susuku yang sudah mengeras sebelum akhirnya dia
pindah ke selangkanganku.
Aku menarik nafas dalam-dalam waktu lidahnya yang
basah dan hangat pelan-pelan menyentuh vaginaku
naik ke klitoris-ku, dan waktu lidahnya itu menyentuh
klitoris-ku, aku tidak sadar mendesah lagi, dan
tanganku tidak sengaja menyenggol gelas di meja
dekat ranjangku. Lalu "Prang..." gelas akhirnya pecah
juga. Ricky berhenti, kayaknya dia mau memberesi
pecahan kacanya. Tapi entah kenapa, mungkin karena
aku sudah larut dalam nafsu, aku malah pegang
tangannya terus aku menggeleng, "Barkan saja, nanti
aku beresin. Lanjutin... please..."
Sesudah itu aku lihat Ricky nyengir, terus diciumnya
bibirku dan dia melanjutkan permainannya di
selangkanganku. Ricky benar-benar jago mainkan
lidahnya, benar-benar bikin aku merem-melek
keenakan. Terus di mulai melintir-melintir klitorisku
pakai bibirnya. Aku seperti kesetrum tidak tahan, tapi
Ricky malah terus-terusan melintir-melintiri "kacang"-
ku itu. "Euh... ah... ah... ach... aw..." aku sudah tidak
tahu bagaimana aku waktu itu, yang jelas mataku
buram, semua serasa mutar-mutar. Badanku lemas
dan nafasku seperti orang baru lari marathon. Aku
benar-benar pusing, terus aku memejamkan mataku,
ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku mulai dari
selangkanganku, ke pinggul, dada dan akhirnya bikin
badanku kejang-kejang tanpa bisa aku kendalikan.
Aku coba atur nafasku, dan waktu aku mulai tenang,
aku buka mata, Ricky sudah buka celana dalamnya,
dan penisnya yang hampir maksimal langsung berdiri
di depan mukaku. Dia megangi batang penisnya pakai
tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku.
Aku tahu dia mau di-"karoake"-in, ada rasa jijik juga
sih, tapi tidak adil dong, dia sudah muasin aku,
masaaku tolak keinginannya. So aku buka mulutku,
aku jilat sedikit kepala penisnya. Hangat dan bikin aku
ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi, terus dan
terus. Ricky duduk di ranjang, kedua kakinya dibiarkan
terlentang. Aku duduk di ranjang, terus aku bungkuk
sedikit, aku pegang batang penisnya yang besarnya
lumayan itu pakai tangan kiriku, tangan kananku
menahan badanku biar tidak jatuh dan mulutku mulai
bekerja.
Mula-mula cuma menjilati, terus aku mulai emut
kepala penisnya, aku hisap sedikit terus kumasukkan
semuanya ke mulutku, ternyata tidak masuk, kepala
penisnya sudah menyodok ujung mulutku, tapi masih
ada sisa beberapa senti lagi. Aku tidak maksakan, aku
gerakkan naik-turun sambil aku hisap dan sesekali
aku gosok batang penisnya pakai tangan kiriku. Ricky
sepertiya puas juga sama permainanku, dia mrlihati
bagaimana aku meng-"karaoke"-in dia sambil
sesekali membuka mulut sambil sedikit berdesah.
Sekitar 5 menit akhirnya Ricky tidak tahan, dia
berdiridan mendorong badanku ke ranjang sampai aku
terlentang, dibukanya pahaku agak lebar dandijilatnya
sekali lagi vaginaku yang sudah kebanjiran. Terus
dipegangnya penisnya yang sudah sampai ke ukuran
maksimal. Dia mengarahkan penisnya ke vaginaku,
tapi tidak langsung dia masukan, dia gosok-gosokkan
kepala penisnya ke bibir vaginaku, baru beberapa detik
kemudian dia dorong penisnya ke dalam. Seperti ada
sesuatu yang maksa masuk ke dalam vaginaku,
menggesek dindingnya yang sudah dibasahi lendir.
Vaginaku sudah basah, tetap saja tidak semua penis
Ricky yang masuk. Dia tidak memaksa, dia cuma
mengocok-ngocok penisnya di situ-situ juga. Aku
mulai merem-melek lagi merasakan bagaimana
penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku, benar-
benar nikmat. Waktu aku asik merem-melek, tiba-tiba
penis Ricky maksa masuk terus melesak ke dalam
vaginaku. "Aw... ah..." vaginaku perih bukan main dan
aku teriak menahan sakit. Ricky masih menghentak
dua atau tiga kali lagi sebelum akhirnya seluruh
penisnya masuk merobek selaput daraku. "Stt... tahan
sebentar ya, nanti juga sakitnya hilang." Ricky
membelai rambutku. Di balik senyum nafsunya aku
tahu ada rasa iba juga, karena itu aku bertekad
menahan rasa sakit itu, aku menggelengkan kepala,
"Tidak apa-apa... aku tidak apa-apa. Terusin saja...
ah..."
Ricky mulai menggerakkan pinggangnya naik-turun.
Penisnya menggesek-gesek vaginaku, mula-mula
lambat terus makin lama makin cepat. Rasa sakit dan
perihnya kemudian hilang digantikan rasa nikmat luar
biasa setiap kali Ricky menusukkan penisnya dan
menarik penisnya. Ricky makin cepat dan makin keras
mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek
tidak tahan merasakan nikmat yang terus-terusan
mengalir dari dalam vaginaku. "Tidak lama lagi... tidak
bakalan lama lagi..." Ricky ngomong di balik nafasnya
yang sudah tidak karuan sambil terus mengocok
vagina aku. "Aku juga... ah... oh... sebentar lagi... ah...
aw... juga..." aku ngomong tidak jelas sekali, tapi
maksudnya aku mau ngomong kalau aku juga sudah
hampir sampai klimaks. Tiba-tiba Ricky mencabut
penisnya dari vaginaku, dia tengkurapi aku, aku
sendiri sudah lemas tidak tahu Ricky mau apa, tapi
secara naluri aku angkat pantatku ke atas, aku tahan
pakai lututku dan kubuka pahaku sedikit. Tanganku
menahan badanku biar tidak ambruk dan aku siap-
siap ditusukdari belakang.
Beneran saja Ricky memasukkan penisnya ke vaginaku
dari belakang, terus dia kocok lagi vaginaku. Dari
belakang kocokan Ricky tidak terlalu keras, tapi makin
cepat. Aku sudah sekuat tenaga menahan badanku
biar tidak ambruk, dan aku rasakan tangan Ricky
meremas-remas dadaku dari belakang, terus jarinya
menggosok-gosok puting susuku, bikin aku seperti
diserang dari dua arah, depan dan belakang. Ricky
kembali mengeluarkan penisnya dari vaginaku, kali ini
dimasukkannya ke anusku. Dia benar-benar
memaksakan penisnya masuk, tapi tidak semuanya
bisa masuk. Ricky sepertinya tidak peduli, dia
mengocok anusku seperti mengocok vaginaku, kali ini
cuma tangan kirinya yang meremas dadaku, tangan
kanannya sibuk main-main di selangkanganku, dia
masukkan jari tengahnya ke vaginaku dan jempolnya
menggosoki klitorisku.
Aku makin merem-melek, anusku dikocok-kocok,
klitorisku digosok-gosok, dadaku diremas-remas dan
putingnya dipelintir-pelintir, terus vaginaku dikocok-
kocok juga pakai jari tengahnya. Aku benar-benar
tidak kuat lagi, akhirnya aku klimaks, dan aku
merasakan Ricky juga sampai klimaks, dari anusku
kerasa ada cairan panas muncrat dari penis Ricky.
Akhirnya aku ambruk juga, badanku lemas semua. Aku
lihat Ricky juga ambruk, dia terlentang di sebelahku.
Badannya basah karena keringat terus, kupegang
badanku, ternyata aku juga basah keringatan. Benar-
benar kenikmatan yang luar biasa.Tidak tahu berapa
lama aku ketiduran, waktu akhirnya aku bangun. Aku
lihat arloji, sudah jam 2 subuh. Leherku kering, tapi
waktu aku mau minum, aku ingat gelas di kamarku
sudah pecah gara-gara kesenggol. Aku lihat ke lantai,
banyak pecahan kaca, terus aku ambil sapu, aku sapu
dulu ke pinggir tembok. Aku turun ke bawah,
maksudnya sih mau ambil minum di bawah, aku
masih telanjang sih, tapi aku cuek saja. Aku pikir si Alf
pasti masih tidur soalnya dia pasti capai juga olah
raga malam bareng Si Vivie.
Aku turun dan mengambil air dingin di kulkas.
Kebetulan villanya Vivie lumayan mewah, ada kulkas
dan TV. Aku ambil sebotol Aqua, terus sambil jalan
aku minum. Aku duduk di sofa, rencananya sih aku
cuma mau duduk-duduk sebentar soalnya di kamar
panas sekali. Tidak tahu kenapa, tapi aku akhirnya
ketiduran dan waktu aku bangun aku kaget setengah
mati. Aku lihatSi Alf dengan santainya turun dari
tangga langsung menuju kulkas, kayaknya mau
minum juga.
Aku bingung harus menutupi badanku pakai apa, tapi
aku telat Si Alf sudah membalik duluan dan dia
melongo melihat aku telanjang di depannya. Dia
masih melihatiku waktu aku menutupi selangkanganku
pakai tangan, tapi aku sadar sekarang dadaku
kelihatan, makanya tanganku pindah lagi ke dada,
terus pindah lagi ke bawah, aku benar-benar bingung
harus bagaimana, aku malu setengah mati.
Alf akhirnya berbalik,
"Sorry, aku pikir kamu masih tidur di kamar. Jadi...
jadi..."
"Tidak apa-apa, ini salahku."
Aku masih mencari-cari sesuatu untuk menutupi
badanku yang telanjang polos, waktu akhirnya aku
juga sadar kalau Alf juga telanjang. Sepertinya dia
pikir aku masih di kamar sama Si Ricky, makanya dia
cuek saja turun ke bawah. Aku pikir sudah terlambat
untuk malu, toh Alf sudah melihatku dari atas sampai
ke bawah polos tanpa sehelai benangpun, apalagi
aku sudah tidak perawan lagi, so malu apa. Cuek saja
lah. "Kamu sudah boleh balik, aku tidak apa-apa."
Aku mengambil remot TV terus menyalakan TV. Aku
setel VCD, aku pikir bagus juga aku rileks sebentar
sambil nonton TV. Alf juga sepertinya sudah cuek, dia
berbalik tapi tidak lagi melongo melihatiku telanjang,
dia duduk sambil ikut nonton TV.
Gilanya yang aku setel malah VCD BF. Tapi sudah
tanggung, aku tonton saja, peduli amat apa kata Si
