Jumat, 04 September 2015

Cerita Pengalaman Malam Pertama

 Cerita Pengalaman Malam Pertama 



Cerita dewasa malam pertama- Setelah menjalani prosesi dari jam 10 pagi sampai jam 16 sore, aku segera melepas Baju Kebesaranku. cerita dewasa malam pertama - Aku dengan istriku segera menuju rumah untuk mandi dan melepas semua atribut yang menempel di tubuhku dan tubuhnya.Setelah mandi, aku belum bisa beristirahat total, masih saja ada tamu yang berdatangan. Yang tidak sempat ke resepsilah, yang mau mengucapkan secara khususlah dan berbagai alasan dan harus ku terima dengan gembira karena meski bagaimana mereka adalah yang menerima undanganku. Baru pada jam 22.00 rumahku sudah sepi sehingga aku bisa beristirahat dengan tenang. Istriku kemudian menyajikan secangkir teh manis saat aku tengah duduk melihat rekaman video shooting adikku. cerita dewasa malam pertama- Betapa indahnya hari ini, ku saksikan diriku memakai baju putih, berpeci putih, duduk bersanding dengan mempelai perempuan. Mengucapkan ijab Kabul di hadapan pegawai KUA lalu ku serahkan mas kawin dan diterima oleh istrikudengan disaksikan oleh keluargaku, keluarganya dan tamu undangan.cerita dewasa malam pertama - Lalu aku duduk berdua dengannya di pelaminan, menerima ucapan selamat dari teman-teman/tamu undangan.Sekarang, aku sudah bukan yang kemarin, di sebelahku telah duduk istri sahku yang sudah kunikahi tadi pagi. “Mas tidak ngantuk …..” suara istriku terdengar di sisiku.“Sebentar, Sayang …” jawabku ambil terus mengecup bibirnya dan ku tarik dia dalam pelukanku untuk menyaksikan video itu bersama. Cerita dewasa malam pertama Tenang, nyaman, bahagia, haru jadi satu …… sehingga semakin aku rengkuh tubuhnya yang terbalut kimono sutra. Kubisikkan ke telinganya “I love you”, dia menggelinjang karena geli terus ku kecup bibirnya lembut. cerita dewasa malam pertama - Kami berpelukan sambil menyaksikan video bersejarah itu.Setelah film selesai dan minuman sajiannya ku habiskan, kami berdua masuk ke kamar …. Aku segera berbaring sementara ku lihat istriku mengunci pintu kamar. “Kenapa dikunci, Sayang ? Kan gak ada siapa-siapa” tanyaku. “Malu Mas ….” jawabnya sambil membaringkan tubuhnya di sebelahku. “Malu ? Memang kenapa harus malu ….” aku terkekeh mendengar jawabannya. cerita dewasa malam pertama - Istriku tidak menjawab, dia hanya peluk tubuhku sambil sedikit mencubit dadaku. Ah, istriku ini memang sangat halus pekertinya, maklum ayah dan ibunya masih turunan priyayi sehingga sangat santun dalam mendidik putera-puterinya.cerita dewasa malam pertama - Beruntung aku bisa menyuntingnya meski sempat juga aku ditolak karena dinilai aku ini bukan lelaki yang baik tapi karena aku ngotot menunjukkan niat baikku, akhirnya jadilah kami menikah. Malam itu berlalu dengan tenang karena aku dan istriku merasa sangat lelah setelah seharian menjadi Raja. cerita dewasa malam pertama - Baru pada malam kedua aku bisa melakukan apa yang selama ini ada dalam benakku, apa yang selama ini menjadi buah bibir para pengantin atau pasangan yang sudah menikah. Saat istriku sedang nonton tv di kamar, perlahan ku peluk dia dari belakang. cerita dewasa malam pertama - Kusandarkan tubuhnya ke dadaku lalu perlahan sekali ku kecup lehernya yang jenjang …. Dia menggelinjang, ku lanjutkan dengan memainkan lidahku di sekitar tengkuknya dan perlahan pula tanganku merayap ke dadanya. cerita dewasa malam pertama- Nafas istriku mulai tidak normal, mulutnya kadang terkatup kadang terbuka karena tanganku sudah memainkan daging kenyal di dadanya, menodel-nodel putingnya sehingga karena sudah tidak kuat akhirnya dia rebahkan tubuhnya. Ciumanku berpindah ke bibirnya, mula-mula ku kecup lalu ku masukkan lidahku menyampu lidahnya dan dia peluk tubuhku. Kami berciuman cukup lama hingga nafas kami memburu. Sambil ku jilati lehernya, perlahan ku buka tali kimononya dan terbukalah penutup tubuh indahnya. cerita dewasa malam pertama - Wajah oval, leher jenjang, buah dada ukuran 34 perut rata dan selangkangan yang tertutup celana krem transparan, paha yang kencang dan betis yang seperti bulir padi … membuat aku menegang penuh. Ku buka sekalian kaos oblongku lalu kembali ku payungi tubuhnya. Kembali kami bergumul untuk menikmati keindahan masa bulan madu ini hingga perlahan ku lepas celana dalamnya dan tampaklah pemandangan yang luar biasa. cerita dewasa malam pertama - Kemaluannya ditumbuhi bulu yang tidak terlalu lebat, meski tak rapih tapi aku berani menjamin inilah kemaluan yang akan mengantarkan kelajanganku. Istriku sempat menutup kemaluannya, mungkin karena malu dilihat nanar olehku tapi tangannya kemudian ku geser hingga akhirnya terpampanglah di depan mataku, sawah sepetak yang akan u cangkul.cerita dewasa malam pertama - Ku buka saja celana dalamku karena kemaluanku sudah menegang penuh …. Istriku sempat berpaling ketika melihat kemaluanku. Kembali dia kucumbu, ku ciumi dari atas sampai ke bawah.cerita dewasa malam pertama - Saat lidahku bermain di pahanya lalu bergerak ke tengah, tubuh istriku menggelinjang kegelian. Saat aku mulai meciumi bibir kemaluannya, tubuhnya tersentak dan tiba-tiba tangannya menjambak rambutku ketika lidahku mulai menjilati kelentitnya. “Maaasssss ….. oooohhhh …..” desisnya. Ku mainkan terus lidahku disana hingga ketika aku menemukan lubangnya aku merasakan cairan yang kecut tapi nikmat. Ku mainkan lidahku disitu agak lama kemudian ganti jariku yang membelainya sementara lidahku terus menari nari di pahanya, dengkulnya, betisnya hingga jari-jari kakinya ku kulum satu demi satu. Saat jarinya ada dalam mulutku, istriku sudah bergerak tidak menentu.cerita dewasa malam pertama - Kepalanya menoleh kekiri ke kanan, tangannya meremas apa saja yang bisa dijangkau ….. sehingga akhirnya aku hentikan aksiku. Kubuka pahanya perlahan, ku tahan dengan lututku, ku kecup bibirnya lalu aku berbisik “Sayang, masukkan sekarang …..” cerita dewasa malam pertama- Perlahan dia pegang kemaluanku yang sudah sekeras kayu, dia arahkan ke lubangnya dan ketika aku merasa sudah pas, ku dorong perlahan. Ku tatap wajahnya, matanya terpejam dan dia gigit bibirnya sendiri …. mungkin sakit …. jadi ku hentikan dorongan pinggulku. Setelah dia tidak mengigit bibirnya .. kembali ku dorong lagi. Hangat … hangat sekalian lubang kemaluannya ….. “Masss …. ddduuuhhhh ….” Istriku merintih Ku dorong terus … terus dan akhirnya kuhentakan perlahan kemaluanku memasuki lubangnya. Ku saksikan mata istriku membeliak lalu terpejam dan kurasakan tangannya meremas punggungku yang mulai basah oleh keringat. Dari sudut-sudut matanya ku lihat ada butiran bening … “Kenapa, Sayang ? Kenapa nangis ? Sakit yaa …. ? tanyaku. “Aku bahagia Mas, aku bahagia karena aku sudah berikan apa yang selama ini aku jaga …..” jawabnya sambil mengecup bibirku lalu dia tatap aku. “Terima kasih, Sayang. Sekarang Mas akan berikan segala Mas buatmu” bisikku di telinganya sambil terus ku gerakan pinggulku perlahan, naik turun di atas tubuhnya. Gerakanku semula perlahan dan istriku pun hanya bergerak perlahan menyambut ayunan pinggulku namun lama kelamaan gerakan kami jadi semakin panas …. cerita dewasa malam pertama - Bibirku bergerak liar di mulutnya, lehernya, dadanya sementara tangannya kadang menjambak rambutku, mencengkram punggungku atau meremas dan menekan pantatku. Dari mulutnya keluar desis desah lenguhan dan ku balas dengan lumatan bibirku. Waktu berlalu, kamarku terasa panas karena tubuh kami sudah bermandi peluh dan ketika aku mulai merasa ada sesuatu yang akan keluar dari kemaluanku, istriku tiba-tiba memelukku dengan sangat kencang.cerita dewasa malam pertama - Dia gigit bahuku dan tangannya mencakar punggungku …. beberapa detik dari situ aku juga merasakan sesuatu yang tidak bia kulukiskan dengan kata-kata. Tubuhku mengejang, kulesakkan sedalam-dalamnya ke lubang kemaluan istriku dan dari kemaluanku berhamburanlah cairan kentalku menyirami ke dalaman lubang kemaluan istriku. Beberapa detik tubuh kami meregang lalu akhirnya setelah ketegangan itu berlalu ku cabut kemaluanku dan ku hempaskan tubuhku di sebelahnya. Ku kecup bibirnya dan ku peluk istriku yang sama basahnya denganku ….. cerita dewasa malam pertama - kami berpandangan mesra, dia tersenyum manis lalu perlahan matanya tertutup Keesokan paginya, saat aku terbangun istriku tidak berada di sampingku dan ketika ku lihat di sprei, ada bercak bercak kekuningan dan tetesan darah …. Ketika aku hendak bangun, istriku muncul berkimono merah marun, membawa nampan berisikan secangkir teh manis dan beberapa potong roti.cerita dewasa malam pertama - “Selamat Pagi, Ayah” sambil dia kecup bibirku lalu duduk di sebelahku, menatap wajahku yang tengah menikmati secangkir teh manis sajiannya.

ML dengan tukang Ojek

 ML dengan tukang Ojek

Dengan jemari lentiknya, Naya menyimpulkan tali jubah mandinya sembari berjalan masuk ke kamar mandi. Sore itu, ia berencana melepaskan segala macam kepenatan pikirannya dengan mandi sambil berendam di bathup. Yup, itu semua karena pekerjaan di kantor barunya benar-benar menyita seluruh tenaga dan konsentrasinya. Air mengucur deras dengan seketika begitu Naya memutar tuas keran air yang ada dibagian bawah bathup. Sesekali, ia kecipakkan tangan putih mulusnya ke air guna merasakan tingkat kepanasan air. “Moga-moga, mandi berendam ini dapat menjernihkan pikiranku.” ucapnya pelan. Butuh beberapa waktu guna memenuhi bak bathup itu dengan air. Oleh karenanya, selagi menunggu penuh, Naya menuju dapur yang ada di lantai dasar untuk membuat segelas jus melon kegemarannya. Jus melon, olahan minuman dari buah yang bagi Naya adalah teman setia ketika menemaninya berendam. Tak sadar, dari semenjak keluar kamar hingga dapur, bibir Naya melantun sebait lagu yang semakin lama semakin keras. Dan dengan diiringi gerakan tarian manja, Naya menyanyikan keseluruhan tembang yang dibawakan oleh grup band lawas tersebut. Hingga ketika melewati ruang tengah, Naya dikagetkan oleh sesuatu. “Eh, Mitha, kamu kok sudah pulang?” tanya Naya dengan nada kaget akan keberadaan putri semata wayangnya di sudut kursi ruang tengah. “I-iya, mi. Hari ini lesnya libur, khan sekarang hari jumat.” jawab Mitha yang juga terkejut akan kehadirannya Naya yang tiba-tiba. “Haloo, halooo, Mit? Mitha?” panggil seorang pria yang ada di ujung telepon. “Eh, iya. Ga kenapa-napa kok, cuma ada mami.” sambung Mitha. “Hayo, kamu sedang telepon ama siapa, sayang?” tanya Naya menggoda anak perempuan satu-satunya. Didekatkannya telinga Naya pada gagang telephon yang berada pada genggaman Mitha, seolah ia ingin nguping. Namun karena malu, Mitha segera menghindarkan gagang telephon itu jauh-jauh dari jangkauan maminya. “Ah, Mami kepo banget deh. Cuma temen kok, Mi.” jawab Mitha malu-malu. “Hahaha… Dasar anak kecil.” tawa Naya yang akhirnya menyerah untuk menginvestigasi putrinya itu. “Udah sana, mami mandi gih. Tuh denger, suara aer bathupnya dah penuh.” “Iya deh… Yang masih ABG…” canda Naya genit. “Halloohh… iya…” kembali Mitha melanjutkan perbincangan serunya seolah barusan tak ada apa-apa. Sambil tersenyum, Naya pun ikut-ikutan tak menggubris Mitha yang sedang telepon. Dia segera menuju dapur untuk membuat jus melonnya. Dari dapur, suara berat Mitha masih sedikit terdengar. Naya sebenarnya berusaha untuk tak menghiraukan percakapan antara putri dan temannya itu, namun entah kenapa, jika melihat dari gelagat Mitha ketika menelpon, dia terlihat seperti sesosok mata-mata yang sedang membocorkan rahasia. Duduk disudut ruangan, bergelapgelapan dengan pandangan mata yang selalu siaga mengawasi kondisi sekitar. Mau tak mau, Naya pun menjadi penasaran. Segera saja, ia mematikan mesin blender yang sedang menggiling daging buah melon itu, lalu ia pertajam indra pendengarannya. Dan mendadak, Naya lupa akan tujuan awalnya membuat jus melon sebagai teman mandi berendamnya. “Hihihi… iya bener, rasanya bikin deg-degan gimana gitu…” ucap Mitha lirih sambil sesekali ia tertawa kecil. “Bener-bener, bentuknya ga sama seperti gambar yang ada di buku. Beda banget.” “Gedhe dan panjang.” “Iya, Mitha