Alf, yang penting aku bisa istirahat sambil nonton TV.
"Bagaimana semalem?" aku buka percakapan dengan
Alf.
Dia berbalik, "Hebat, Vivie benar-benar hebat."
Alf sudah bisa nyengir seperti biasanya.
Aku mengangguk, "Ricky juga hebat, aku hampir
pingsan dibikinnya."
Alf nyengir lagi, lalu kami ngobrol sambil sesekali
menengok TV. Kayaknya tidak mungkin ada cowok
yang tahan ngobrol tanpa mikirin apa-apa sama
cewek yang lagi telanjang, apalagi sambil nonton film
BF. Tiap kali ngomong aku tahu mata Alf selalu
nyasar ke bawah, ka dadaku yang memang lumayan
menggoda. Aku tidak memuji sendiri, tapi memang
dadaku cukup oke, ranum menggoda, bahkan lebih
seksi dari kepunyaan Vivie, itu sebabnya Alf tidak
berhenti-berhenti melihati dadaku kalau ada
kesempatan. Ada sedikit rasa bangga juga dibalik rasa
maluku,dan sekilas kulihat penis Alf yang mulai
tegang. Aku nyengir dan sepertinya Alf tahu apa yang
aku pikirkan.
Dia pegang tanganku, "Boleh aku pegang, itu juga
kalau kamu tidak keberatan." Wah berani juga dia, aku
jadi sedikit tersanjung, terus aku mengangguk. Alf
pindah ke sebelahku, dia peluk aku dan tangannya
mulai remas-remas dadaku. Mula-mula dia sedikit
ragu-ragu, tapi begitu tahu kalau aku tidak nolak dia
mulai berani dan makin lama makin berani, dan
jarinya mulai nakal memelintir puting susuku. Aku
mulai merem-melek sambil memutar badanku.
Sekarang aku duduk di paha Alf berhadap-hadapan.
Alf langsung menyambar putingku dan lidahnya
langsung beraksi. Aku sendiri sudah kebawa nafsu,
aku mulai mengocok penisnya pakai tanganku dan
sepertinya Alf juga puas dengan permainanku. Aku
mulai terbawa nafsu, dan aku sudah tidak peduli apa
yang dia lakukan, yang jelas enak buatku.
Alf menggendongku, kupikir mau dibawa ke kamar
mandi, soalnya kamar di atas ada Vivie sama Ricky,
tapi tebakanku keliru. Dia malah menggendongku ke
luar, ke halaman villa. Aku kaget juga, bagaimana
kalau ada yang lihat kami telanjang di luar. Tapi
begitu Alf buka pintu luar, aku melihat di seberang
villa, sepasang cowok-cewek lagi sibuk nge-sex.
Cewek itu mendesah-desah sambil sesekali berteriak.
Aku lihat lagi ke sekitarnya, ternyata banyak juga yang
nge-sex di sana. Rupanya villa-villa di sekitar sini
memang tempatnya orang-orang nge-sex.
"Bagaimana? kita kalahkan mereka?" Alf nyengir
sambil menggendongku. Aku ikutan nyengir, "Siapa
takut?" terus Alf meniduriku di rumput. Dingin juga
sisa air hujan yang masih membasahi rumput,
punggungku dingin dan basah tapi dadaku lebih
basah lagi sama liurnya Si Alf. Udara di luar itu benar-
benar dingin, sudah di pegunungan, subuh-subuh
lagi. Wah tidak terbayang bagaimana dinginnya deh.
Tapi lama-lama rasa dingin itu hilang, aku malah
makin panas dan nafsu, apalagi Alf jago benar
mainkan lidahnya. Sayup-sayup aku mendengarkan
suara cewek dari villa seberang yang sudah tidak
karuan dan tidak ada iramanya. Aku makin nafsu lagi
mendengarnya, tapi Alf sepertinya lebih nafsu lagi, dia
itu seperti orang kelaparan yang seolah bakal nelan
dua gunung kembarku bulat-bulat.
Lama juga Alf main-main sama dadaku, dan akhirnya
dia pegang penisnya minta aku meng-"karaokei"-in
itu penis yang besarnya lumayan juga. Gara-gara tadi
malam aku sudah mencoba meng-"karaokei"-in penis
Ricky, sekarang aku jadi kecanduan, aku jadi senang
juga meng-"karaoke"-in penis, apalagi kalau besarnya
lumayan seperti punya Si Alf. Makanya tidak usah
disuruh dua kali, langsung saja aku caplok itu penis.
Aku tidak mau kalah sama permainan dia di dadaku,
aku hisap itu penis kuat-kuat sampai kepalanya jadi
ungu sekali. Terus kujilati mulai dari kepalanya
sampai batang dan pelirnya juga tidak ketinggalan.
Kulihat Alf melihati bagaimana aku main di bawah
sana. Sesekali dia buka mulut sambil berdesah
menahan nikmat. Aku belum puas juga, kukocok
batang penisnya pakai tanganku dan kuhisap-hisap
kepalanya sambil kujilati pelan-pelan. Alf merem-
melek juga dan tidak lama dia sudah tidak tahan lagi,
sepertinya sih mau keluar, makanya dia cepat-cepat
melepaskan penisnya dari mulutku. Aku tahu dia tidak
mau selesai cepat-cepat, makanya aku tidak ngotot
meng-"karaoke"-in penisnya lagi.
Alf sengaja membiarkan penisnya istirahat sebentar,
dia suruh aku terlentang sambil mengangkang. Aku
menurut saja, aku tahu Alf jago mainkan lidahnya,
makanya aku senang sekali waktu dia mulai jilati bibir
vaginaku yang sudah basah sekali. Benar saja, baru
sebentaraku sudah dibikin merem-melek gara-gara
lidahnya yang jago sekali itu. Sepertinya habis semua
bagian vaginaku disapu lidahnya, mulai dari bibirnya,
klitorisku, sedikit ke dalam ke daerah dinding dalam,
sampai anusku juga tidak ketinggalan dia jilati.
Aku dengarkan, sepertinya pasangan di seberang
sudah selesai main, soalnya sudah tidak kedengaran
lagi suaranya, tapi waktu aku lihat ke sana, aku
kaget. Cewek itu lagi meng-"karaoke"-in cowok, tapi
bukan cowok yang tadi. Cowok yang tadi nge-sex
sama dia lagimembersihkan penisnya, mungkin dia
sudah puas. Sekarang cewek itu lagi meng-"karaoke"-
in cowok lain, lebih tinggi dari cowok yang tadi. Gila
juga itu cewek nge-sex sama dua cowok sekaligus.
Tapi aku tarik lagi omonganku, soalnya aku ingat-
ingat, aku juga sama saja sama dia. Baru selesai
sama Ricky, sekarang sama Alf. Wah ternyata aku juga
sama gilanya. Aku nyengir sebentar, tapi terus merem-
melek lagi waktu Alf mulai melintir-melintir klitorisku
pakai bibirnya.
Alf benar-benar ahli, tidak lama aku sudah mulai
pusing, aku lihat bintang di langit jadi tambah banyak
dan kayaknya mutar-mutar di kepalaku. Aku benar-
benar tidak bisa ngontrol badanku. Ada semacam
setrum dari selangkanganku yang terus-terusan bikin
aku gila. "Ah... ah... Alf... Ah... berhenti dulu Alf... Ah...
Ah... Shhh..." aku tidak tahan sama puncak nafsuku
sendiri. Tapi Alf malah terus-terusan melintir-melintir
klitorisku. Aku benar-benar tidak tahan lagi, aku
kejang-kejang seperti orang ayan, tapi sudahnya
benar-benar enak sekali, beberapa menit lewat, semua
badanku masih lemas, tapi aku tahu ini belum selesai.
Sekarang bagianku bikin Alf merem-melek, makanya
aku paksakan duduk dan mulai menungging di depan
Alf. Alf sendiri sepertinya memang sudah tidak tahan
ingin mengeluarkan maninya, dia tidak menunggu
lama lagi, langsung dia tusukkan itu penis ke
vaginaku. Ada sedikit rasa sakit tapi tidak sesakit
pertama vaginaku dimasukkan penis Ricky. Alf tidak
menunggu lama lagi, dia langsung mengocok
vaginaku dan tangannya tidak diam, langsung
disambarnya dadaku yang makin ranum karena aku
menungging. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir
putingnya. Aku tidak tahan digituin, apalagi badanku
masih lemas, tanganku lemas sekali, untuk menahan
hentakan-hentakan waktu Alf menyodokkan penisnya
saja sudah tidak kuat. Aku ambruk ke tanah, tapi Alf
masih terus mengocokku, dari belakang.
"Ah... euh... ah... aw..." aku cuma bisa mendesah
setiap kali Alf menyodokkan penisnya ke vaginaku.
Aku coba mengangkat badanku tapi aku tidak kuat,
akhirnya aku menyerah, aku biarkan badanku ambruk
seperti gitu. Alf memutarkan badanku, terus
disodoknya lagi vaginaku dari depan. Aku sudah tidak
bisa ngapa-ngapain, setiap kali Alf menyodokkan
penisnya selain dinding vaginaku yang tergesek,
klitorisku juga tergesek-gesek, makanya aku makin
lemas dan merem-melek keenakan.
Alf memegang kaki kiriku, terus diangkatnya ke bahu
kanannya, terus dia mengangkat kaki kananku,
diangkatnya ke bahu kirinya. Aku diam saja, tidak bisa
menolak, posisi apa yang dia ingin terserah, pokoknya
aku ingin cepat-cepat disodok lagi. Aku tidak tahan
ingin langsung dikocok. Ternyata keinginanku
terkabul, Alf menyodokku lagi, kakiku dua-duanya
terangkat, mengangkang lagi, makanya vaginaku
terbuka lebih lebar dan Alf makin leluasa mengocok-
ngocokkan penisnya. Vaginaku diaduk-aduk dan aku
bahkan sudah tidak bisa lagi berdesah, aku cuma bisa
buka mulut tapi tidak ada suara yang keluar.
"Aku mau keluar, aku mau keluar..." Alf membisikkan
sambil ngos-ngosan dan masih terus mengocokku.
"Jangan di... jangan di dalam. Ah... ah... oh... aku...
aku tidak mau... hamil."
Aku cuma bisa ngomong gitu, seenggannya maksud
aku ngomong gitu, aku tidak tahu apa suaraku keluar
atau tidak, pokoknya aku sudah usaha, itu juga sudah
aku paksa-paksakan. Aku tidaktahu apa Alf ngerti
apa yang aku omongin, tapi yang jelas dia masih
terus mengocokku.
Baru beberapa detik lewat, dia mencabut penisnya,
kakiku langsung ambruk ke tanah. Alf mengangkang
di perutku, dan dia selipkan penisnya ke sela-sela
dadaku yang sudah montok sekali soalnya aku sudah
dipuncak nafsu. Kujepit penisnya pakai dadaku, dan
Alf mengocok-ngocok seolah masih di dalam
vaginaku. Tidak lama maninya muncrat ke muka dan
sisanya di dadaku. Aku sendiri klimaks lagi,
kulepaskan tanganku dari dadaku, maninya mengalir