juga pengen…” “Aduh, kapan ya bisa seperti kemaren lagi?” kembali Mitha celingukan, menengok ke arah dapur dimana mamanya berada. Ia berjaga-jaga supaya tak ada seseorang pun yang mendengar percakapannya. “Mitha juga merindukan sodokan batang panjangmu, sayang, hihihi…” kembali Mitha tertawa kecil. “Merindukan sodokan batang panjangmu?” tanya Naya dalam hati. “Batang apakah yang sedang dibicarakan antara Mitha dan teman prianya ini?” Mendadak muka Naya menjadi merah, dan detak jantungnya berdebar begitu kencang. Apakah mungkin, Mitha sedang membahas tentang batang kelamin teman lelakinya? Mitha khan baru masuk kelas 2 SMP baru 15 tahun. Belum sepantasnya ia mendiskusikan tentang hal itu dengan teman lelakinya. Naya mencoba mengingat tentang kejadian beberapa waktu lalu. Ada beberapa kejanggalan mengenai putrinya yang susah untuk dijelaskan. Pulang larut malam, cupangan di leher bawah serta dadanya, dan yang paling mengejutkan adalah adanya plastic kondom di laci kamarnya. Hal itulah yang membuat pikiran Naya menjadi gelisah. Ada apa gerangan yang terjadi pada kelakuan putri satu-satunya itu. “Ah, kamu jangan gitu ahh… Mitha juga pengen.” Kembali Naya membuang semua pikiran aneh itu dan lebih memilih untuk mendengarkan percakapan putrinya dari jauh. Hingga, sebuah kalimat yang membuat detak jantungnya seolah berhenti. “Mitha juga pengen ngejilatin batangmu, Mas. Pengen banget minum pejuhmu lagi.” DEG…! Naya seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Walau terdengar begitu samar, namun Naya yakin, jika barusan ia mendengar putrinya ingin meminum sperma lelaki teman bicaranya. “Mitha ga sabar nunggu mami pergi keluar kota lagi, jadi khan kita bisa nerusin rencana mas Udin yang sempat tertunda kemaren.” “Udin?” tanya Naya dalam hati. Mendengar pembicaraan mereka yang mulai tak senonoh, Naya berjingkat pelan. Mendekat ke arah Mitha dari arah belakang punggung Mitha dan… “Kamu sedang ngobrol dengan Udin si tukang ojek itu ya? Mitha menengok ke arah datangnya suara itu dan langsung berdiri dari tempat duduknya. “Sialan! Udah dulu ya, sayang, ada mami…” Sebelum Mitha meletakkan gagang telephon itu ke badan telephon, Naya langsung menyerbu ke arah Mitha sambil berteriak lantang. “Berikan telepon itu!” bentak Naya sembari menyambar gagang telephon dari tangan putrinya. “Dengar ya, Din… Jika gue ngelihat lo dekatan dengan anak gue lagi, gue ga akan segan-segan untuk ngelaporin lo ke Polisi. Mengerti lo?” bentak Naya sambilmenutup telepon. Seperti mendengar gemuruh geluduk di siang bolong, Mitha yang mendengar lelaki tercintanya diancam seperti itu, menjadi tak terima. “Miii, apa yang mami lakuin sih? Emang Mas udin salah apa, miiiih?” “Mami ga suka kamu menjalin hubungan dengan lelaki tanpa masa depan seperti itu.” “Tapi, miii, aku mencintainya…” “Buka matamu, sayang… tukang ojek seperti dia tuh tidak cocok buatmu.” “Mitha tak peduli dengan apa kerjaan dia, yang jelas Mas Udin cinta ama Mitha.” “Jadi kamu menentang pendapat mami?” “Mami jahat! Mitha benci Mami.” “Udah-udah, kamu dihukum. Weekend ini kamu tak boleh keluar rumah. Sana masuk kamar!” “Aku benci mami. Aku benar-benar benci mami!” tangis Mitha histeris. Ia berlari masuk kamar lalu membanting pintu kamarnya keras-keras. Tiba-tiba, rasa bersalah muncul dalam hati Naya. Apakah dia salah atau terlalu keras dalam mendidik Mitha, sehingga Mitha bisa berteman dengan lelaki busuk semacam Udin. Apakah Naya kurang dalam memberikan perhatian dan kasih sayangnya, sehingga Mitha bisa menjalin hubungan spesial dengan lelaki tak terurus seperti Udin. Udin, lelaki yang dalam pandangan matanya benar-benar jauh dari ganteng, putih atau bermasa depan. Lelaki yang selalu menggunakan pakaian hitam belel, celana jean sobek dan berbau asem. Belum lagi reputasinya sebagai pengedar narkoba yang entah itu benar atau salah, semakin membuat citra Udin mejadi begitu buruk dimata Naya. Naya kembali teringat beberapa waktu lalu, ketika masa awal-awal perkenalannya dengan Udin. Udin adalah tukang ojek ujung komplek yang membantu mengantarkan Naya berangkat interview karena mobilnya entah kenapa susah untuk dinyalakan. Dan ternyata, semenjak kejadian itu, Udin menjadi tumpuan harapan bagi Naya dalam hal trasportasi. Baik sebagai sarana antar jemput atau untuk minta tolong segala macam kebutuhan Naya. Yah dengan kata lainnya, Udin dapat diandalkan sebagai tangan tambahan ketika Naya tak mampu dalam mengerjakan sebuah tugas. Ramah, baik dan tak perhitungan. Itulah yang membuat Naya percaya untuk menggunakan jasa Udin. Namun ada satu hal yang Naya kurang suka dengan tukang ojek itu. Udin memiliki sifat mesum. Apalagi semenjak putri semata wayang Naya juga mulai sering menggunakan jasa ojek Udin, sifat mesum Udin menjadi semakin menjadi-jadi. Hingga pernah, Naya beberapa kali memergokin Udin yang sering memphoto dirinya ataupun Mitha ketika mereka sedang mengenakan rok pendek atau baju dengan atasan berbelahan dada rendah. Dan yang paling parah, Naya sempat mendapati adanya sperma di kamar mandi, setelah kamar mandi itu digunakan Udin. Yup, Udin beronani di kamar mandi.nya Memang sih, Udin tak pernah mau mengaku melakukan hal itu, tapi Naya benarbenar yakin jika lelehan sperma di dinding dan lantai kamar mandi itu berasal dari batang penisnya. Udin juga sepertinya membawa dampak buruk kepada Mitha. Karena semenjak kenal Udin, Mitha menjadi sangat susah diatur, suka melawan, dan mulai menggunakan gaya berpakaiannya yang berbeda. Dulu, putri satu-satunya itu selalu malu jika diminta untuk mengenakan baju seksi, namun sekarang, tak disuruh pun Mitha dengan pedenya berani mengenakan jinsketat atau jeans super pendek, berkaos kecil, yang kesemuanya menonjolkan lekuk tubuhnya “Huuuhhh… “ desah Naya lirih. Kali ini, pikirannya semakin kacau. “Mas Loddy, apa yang harus Naya lakukan?” tanya Naya dalam hati. Diraihnya gagang telephon yang ada di atas meja ruang tengah, dan mulai menekan beberapa tombol. Naya berharap suami tercintanya yang sedang tugas keluar kota mampu memberikan masukan tentang masalah yang ia hadapi saat ini. Namun tiba-tiba Naya memilih meletakkan gagang telepon, dan tak jadi menghubungi suaminya. Ia tak mau mengganggu pikiran suaminya dengan masalah lagi. untuk sementara, ia pendam saja dulu masalah ini. Naya kembali ke arah dapur, mengambil gelas jus melon favoritnya dan bergegas ke kamar mandi di lantai atas. Ia menutup pintu kamar mandi, meletakkan gelas jus disamping bathup dan mulai melucuti jubah mandinya. Naya berjalan ke cermin dan membiarkan jubahnya jatuh ke lantai. Itu adalah kebiasaan sehari-hari untuk memeriksa tubuhnya sendiri sebelum mandi. Dengan jeli, mata bulat Naya memeriksa sekujur tubuhnya. Terkadang, Naya merasa bangga akan tubuh yang ia dapati. Masih berusia 34 tahun namun sudah memiliki seorang putri cantik berumur 15 tahun. Hal itu pun terkadang membuatnya sedikit besar kepala, karena ketika mereka jalan berdua, tak jarang banyak orang yang salah mengira jika mereka kakak adik. Rambut hitam yang lurus panjang, menjuntai hingga punggung. Tubuh yang dibalut kulit berwarna kuning langsat, tinggi 165 cm dan berat tak lebih dari 50 kg itu pun sering membuat mata lelaki susah untuk tidak melihat kesintalan tubuh ibu satu anak itu. Belum lagi dengan tonjolan buah dada 36C dan bongkahan bokongnya yang membulat indah, membuat Naya benar-benar seperti bidadari. “Waktunya berendam…” bisik Naya dalam hati. Segera saja, Naya meluncurkan kaki jenjangnya ke dalam bathup. Mencoba beradaptasi sejenak hingga tubuhnya menjadi terbiasa dengan panasnya air yang menggenang di bathup. Lalu tak lama kemudian, sekujur tubuhnya sudah masuk semua ke dalam bathup itu. “Oooouuuhh… nyaman sekali rasanya.” desahnya lirih. Diusapnya pangkal luar lengannya yang mulus, pundak, payudara, perut, paha hingga kedua betis butir padinya. Dengan perlahan ia menyeka semua daerah itu sembari memeriksa kulit mulusnya. Naya memejamkan mata, dan menenggelamkan seluruh tubuhnya. *** Tak terasa, sudah hampir sejam Naya tertidur di bathup. Karena begitu sadar dari lelap, jemari tangannya sudah terlihat keriput, dan air yang memenuhi bathup itu sudah tak lagi hangat. Segera saja Naya beranjak dari bathup dan mulai membilas tubuh langsingnya. Naya mengambil sabun aroma melati dan membilas bahu serta lengannya sebelum pindah ke dadanya. Mendadak, Naya tersentak kaget saat sabun dan buih-buihnya meluncur di sekitar puting payudaranya. Puting berwarna merah muda itu selalu sensitif, bukan sensitif lagi, melainkan super sensitif. Sentuhan sepelan apapun, selalu dapat mengirimkan getaran kejang ke sekujur tubuhnya. Puting payudaranya selalu mencuat keras dan begitu menjulang jauh ke depan, sehingga terkadang putting itu terasa begitu ngilu jika terhimpit oleh kain branya.Dan saat ini, kedua putting payudara itu benar-benar sensitive, keras dan sakit. Naya menggosok sabun di sekitar bawah payudaranya sebelum meluncur di atas perutnya yang rata. Terakhir dia menyabuni selangkangannya dan meluncur ke tungkai pahanya. Dia tergoda untuk membiarkan tangannya berlama-lama di antara kakinya, daerah intim wanita yang selalu membuatnya merasa geli barcampur nikmat ketika digosok. “Andai kamu ada disini, mas.” sambil terus mengusap selangkangannya, kembali Naya membayangkan kehadiran suaminya. Rasa licin dan lembutnya sabun yang berada di sekitar puting payudaranyamembuat dia terangsang. Ingin sekali rasanya bercinta saat itu juga, namun Loddy, suami Naya masih dinas diluar kota. Dan masih ada waktu sekitar seminggu lagi hingga suaminya bisa pulang dan menyetubuhinya. Lagi-lagi. Naya harus menahan birahi yang memuncak itu. Naya ingin ketika suaminya pulang, ia akan mendapatkan kebinalan dirinya secara penuh. Setelah kurang lebih lima menit membilas tubuh, Naya akhirnya menyudahi mandi sorenya. Ditariknya karet penyumbat bathup itu dan ia segera beranjak keluar kamar mandi. Dikeringkannya tubuh basah itu dengan handuk putih tebal lalu menggosokkan baby oil ke seluruh kulit tubuhnya. Mendadak, Naya merasa begitu lapar. Mandi berendam di sore hari seperti ini memang sangat menguras stamina. Walau sama sekali tak melakukan aktifitas apapun, tubuh seperti baru saja melakukan renang melewati dua pulau. Dengan rambut yang masih digelung kain handuk, Naya keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Suasana rumah kembali terasa sepi, karena si Mitha sedang menjalani hukumannya di dalam kamarnya. Namun, ketika Naya melewati kamar Mitha, sayup-sayup terdengar suara cekikikan yang sangat ia kenal. Dengan cepat, Naya membuka pintu kamar putrinya dan melihat kesekeliling ruangan. Mitha yang semula sedang tertawa-tawa, langsung menyembunyikan handphone yang ia genggam ke belakang punggungnya begitu maminya masuk. “Kesinikan handphonemu…” pinta Naya. “Buat apa, Mi?” tanya Mitha. “Kesiniin…!!!” ucap Naya lagi dengan nada sedikit keras. Dengan berat hati, Mitha melempar handphone itu ke sudut kasur, dekat dengan posisi Naya berdiri. “Mitha smsan ama Rezy, Mii… Bener kok…” “Yuk kita lihat…” Merasa pernah muda, Naya tak bisa dibohongi anak semata wayangnya begitu saja. Ditekannya tombol hijau di telpon Mitha, menelpon teman putrinya yang bernama Rezy. “Baru juga sms-an bentar, sayang. Mitha udah kangen ama batang abang udin ya? Sampe nelpon-nelpon segala…” ujar lelaki dari ujung telephon. “BANGSAT lo, Din… JAUHI Mitha…!!!” bentak Naya seketika dan mengakhiri pembicaraan. “Mitha… mami kecewa denganmu. Mami tak mengira kamu masih berhubungan dengan lelaki mesum itu.” “Biarin! Mitha cinta bang udin… dan Mitha tak akan tinggal diam melihat mami menghalang-halangi hubungan kami…” “Berani kamu ya?” Emosi Naya meningkat. “Ayo ikut mami… mami tak akan membiarkanmu seperti ini.” “Mitha ga mau ikut…” tolak Mitha sengit sambil cemberut dan menyilangkan lengandi depan dadanya. “Ikut…!” bentak Naya sambil mencengkeram pergelangan tangan Mitha. Diseretnya putri semata wayangnya itu ke arah kamar tidurnya. “Kali ini kita tukeran kamar tidur…“ ujar Naya sambil mendorong Mitha secara