ke leherku, dan mani yang di pipiku mengalir ke
mulutku. Aku bahkan tidak bisa menutup mulutku, aku
terlalu lemas. Aku biarkan saja maninya masuk dan
aku telan saja sekalian.
Belum habis lemasku, Alf sudah menempelkan
penisnya ke bibirku. Aku memaksakan menjilati
penisnya sampai bersih terus aku telan sisa maninya.
Alf menggendongku ke dalam, terus dia
membaringkanku di sofa. Aku lemas sekali makanya
aku tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Yang jelas baru jam 8.00 aku baru bangun. Begitu aku
buka mata, aku sadar aku masih telanjang. Aku
memaksakan duduk, dan aku kaget kenapa aku ada
di kamar Vivie. Terus yang bikin aku lebih kaget lagi,
aku lihat sebelah kiriku Alf masih tidur sedangkan di
kananku Ricky juga masih tidur. Mereka berdua juga
masih telanjang seperti aku.
Belum habis kagetku, Vivie keluar dari kamar mandi di
kamarku, dia lagi mengeringkan rambutnya dan
sama-sama masih telanjang. Baru akhirnya aku tahu
kalau semalam Vivie bangun dan melihat aku lagi
nge-sex sama Alf. dia sih tidak marah, soalnya yang
penting buat dia Alf cinta sama dia, soal Alf
memuaskan nafsu sama siapa, tidak masalah buat
dia. Ternyata Vivie melihat dari jendela bagaimana
aku sama Alf nge-sex dan Ricky yang juga bangun
subuh-subuh kaget melihat aku lagi nge-sex sama
Alf. Dia keluar kamar, sepertinya mau melihat apa
benar aku lagi nge-sex sama Alf, tapi dia sempat
menengok ke kamar sebelah dan melihat Vivie yang
lagi nonton aku sama Alf nge-sex dari jendela. Ricky
langsung dapat ide, so dia masuk ke dalam dan
mengajak Vivie nge-sex juga. Singkat cerita mereka
akhirnya nge-sex juga di kamar. Dan waktu aku sama
Alf selesai, Alf menggendongku ke atas dan melihat
Ricky sama Vivie baru saja selesai nge-sex. Makanya
kami berempat akhirnya tidur bareng di kamarnya
telanjang bulat.
Hehehe, tidak masalah, kami berempat malah makin
dekat. Nanti malam juga kami bakalan nge-sexlagi
berempat, tidak masalah buat aku Ricky atau Alf yang
jadi pasanganku, yang penting aku puas. Tidak
masalah siapa yang muasin aku.
Seperti rencana kami semula, malam itu juga kami
nge-sex berempat bareng-bareng. Asik juga sekali-kali
nge-sex bareng seperti gitu. Ricky masih tetap oke
walaupun dia sudah ngocok Vivie duluan. Aku masih
kewalahan menghadapi penisnya yang memang gila
itu. Alf juga tidak kalah, biarkan dia masih ngos-
ngosan waktu selesai ngocok aku, dia langsung
sambar Vivie yang juga baru selesai sama Ricky. Terus
kami nge-sex lagi sampai akhirnya sama-sama puas.
Aku puas sekali, soalnya baru kali ini aku dipuasi dua
cowok sekaligus tanpa jeda. Baru saja selesai satu,
yang satunya sudah menyodok-nyodok penisnya ke
vaginaku. Pokoknya benar-benar puas sekali deh aku.
Masuk ke cerita, malam ini kami rencana tidak akan
nge-sex lagi, soalnya sudah capai sekali dua hari
gituan melulu. Makanya Ricky sama Alf langsung
menghilang begitu matahari mulai teduh. Mereka sih
pasti main bola lagi, tidak bakalan jauh dari itu. Vivie
menghabiskan waktunya di villa, kayaknya dia capai
sekali, hampir seharian dia di kamar. Aku jadi bosan
sendirian,makanya aku putuskan aku mau jalan-jalan.
Kebetulan di dekat situ ada air terjun kecil.
Akurencana mau menghabiskan hari ini berendam di
sana, biar badanku segar lagi dan siap tempur lagi.
Aku tidak langsung ke air terjun, aku jalan-jalan dulu
mengelilingi kompleks villa itu. Besar juga, dan
villanya keren-keren. Ada yang mirip kastil segala.
Sepanjang jalan aku ketemu lumayan banyak orang,
rata-rata sih orang-orang yang memang lagi
menghabiskan waktu di villa sekitar sini. Hampir
semua orang yang ketemu melihati aku. Dari mulai
cowok keren yang adadi halaman villanya, om-om
genit yang sibuk menggodai cewek yang lewat sampai
tukang kebun di villa juga melihati aku. Aku sih cuma
nyengir saja membalas mata-mata keranjang mereka.
Tidak aneh sih kalau mereka melihatiku, masalahnya
aku memang pakai baju pas-pasan, atasanku kaos
putih punyanya Si Vivie yang kesempitan soalnya
kamarku dikunci dan kuncinya terbawa Ricky. Aku
malas mencari dia, makanya aku pakai saja kaos Si
Vivie yang ada di meja setrika. Itu juga aku tidak
pakai bra, soalnya bra Vivie itu sempit sekali di aku.
memang sih dadaku jadi kelihatan nonjol sekali dan
putingnya kelihatan dari balik kaos sempit itu, tapi
aku cuek saja, siapa yang malu, ini kan kawasan villa
buat nge-sex, jadi suka-suka aku dong.