paksa memasuki kamar tidurnya. “Kali ini, kamu akan merasakan, apa itu rasanya dikurung…” tambah Naya lagi sambil mengunci pintu kamar tidurnya. “Mitha benci mami. Mitha ga mau punya mami jahat seperti mami…!” histeris Mitha dari dalam kamar Naya. Sebenarnya, Naya merasa menyesal akan apa yang telah ia lakukan pada Mitha barusan. Akan tetapi ia sama sekali tak memiliki jalan keluar tentang apa yang harus dilakukan guna memisahkan putri satu-satunya dengan ojek kampung itu. Naya merasa begitu frustasi, dan berpikir untuk segera menelpon Lody. Namun, kembali, ia mengurungkan niatnya. Ia tak ingin membuat suaminya itu khawatir akan apa yang terjadi kepada putri satu-satunya tersebut. Dengan langkah gontai dan pikiran kalut, Naya berjalan kearah dapur dan membuat makan malam. Dua porsi besar spageti bakso dan dua gelas orange jus, satu untuk dirinya, dan satu untuk Mitha. Sejahat-jahatnya ibu, Naya tak tega juga melihat putrinya hanya meringkuk di sudut tempat tidurnya. “Mitha, nih makan malamnya udah mami siapin, yuk kita makan malam bareng.” Tak ada jawaban sedikitpun dari Mitha. Rupanya saat itu Mitha masih benar-benar sebal akan hukuman dari Naya. Walau sedang menghukum putri semata wayangnya, Naya juga tak tega melihat putrinya itu kelaparan. Oleh karena itu, ia sengaja meletakkan makan malam itu di dalam kamar tidurnya, lalu kembali keluar dan mengunci kamarnya lagi. “Aku mami yang sadis…” ujar Mitha dalam hati. Malam semakin larut, rasa kantuk karena makan malam pun mulai menyergap. Dan karena kamar tidur Naya malam ini ditempatin oleh Mitha, mau tak mau Naya harus tidur di kamar Mitha. “Sudah lama juga aku tak pernah berkunjung ke kamar yang mungil ini.” sejenak, Naya mengamati sekeliling kamar putrinya. Laptop, TV, audio set, lemari, rak buku dan tempat tidur dengan sprei dan selimut berwarna pink. Dinding berwarna hijau muda yang ditempeli beberapa poster idola, AC dan dua buah jendela yang ada disamping-samping tempat tidur. Tak ada yang special dari kamar itu, sama seperti remaja cewe pada umumnya. Naya kembali berkeliling kamar mungil itu. Di atas meja belajarnya terdapat beberapa photo Mitha mengenakan bikini seksi bersama teman-temannya ketika berenang di pantai beberapa tahun lalu. Melihat tubuh putrinya mengenakan bikini, Naya benar-benar bersyukur karena telah memiliki putri yang cantik seperti Mitha. Perhatian Naya mendadak tertuju pada laptop Mitha. Laptop itu masih aktif karena lampu indicator masih menyala. Penasaran akan apa yang ada dalam laptop Mitha, Naya segera membuka laptop itu. Tak ada sesuatu yang disembunyikan di laptop itu, hanya berisi tugas-tugas sekolah, photo dan beberapa game. Namun, ketika sedang asyik-asyiknya „menggeledah‟ isi laptop Mitha, Naya menyadari ada sebuah folder yang sangat mengganggu. Folder berisikan gambar-gambar Mitha yang menurutnya kurang sesuai dengan gambaran anak berusia 15 tahun. Folder itu berisikan photo-photo dari catatan sex Mitha semenjak dia berkenalan dengan Udin. Mitha sepertinya sengaja mendokumentasikan segala macam coretan tangannya dengan cara memphotonya dan menyimpannya di dalam laptop. Corat-coretan vulgar yang menggambarkan kapan Udin mencium Mitha. Coratcoretan vulgar yang menggambarkan gimana rasanya putting ketika dijilat. Coratcoretan vulgar yang menggambarkan apa rasa pejuh ketika masuk mulut. Coratcoretan vulgar yang menggambarkan sketsa kelamin pria yang sama sekali tak proporsional dengan postur tubuhnya dengan tulisan “batang Bang Udin Tersayang” dan gambar kecupan bibir di sekujur gambarnya. Dan yang paling parah, Mitha memiliki beberapa photo penis Udin kampung itu. Mulai dari kondisi lemas, setengah ereksi, ereksi sempurna, blowjob, hingga photo penis yang sudah memuncratkan pejuhnya di mulut Mitha. “Ya ampun, sudah sejauh inikah hubungan mereka?” Tak tahan dengan pikiran yang mendadak menghantui, Naya segera mematikan laptop putrinya dan duduk di tempat tidur. Dengan nafas yang masih menderu-deru, Naya mencoba menenangkan diri. Satu hal yang dipikirkan Naya semenjak ia melihat photo-photo catatan Mitha. “Udin harus sesegera mungkin dijauhkan dari kehidupan Mitha. Ya, itulah satu-satunya cara untuk membuat Mitha kembali nurut seperti dulu lagi.” batin Naya sembari menenggak seluruh jus orange sisa makan malam itu hingga tak tersisa. Mendadak, kepala Naya pusing. pandangan matanya kabur, dan kelopak matanya menjadi sangat berat. *** Naya tiba-tiba terbangun dalam keremangan lampu kamar. Dia tidak tahu berapa lama ia telah tertidur. Kepalanya masih terasa berat dan nafasnya terengah-engah. Dengan paksa, Naya mencoba untuk membuka mata. Namun sejauh ini, hanya kegelapan yang dapat ia tangkap dengan kedua mata bulatnya. “Kenapa dengan tubuhku?” tanya Naya dalam hati. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, nafasnya panas dan pendek, badannya terasa hangat dan enteng. “Apa aku terkena demam karena terlalu lama berendam?” tanya Naya lagi. Naya merasa fantastis. Seluruh tubuhnya terasa begitu berbeda dari biasanya. Kulitnya terasa begitu kencang, begitu sensitive, hingga ia mampu merasakan semilir hembusan angin dari lubang hidung yang menerpa tubuhnya. Payudaranya membesar dan mengeras dengan putting yang seolah tak mau mengalah, ngilu dan bengkak. Anehnya, dia tidak merasa lelah sama sekali. Setiap kali ia menggeliatkan badan, gesekan antara kulit dan kain sprei menimbulkan gelitikan aneh di sekujur tubuhnya yang membuatnya seketika merinding nikmat. “Ooouhh… sssshh… ada apa dengan diriku ini?” tanya Naya sambil terus menggeliatkan tubuhnya, menggesek-gesekkan tubuh sintalnya dengan kain sprei. “Mas Loddy… Kamu kok lama sekali sih pulangnya?!” Naya tiba-tiba mengigaukan kehadiran suaminya. Malam ini, ia benar-benar merasa kangen dengan suami tercintanya. Hingga ia menyadari, ada sesosok manusia yang berdiri di sudut kamar. “Mas loddy, itu kamu ya?” tanya Naya. “Kamu pulang lebih cepat ya mas? Sini, mas, mendekat. Adek kangen banget sama kamu, mas. Sini!” pinta Naya sambil melambaikan tangannya pada sosok tersebut. Sosok itupun mendekat dan duduk disamping tempat tidur. “Mas Loddy, kamu kok diam saja, kamu nggak kangen ya sama istrimu yang kesepian ini?” Dalam gelap, Naya langsung memeluk sosok lelaki yang ada disamping tempat tidurnya itu dan menciuminya bertubi-tubi. “Mas, kamu tahu nggak, mendadak adek pengen begituan. Kamu tau khan, mas, sudah lebih dari 2 minggu adek tak kamu jamah, mas. Yuk, mas. Kamu mau khan?” Sosok itu mengangguk. “Nah, gitu donk, mas. Ayo sekarang buka semua bajumu, mas. Adek udah bener bener nggak tahan lagi, mas, pengen buru-buru ngerasain sodokan batang perkasamu.” Perasaan kangen yang turut ditunjang dengan birahi yang mendadak muncul, membuat Naya tak sanggup lagi menahan keinginan dirinya untuk disetubuhi secepatnya. Naya tak peduli jika suaminya baru tiba, Naya tak peduli akan rasa capai yang mungkin saja dialami suaminya, yang jelas, malam itu dirinya harus mendapat kepuasan yang sudah beberapa hari ini Naya inginkan. Mengiyakan keinginan Naya, sosok itupun segera melucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya. “Kamu tiduran aja ya, dek…” ujar sosok itu dengan nada yang berat. Sebuah tangan menyentuh kaki Naya dan naik ke lututnya. Sosok itu berayun dan berlutut di antara kakinya, membungkuk dan memberikan ciuman basah di lutut dan paha Naya. Perlahan namun pasti, ciuman demi ciuman mulai bergerak naik ke arah selangkangan Naya. Ciuman demi ciuman membawa gelijang geli pada paha dan vagina. Membuat sekujur tubuhnya menjadi merinding. “Ooohhh, mas… Stop, mas… Geli…“ desah Naya yang sepertinya kurang setuju akan perlakuan sosok suaminya itu. “Geli, mas…“ “Kamu suka?” tanya sosok itu singkat. “Ho‟oh… cuman adek heran, tumben kamu mau jilat-jilat kaki adek?“ “Kenapa?” “Biasanya kamu khan ga pernah melakukan foreplay. Adek suka, mas…” desah Naya yang merasa keenakan akan stimulus lidah sosok suaminya. “Kali ini aku punya kejutan yang pasti akan membuatmu suka, dek…” “Kejutan apa, mas? Kamu mau apa?” Mendadak, sosok itu menghentikan jilatan lidah pada kaki Naya, dan langsung berpindah naik ke atas. Mulai menjilat celah vagina Naya yang sudah membanjir basah. “Lendir kamu banyak sekali, dek…” ujar sosok suami Naya. “Mas, kamu mau apa? Kamu tahu adek nggak suka dijilat di situ.” Naya mengingatkan suaminya, tapi entah kenapa tubuhnya seolah mengijinkan lidah suaminya bermain disitu. “Nikmatin aja, dek…” “Yah, mungkin malam ini adek pengen nyobain sesuatu yang beda.” suara Naya meninggi ketika ciuman sosok suaminya itu jatuh di bibir vaginanya. Lidah basah itu bekerja dengan cepat dan efisien. Membuat lendir kenikmatannya membanjir dengan deras. “Geli, mas… geli…” ujar Naya yang baru kali pertama merasakan oral seks. Dan dengan kedua tangannya, Naya mencoba mendorong suaminya menjauh dari vaginanya yang meranum merah. Namun, tubuh suaminya yang cukup kurus itu terlalu kuat. “Memek kamu wangi banget, dek…” puji sosok suami Naya yang semakin gencar menjilat dan menyerucup semua lendir vagina Naya. “Bentar, mas… bentar… adek merasa geli sekali…” Naya menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, mencoba menghindar dari jilatan buas suaminya yang terasa begitu nikmat itu. Merasa tak tahan lagi akan gelitik rasa geli pada vaginanya, Naya mencoba mendorong kepala suaminya. Di sentuhnya pipi suaminya yang sekarang terasa kempes. “Shhh… Kamu kurusan, mas…” komentar Naya setelah menyentuh wajah suaminya dalam gelap. “Ooouuggghhh… Enak, maaass…” Mendengar Naya mulai menikmati jilatan lidah kasarnya, sosok suami Naya pun semakin bersemangat lagi untuk mengoral vagina tak berbulu milik istrinya itu. Naya menyambut keberingasan suaminya dengan meminta kepala yang ada diantara selangkangannya semakin aktif dalam menstimulus vagina dan klitorisnya. Tangan Naya naik dari pipi ke rambut suaminya. Naya mendapati rambut suaminya sudah panjang, dengan pony yang sepertinya sudah menjuntai melebihi alis. “Oooouuugghh… Tuhaaaan… enak sekali, mas…” jerit Naya sambil mencengkeram kepala suaminya ketat supaya ia membenamkan lidahnya lebih dalam. Mendadak, salah satu tangan suaminya menggapai naik, ke arah payudara Naya dan mulai meremas bongkahan dadanya dengan perlahan. Suaminya meremas puting tegaknya, lalu dengan perlahan ibu jari dan jari telunjuk mulai menyentil, memelintir dan menyentak putting Naya dengan gaya yang berbeda. Jauh lebih kasar daripada biasanya. Tiba-tiba, pinggul Naya menjadi tidak terkendali, dia akan orgasme. “Mas… maaassss… adek mau dapet, mas… ooouugghhh…“ jerit Naya menjadi-jadi ketika stimulus lidah kasar suaminya semakin beringas. “Oooouugghhh… jilat memek adek terus, mas…” Rupanya, apa yang pada awalnya Naya kurang begitu suka, sekarang ia mulai menikmatinya. Terbukti dari jeritan dan desahan mulutnya yang berkali-kali meminta sang suami supaya memberikannya orgasme secepat mungkin. “Maasssss… adek mau keluuuaaa…” Namun mendadak, suami Naya itu menghentikan jilatan lidahnya. Berhenti seketika dan menatap Naya yang tergolek lemah di depan wajahnya. “Aaaaahhh… maaasss… kok berhenti…?” Dengan nafas yang masih terengahengah, sejenak, Naya merasa begitu sebal akan perlakuan suaminya barusan. Coba suaminya itu meneruskan jilatan lidahnya, pasti saat ini naya sudah menggelijanggelijang keenakan karena orgasme oral pertamanya. Orgasme yang sama sekali belum pernah ia dapatkan dari daging yang bernama lidah. “Yuk, mas… adek udah nggak tahan…” pinta Naya yang sudah tak mampu lagi menahan desakan gejolak birahinya. Naya merasa begitu menginginkan hadirnya batang penis suaminya untuk menggaruk kegatalan yang ada di dalam lubang vaginanya. Naya merasa, inilah saatnya bercinta setelah beberapa minggu ditinggalkan suaminya keluar kota. “Mas… yuk, mas… sodok memek adek, mas… adek udah ga tahan lagi…” ujar Naya sambil meminta badan suami yang masih berada di selangkangannya untuk naek ke atas dan menindih tubuh langsingnya. Tanpa membuang waktu lama, Naya menjulurkan tangannya kebawah dan meraihselangkangan suaminya. Walau masih dalam kondisi kamar yang remang, dengan sigap, Naya mampu menangkap batang panjang milik suaminya. “Titit kamu keras sekali, mas… jauh lebih keras dari biasanya…” Ada perasaan bangga yang dirasa oleh Naya begitu ia menggenggam penis panjang suaminya. Karena setelah lebih dari 15 tahun menikah, suaminya masih menghargai keseksian dirinya dengan bisa ereksi sekeras ini. Bagi Naya, kerasnya ereksi adalah salah satu penghargaan lelaki yang bisa ditunjukkan kepada wanitanya. Tapi, malam ini penis suaminya itu terasa begitu berbeda. Sangat jauh berbeda. Naya merasa, batang panjang yang menggelantung di selangkangan suaminya itu bukanlah daging penis seperti yang biasa ia rasakan selama ini. Naya merasa daging itu lebih mirip pentungan kayu, sama sekali bukan lipatan daging lembek seperti biasanya. “Titit kamu beda, mas… rasanya kok panjang banget ya?