Oh ya aku jadi lupa, bawahan aku lebih gila lagi. Aku
tidak tega membangunkan Vivie cuma untuk minjam
celana atau rok, kebenaran saja ada Samping Bali
pengasih Ricky bulan lalu, ya aku pakai saja. Aku ikat
di kananku, tapi tiap kali aku melangkah, paha
kananku jadi terbuka, ya cuek saja lah. Apa salahnya
sih memarkan apa yang bagus yang aku punya, benar
tidak?
Singkat cerita, aku sampai ke air terjun kecil itu. Aku
jalan-jalan mencari tempat yang enak buat berendam.
Kaosku mulai basah dan dadaku makin jelas
kelihatan, apalagi Samping yang aku pakai, sudah
basah benar-benar kena cipratan air terjun. Enak juga
sih segar, tapi lama-lama makin susah jalannya,
soalnya Samping aku jadi sering keinjak. Aku jadi
ingin cepat-cepat berendam, soalnya segar sekali
airnya, dan waktu aku menemui tempat yang enak,
aku siap-siap berendam, aku lepas sandalku. Tapi
waktu aku mau melepas Samping-ku tiba-tiba ada
tangan yang memegang bahuku, aku berbalik ternyata
seorang cowok menodongi pisau lipat ke leherku. Aku
kaget camput takut, tapi secara naluri aku diam saja,
salah-salah leherku nanti digoroknya.
"Mau... mau apa lo ke gue?" aku tanya ke orang yang
lagi nodong pisau ke aku. Aku tidak berani lihat
mukanya, soalnya aku takut sekali. Ternyata cowok
itu tidak sendiri, seorang temannyamuncul dari balik
batu, rupanya mereka memang sudah ngincar aku dari
tadi. Temannya itu langsung buka baju dan celana
jeans-nya. Aku tebak kalau mereka mau memperkosa
aku. Ternyata tebakanku benar, orang yang
menodongi pisau bicara, "Sekarang lo buka semua
baju lo, cepet sebelum kesabaran gue habis!" Aku jadi
ingat bagaimana korban-korban perkosaan yang
akulihat di TV, aku jadi ngeri. Jangan-jangan begitu
mereka selesai perkosa aku, aku dibunuh. Makanya
aku beranikan diri ngomong kalau aku tidak
keberatan muasin mereka asal mereka tidak bunuh
aku.
"Oke... oke, aku buka baju. Kalem saja, aku tidak
masalah muasin elu berdua, tapi tidak usah pakai
nodong segala dong." Aku berusaha ngomong,
padahal aku lagi takut setengah mati. Orang yang
nodongin pisau malah membentak aku, "Goblok,
mana ada cewek mau diperkosa, elu jangan macem-
macem ya!" Aku makin takut, tapi otakku langsung
bekerja, "Santai dong, emangnya gue berani pakai
baju ginian kalau gue tidak siap diperkosa orang?
Lagian apa gue bisa lari pakai samping kayak
ginian?" Kedua orang itu melihati aku, terus akhirnya
pisau itu dilipat lagi. Aku lega setengah mati, tapi ini
belum selesai, aku masih harus puasin mereka dulu.
Aku mulai buka Samping-ku, "Maunya bagaimana,
berdua sekaligus atau satu-satu?" Orang yang tadi
nodongin pisau melihat ke orang yang satunya, "Eloe
dulu deh. Gue lagi tidak begitu mood." Temannya
mengangguk-angguk dan langsung mencaplok
bibirku. Aku lihat-lihat, ganteng juga nih orang. Aku
balas ciumannya, dia sepertinya mulai lebih halus,
pelan-pelan dia remas dadaku dan tahu-tahu aku
sudah ditiduri di atas batu yang lumayan besar. Dia
tidak langsung main sodok, dia lebih senang main-
main sama dadaku, makanya aku jadi lebih rileks, so
aku bisa menikmati permainannya.
"Ah... yeah... ah... siapa... siapa nama loe?" aku tanya
dibalik desahan-desahanku menahan nikmat. Dia
nyengir, mirip sekali Si Alf, dia terus membuka celana
dalam birunya, dan penisnya yang sudah tegang
sekali langsung nongol seperti sudah tidak sabar ingin
menyodokku. Tidak usah disuruh, aku langsung
jongkok, tanganku memegang batangnya dan
ternyata masih menyisa sekitar 5 - 7 senti. Aku jilat
kepala penisnya terus aku kulum-kulum penisnya. Dia
mulai menikmati permainanku, "Oke... terus... terus...
Yeah..." Ternyata ada juga cowok yang suka
berdesah-desah kayak gitu kalau lagi nge-sex. Aku
berhenti sebentar,
"Belum dijawab?"
"Oh, sorry. Nama gue Jeff."
Dia menjawab sambil terus merem-melek menikmati
penisnya yang aku kulum dan kuhisap-hisap. Kulihat-
lihat sepertinya aku kenal suaranya.
"Elo tinggal di sini juga ya, elu yang lusa kemarin
ngentot di halaman villa?"
Jeff kaget juga waktu aku ngomong gitu.
"Memang elu tahu dari mana?"
Aku nyengir terus aku teruskan lagi menghisap
penisnya yang sudah basah sekali sama liurku.
Aku berhenti lagi sebentar, "Gue lihat elu. Gila lu ya !
berdua ngentotin cewek, keliatannya masih kecil lagi."
Jeff nyengir, "Itu adik kelas gue, dia baru 15 tahun,
tapi bodinya oke sekali. Gue ajakin ke sini, dan gue
entot bareng Si Lex. Dia sendiri sepertinya suka