“ tanya Naya keheranan. Namun karena keinginan Naya untuk segera mendapatkan birahi sudah terlalu tinggi. Ia sama sekali tak mempedulikan keanehan batang suaminya itu, dan dengan sigap Naya menarik batang penis suaminya itu mendekat ke arah celah vaginanya yang sudah membanjir basah oleh cairan pelumas. Malam itu Naya benar-benar sudah terlalu bernafsu. Ia seolah sangat menginginkan untuk dapat merasakan kenikmatan persetubuhan. Ia ingin segera dapat merasakan gelinjang orgasme. “Pokoknya aku harus puas malam ini…” desah Naya pada sosok suaminya itu. “Iya, dek… kamu bakal mendapatkan semuanya itu malam ini.” “Buruan, mas… Setubuhi istrimu ini.” semburnya keluar. “Adek pengen ngentot, mas… Entotin adek sekarang.” Naya mendadak heran, tak pernah dalam sejarah kamus hidupnya ia menggunakan pemilihan kata kasar ketika bercinta. Ia selalu berkata “ Tusuk atau sodok”. Ia tak pernah menyebut kata “Entot” Dan itu kata jorok pertamanya ketika lebih dari 15 tahun bercinta Naya membuka kedua pahanya lebar-lebar, seolah mempersilakan batang panjang suaminya untuk dapat segera berkunjung ke rahimnya. “Titit kamu besar banget, mas…” puji Naya berkali-kali kepada suaminya itu. “Adek pasti puas malam ini…” Walau sedang dalam kondisi birahi tinggi, Naya sekilas berpikir akan perubahan penis suaminya saat ini. Penis itu tumbuh menjadi begitu besar dan panjang. Bahkan tumbuh terlalu besar. Karena ketika kepala penis itu mulai mendobrak pertahanan celah kewanitaannya, timbul rasa sakit yang tak pernah Naya rasakan selama ini. “Pelan-pelan, mas… sakit banget…” desah Naya sambil mencoba merasakan enaknya persetubuhan itu. Namun, entah karena sudah terlanjur merasakan enak, atau karena sama-sama tak sabar untuk merasakan nikmatnya persetubuhan, sosok itu sama sekali tak menggubris permintaan Naya, karena yang terjadi, suami Naya itu terus mendorong batang panjangnya untuk masuk kedalam celah sempit yang sudah membanjir basah itu. Secara berkala, sodokan demi sodokan mulai membuka celah kenikmatan Naya. Menghantar gelombang geli, sakit dan nikmat yang tak terucap. Hingga mau tak mau Naya harus membuka membuka kakinya lebar-lebar guna mengakomodasi besarnya batang penis yang ada diantara pahanya. “Penis Loddy tampaknya telah tumbuh begitu besar hingga saat ini, vaginaku terasa begitu penuh…” batin Naya. Naya merasa, jika ujung penis suaminya terasa seperti bola golf yang sangat besar dan keras. Walaupun saat itu Naya sudah membuka paha dan vaginanya lebarlebar, tetap saja, malam itu, ia merasa seperti perawan yang sama sekali belum pernah bercinta sedikitpun. Sakit, perih dan tersiksa. Semua terasa sama sekali tak proporsional. Karena malam itu, yang Naya rasakan bukanlah rasa nikmat seperti persetubuhan yang biasa mereka rasakan . Melainkan lebih mirip seperti sakitnya vagina ketika melahirkan. Dan dari rasa sakit ini, mendadak Naya sadar, benar-benar sadar, jika penis suaminya ini begitu besar, malah terlalu besar. “Apakah sekarang Lody menggunakan Viagra?” pikir Naya. Karena hanya itulah satu-satunya pemikiran yang muncul di otak Naya. Kembali, rasa dan keinginan untuk dapat segera merasakan kenikmatan orgasme melanda pikiran Naya. Sehingga, guna mencapai itu semua, mau tak mau Naya harus mengesampingkan rasa sakit yang teramat sangat di vaginanya itu. Sejenak Naya mencoba memejamkan mata, berkonsentrasi penuh untuk menghilangkan rasa sakit dan mencoba focus kepada kenikmatan sodokan batang panjang suaminya. “Kesempatan nikmat seperti ini tak boleh aku sia-siakan…” batin Naya sembari terus mengakomodasi batang panjang suaminya yang sudah banyak terbenam di vaginanya. “Terlebih dengan segala macam kesibukan pekerjaan Loddy yang semakin tinggi… Aku harus puas… aku harus puas…” “Nggak tiap hari aku bisa merasakan kenikmatan bersetubuh…” pikir Naya lagi. “Terlebih dengan adanya Mitha yang sekarang sudah semakin dewasa… Tak bisa lagi setiap saat, aku dan Loddy bebas bercinta.” Pikiran Naya untuk beberapa saat kembali pada Mitha, putri semata wayangnya yang sekarang sedang menjalani hukuman kurung di kamarnya, mitha yang semakin susah diatur, semakin bandel, dan sedang kasmaran dengan ojek kampong. “Aku harus segera membicarakan masalah ini dengan Loddy besok… yang jelas, sekarang aku harus puas terlebih dahulu. Tapi…” tiba-tiba, Naya segera tersadar. Naya dan Mitha khan baru saja bertukar tempat tidur. Yang ada di kamar tidur Naya adalah Mitha, dan yang sedang berada di kamar Mitha adalah Naya. “Mas, kok kamu tahu adek tidur disini?” tanya Naya sedikit heran. Alih-alih menjawab pertanyaan Naya, Loddy semakin memperdalam sodokan penisnya. “Aaahhhsss… Maaas… Kok kamu bisa tahu adek ada disini? “ tanya Naya sambil keenakan. Heran, bingung, sekaligus penasaran. Berjuta pertanyaan tiba-tiba timbul dalam pikiran Naya. Bagaimana suaminya bisa tahu jika dia malam ini tidur di kamar putrinya? “Ini aneh sekali, mas… benar-benar aneh.