digituin sama kami berdua." Aku tidak meneruskan
lagi, aku berhenti dan langsung cari posisi yang enak
buat nungging. Jeff mengerti maksudku, dia langsung
menyodok penisnya ke vaginaku bareng sama suara
eranganku. Terus dia mulai mengocok, mulanya sih
pelan-pelan terus tambah cepat. Terus dan terus, aku
mulai merem-melek dibikinnya. Terus dia cabut
penisnya, aku digendong dan dia masukkan penisnya
lagi ke vaginaku. Terus dia mengocok aku sambil
bediri, seperti gaya ngocoknya Tom Cruise di film Jerry
Maguire. Vaginaku seperti ditusuk-tusuk keras sekali
dan aku makin merem-melek dibuatnya. Dan akhirnya
aku tidak tahan lagi, aku kejang-kejang dan aku
menjerit panjang. Pandanganku kabur, dan aku
pusing. Aku hampir saja jatuh kalau Jeff tidak cepat-
cepat memegangi pinggangku.
Aku lagi nikmati puncak kepuasanku, tiba-tiba
seorang sedang mendekatiku, sepertinya sekarang dia
nafsu sekali gara-gara mendengarkan desahan-
desahanku. Dia sudah telanjang dan penisnya sudah
tegang sekali. Aku tahu dari mukanya kalau dia sedikit
kasar, makanya aku tidak banyak cing-cong lagi, aku
langsung maksakan bangun dan jongkok
meng-"karaoke"-in penisnya. Penisnya sih tidak
besar-besar sekali, tapi aku ngeri juga melihat otot-
otot di sekitar paha dan pantatnya. Jangan-jangan
dia kalau ngocok sekeras-kerasnya. Bisa-bisa
vaginaku jebol.
Lama juga aku meng-"karaoke"-in penisnya, dan
akhirnya dia suruh aku berhenti. Aku menurut saja,
dan langsung ambil posisi menungging. Aku sudah
pasrah kalau dia bakal menyodok-nyodok vaginaku,
tapi kali ini tebakanku salah. Dia tidak masukkan
penisnya ke vaginaku, tapi langsung ke anusku. "Ah...
aduh..." anusku sakit soalnya sama sekali tidak ada
persiapan. Tapi rupanya Lex tidak peduli, dia tetap
maksakan penisnya masuk dan memang akhirnya
masuk juga. Walaupun penisnya kecil tapi kalau
dipakai nyodok anus sih ya sakit juga. Benar dugaan
aku, dia kalau nyodok keras sekali terus tidak pakai
pemanasan-pemanasan dulu, langsung kecepatan
tinggi. Aku cuma bisa pasrah sambil menahan perih di
anusku. Dadaku goyang-goyang tiap kali dia
menyodok anusku, dan sepertinya itu membuat dia
makin nafsu. Dia tambah kecepatan dan mulai
meremas dadaku.
Benar-benar kontras, dia mengocok anusku cepat dan
keras, tapi dia meremas dadaku halus sekali dan
sesekali melintir-melintir putingnya. Mendadak rasa
sakit di anusku hilang, aku mulai merasakan
nikmatnya permainan tangannya di dadaku. Belum
habis aku nikmati dadaku diremas-remas, tangan
kirinya turun ke vaginaku dan langsung menyambar
klitorisku, mulai dari digosok-gosok sampai dipelintir-
pelintir. Rasa sakit kocokannya sudah benar-benar
hilang, sekarang aku cuma merasakan nikmatnya
seluruh tubuhku.
Aku mulai merem-melek kegilaan dan akhirnya aku
sampai ke puncak yang kedua kalinya hari itu, dan
bersamaan puncak kenikmatanku, aku merasakan
cairan hangat muncrat di anusku, aku tahu Lex juga
sudah sampai puncak dan aku sudah lemas sekali,
akhirnya aku ambruk. Mungkin aku kecapaian soalnya
tiga hari ini aku terus-terusan mengocok, tidak sama
satu orang lagi, selalu berdua. Aku masih sempat lihat
Jeff menggendong aku sebelum akhirnya aku pingsan.
Aku tidak tahu aku dimana, tapi waktu aku bangun,
aku kaget melihat Ricky lagi mengocok cewek. Cewek
itu sendiri sibuk mengulum-ngulum penisnya Alf. Aku
paksakan berdiri, dan waktu aku lihat di sofa sebelah,
ada pemandangan yang hampir sama, bedanya Jeff
yang lagi sibuk mengocok cewek dan aku lihat-lihat
ternyata cewek itu Vivie. Vivie juga sibuk mengulum-
ngulum penis Lex. Aku jadi bingung, tapi aku tetap
diam sampai mereka selesai main.
Terus aku dikenali sama cewek mungil yang tadi nge-
sex bareng Ricky dan Alf, namanya Angel. Aku baru
ingat kalau tadi aku pingsan di air terjun habis
muasin Jeff sama Lex. Ternyata Jeff bingung mau
bawa aku ke mana, kebenaran Ricky dan Alf lewat.
Mereka sempat ribut sebentar, tapi akhirnya akur lagi,
dengan catatan mereka bisa menyicipi Angel
ceweknya Jeff sama Lex. Angel sendiri setuju saja
sama ajakan Ricky sama Alf, dan waktu mereka lagi
mengocok, Vivie kebetulan lewat. Alf memanggil dia
dan dikenali sama Jeff dan Lex, terus mereka
akhirnya nge-sex juga. Makin asik juga, sekarang
tambah lagi satu cewek dan dua cowok di kelompok
kami, dan seterusnya kami jadi sering main ke villa itu
untuk muasin nafsu kami masing-masing. Dan kami
kasih nama kelompok kami "MAGNIFICENT SEVEN"

ML saat disekolah

ML saat disekolah



Kenalin nama saya Tito saya masih duduk di bangku SMU di sebuah kota di Indonesia saya akan menceritakan pengalaman yang tak terlupakan itu.

Pada saat itu ada seorang murid baru yang pindah dari kota besar di jawa barat. Namanya Ana, Parasnya cantik langsing, namun dadanya tidak terlalu besar. Pada saat itu saya duduk sendiri sehingga bu guru menyuruh untuk duduk di bangku sebelah saya. Aku pun duduk sangat dekat dengannya karena meja serta kursi yang sangat sempit, seringkali paha kami saling bersentuhan. Kemudian kami saling berkenalan panjang lebar dan untungnya tidak ada yang menghiraukan kami sehingga kami bebas bertanya tanya.

“Ndri kontol kamu gede gak?”
“Gede dong kamu liat pasti nangis ntar hehehehe”
“Kalo gede muat ga masuk ke lubang ini?” Ia pun membuka rok nya yang tanpa memakai celana dalam
“Muat dong tapi ntar bakal sakit banget”

Aku pikir itu hanya candaan biasa sehingga aku tidak menganggapnya dengan serius. Namun apa daya setelah percakapan kami tadi, Ana menulis di sebuah kertas dan memberikannya padaku yang isinya “Nanti sore kamu datang ke rumahku di JL ***** ya nanti aku kasih kamu kenikmatan yang tak terduga” Sontak saja aku kaget dan aku membalasnya dengan kata ya. Maklum saja aku selalu ingin menyetubuhi seorang wanita di kelas ini namun baru kesampain sekarang.

Sore harinya aku datang ke rumahnya. Rumahnya tidak terlalu luas namun berlantai dua. Suasana dirumah pun sepi mungkin karena orang tuanya sedang pergi atau ada urusan yang lain. Lalu aku pun diajak ke kamarnya dan duduk di kursi tempat ia belajar dan ia menyuruhku memangkunya sambil menonton video porno yang ia punya. Kontolku pun seketika tegang dan Ana pun merasakannya sehingga tangannya pun meremas kontolku hingga aku kesakitan

“Ah… Na jangan diremes sakit tauk”
“Tapi enak kan?”
“Enak sih tapi jangan diremes di emut aja”

Tanpa berlama-lama ia mematikan laptopnya dan langsung membuka celanaku dan segera mengulumnya dikocoknya dengan sangat kasar dan penuh nafsu sehingga aku pun merasakan sakit yang nikmat karena dikocok oleh perempuan cantik yang nafsu. setelah 20 menit mengocok kontolku dengan kasar akhirnya lahar panas ku pun keluar dan membanjiri bajunya. Ia pun melepas bajunya dan menarik ku atas ranjang yang sangat nyaman ini. Aku pun tidur terlentang dan Ana pun langsung menancapkan kontolku ke lubang vaginanya dan keluar lah darah yang mengalir dari vaginanya.

“Ah…… kamu masih perawan ternyata ah… sempit banget”
“Ia aku baru kali ini nglakuin ini tapi kalo BJ udah sering ah… sakit ndri”
“Ah…. sempit banget punya kamu Ah…. tahan ya sakitnya”
“Ah…… Ah…… iya sayang Ah…”

Ku diamkan saja kontolku menghujam ke dalam vaginanya. Ia kemudian merebahkan badannya dan kuciumi bibirnya yang nikmat sambil pelan-pelan menggerakan kontolku keatas dan kebawah

“Ah… Ah… sakit sayang diemin aja dulu Ah…”
“Kalo di diemin ga enak sayang mending dikocok aja”
“Yaudah deh tapi pelan-pelan ya Masih sakit”

Langsung ku gerakan ke atas dan kebawah kontolku yang besar ini ia pun mendesah kesakitan namun di matanya ia sudah memejamkan pertanda ia menikmati permainan ini. Perlahan-lahan kupercepat gerakanku ini hingga ia mendesah sangat kencang

“Auhh… Ouhh… Sayang enak sayang Ahh Ouhh…”

Desahan itu membuat nafsuku memuncak ku alihkan posisi ini menjadi posisi misionaris sehingga aku bisa lebih mengekplorasi bagian tubuhnya. Ku cepatkan genjotan ini hingga ia menamparku Plakk Plakkk. Segeralah kucabut kontolku dari kemaluannya

“Sayang kamu ngapain nampar aku? aku salah apa”
“Sakit sayang jangan kasar dong”
“Kalo gamau sakit ya gausah ngeseks aja deh”
“Kok kamu gitu sih…?”
“Lah kamu kesakitan begitu kok”
“Tapi aku sayang kamu ndri sejak pertama ketemu”
“Aku juga sayang kamu Na”

Akhirnya aku pun melanjutkan seks itu dengan penuh kelembutan, ia mendesah pula dengan lembur seperti sepasang kekasih memadu kasih.

“Ouhhh Sayang Love you”
“Love you too sayang”

Dia menarik kepalaku dan mencumbunya sambil ku gesekan batang kemaluanku dengan sangat lembut. Air mata pun berlinang dimata nya, Ia seperti menangis terharu karena keperawannya telah diambil oleh orang yang sangat dicintainya.

“Sayang sekarang kamu boleh nggesek sekencengnya”
“Baik sayang muach”

Kugesekan dengan kencang kontol ini yang sudah lama tegang ini. Dan yang benar saja Ana berteriak dengan sangat kencang dan tidak ku hiraukan. Ku sumpal mulut Ana dengan bantal yang ada namun teriaknnya masih sangat kencang sekali hingga akhirnya aku harus mencumbunya agar ia tidak berteriak dengan kencang. Setelah beberapa lama akhirnya lahar panas ku pun ingin keluar

“sayang aku mau keluar nih”
“Ouhhh… Ahhhh… Keluarin aja sayang di dalam Ouhhh Ah…”

Tanpa pikir panjang ku keluarkan saja lahar panasku itu dan aku pun langsung lemas dan merebahkan diri ke ranjang itu sehingga kami pun tidur bersama diranjang

Sebelumnya maaf kalau ceritanya agak amburadul