“ gumam Naya. “Terlebih, titit kamu. Tidak seperti biasanya. Titit kamu terlalu besar, mas…” “Ya beda lah…” ujar sosok lelaki yang masih menindih tubuh langsing Naya dan menyodok-nyodokkan sekujur batang penis panjangnya ke dalam celah kenikmatan Naya yang membanjir basah. ”Karena aku bukan suami tante…!!!” DEG…!!! Mendengar perkataan sosok yang sedang menyetubuhinya itu, jantung Naya seolah berhenti berdetak. Sekilas, dari suara dan cara bicaranya, Naya tahu siapa sosok yang sedang bercinta dengannya. Sekilas, dari postur tubuh, potongan rambut dan aroma tubuhnya, mia mengenali siapa sosok yang saat ini sedang menyetubuhinya. Dan sekilas, dari ukuran batang penisnya yang jauh dari normal, Naya yakin jika sosok yang sedang memberikan kenikmatan duaniawi ini adalah… Udin!!! “Tante bakal suka batang panjang saya… tante bakal merasakan bagaimana batang besar ini akan memuasin memek gatel tante…” suara mesum itu kembali terdengar dengan jelas. Suara yang beberapa saat lalu sangat ia benci. Suara yang beberapa saat lalu sangat hina ditelinganya. Suara yang jelas-jelas bukan milik suaminya. “Udin?” tanya Naya dengan nada benar-benar panik. Sebelum ia menutuptangannya ke mulutnya. “Iya, tante… saya Udin… pacar Mitha…” Astaga, ternyata sosok yang saat ini sedang menyetubuhi dirinya bukahlah Lody, suami Naya. Sosok itu adalah Udin, si ojek kampung pacar Mitha, anak semata wayangnya. Tak pernah sekalipun Naya membayangkan akan terjadinya situasi seperti ini. Naya tahu sekali akan Loddy suaminya yang sangatlah pencemburu. Senyum sedikit ke lelaki lain saja, bisa membuat Lody menjadi uring-uringan, apalagi sampai melakukan perselingkuhan. Naya tak bisa membayangkan betapa murkanya Loddy jika dia sampai tahu wanita yang ia nikahi, saat ini sedang bersetubuh dengan orang lain. “Bangsat lo, Din… cepet cabut tititmu… Cabut…!!!” Dengan segenap tenaga, Naya berusaha mendorong tubuh Udin. Namun sekuat-kuatnya tangan ramping Naya, ia seolah mendorong tembok. Tubuh kurus Udin sama sekali tak bergerak, sedikitpun. “Tante… Memekmu seperti memek perawan, peret banget…” kata Udin. “Bangsat lo, Din… Bangsat… CABUUUTT…!!!” Tak kehabisan akal, Naya mulai memukul-mukulkan genggaman tangannya ke wajah tukang ojek itu. Tapi, Udin yang sudah merasa berada diatas angin, segera menangkap kedua pergelangan tangan Naya dan langsung melentangkannya jauh-jauh kearah samping, sehingga Naya yang dalam posisi tak berdaya, lebih terlihat seperti orang yang pasrah daripada orang yang meronta-ronta. “Bangsat lo, Din… Cabut titit lo, Din… Cabut…!!!” Melihat Naya yang masih mencoba meronta, Udin tak kehabisan akal. Mulut dengan bibir tebalnya langsung ia majukan kedepan, menyeruput putting kiri Naya yang tegang kemerahan. Melihat posisi yang sangat tak menguntungkan ini, “Ooouuugghhhh… Sshhh… “ mau tak mau Naya hanya bisa melengguh. “Ouuhhhggg… Bangghsaaat lo, Diinn…” ujar Naya yang seolah mencoba merasakan gelijang kenikmatan pada puting payudaranya. Sejenak rontaan tangannya mereda, dan tubuhnya melemas. Melihat Naya yang sudah takluk akan jilatan dan kenyotan bibirnya, Udin tak langsung mendiamkan wanita jajahannya begitu saja. Dengan gerakan perlahan, Udin yang merasa jika sekujur batang penisnya sudah sepenuhnya masuk ke dalam vagina Naya, mulai menggerakkan batang panjangnya mundur “Bener nih tante ga mau ngentot ama Udin?” tanya tukang ojek itu dengan nada menggoda sambil mulai menggerak-gerakkan batang penis yang sudah menancap dalam di vagina Naya. Mendengar suara cabul Udin, Naya yang semula terlena seolah kembali tersadar. “Bangsat lo, Din… CABUT BANGSAT… CABUT…!!!” Naya meronta lagi sejadijadinya. Udin yang masih merasa diatas angin kembali menggoda keimanan vagina Naya. Dengan tak mengurangi gerakan-gerakan menyodok pelannya, ia terus menggoda liang kenikmatan Naya dengan batang penis raksasanya. Udin tahu, jika walau Naya berkata bahwa ia sama sekali tak menginginkan persetubuhan yang terlarang ini, vagina Naya berkata hal yang berbeda. Vagina Naya sudah sangat becek dan merekah merah. Lendir yang keluar dari akibat persetubuhan batang dan celah kenikmatan ibu satu anak ini pun tak dapat berbohong. Merembes, banjir keluar dengan derasnya dan mulai berubah menjadi busa-busa putih. “Bener nih tante ga mau Udin entotin?” goda Udin. “Cabut, Din… Cabuuuuuttt…!!!” Ujar Naya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udah kalo tante nggak mau… Udin bakal cabut batang ini.” ujar Udin santai. Dibenamkannya batang panjang miliknya itu untuk terakhir kalinya, sebelum ia benar-benar mencabut keluar secara perlahan. “Ouuuhhhh…” erang Naya ketika merasakan penis besar Udin itu terbenam seluruhnya ke dalam liang kenikmatannya dan menyentuh dinding terdalam dari vaginanya. “Titit Ojek kampung ini benar-benar enak… Titit ini mampu menggelitik vagina terdalamku… Beda sekali dengan titit mas Loddy… Benar-benar beda…” galau batin Naya. Matanya terpejam, dan bibir bawahnya tergigit. Tiba-tiba, timbul perasaan galau dari dalam pikiran Naya ketika Udin mulai mencabut batang panjang penisnya. Naya merasakan sensasi yang aneh. Naya merasa begitu kosong. Naya merasa, seperti ada kesedihan yang mendalam seiring tercabutnya penis panjang Udin dari vaginanya. Depresi di wajah cantik Naya terlihat begitu besar, dan entah apa yang ada dipikiran Naya saat itu sehingga pada akhirnya, kaki Naya mendadak merangkul pinggang Udin, menahan gerakan mundurnya dan meminta untuk maju kembali. “Kok kaki tante nahan pantat Udin? Tadi bilangnya suruh nyabut…” Galau, bingung, benci, dan pingin. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Memang sih, penis Loddy tak sebesar penis Udin. Penis Loddy juga tak sepanjang penis Udin. Dan yang paling nyata, penis Loddy tak seenak penis Udin. Setetes air mata meleleh dari sudut matanya. Membayangkan kenikmatan dosa yang sedang ia lakukan. Naya harus segera memutuskan. Persetubuhan ini adalah salah. Benar-benar salah. Naya adalah wanita yang terhormat, walau ia tak menjabat apapun, namun di mata tetangga dan lingkungannya, derajat Naya cukup tinggi. Cukup disegani. Disatu sisi, Naya sangat menginginkan persetubuhan ini, Naya sangat haus akan sensasi orgasme yang sudah lama tak ia rasakan dari penis Loddy, suaminya, dan entah kenapa, Naya mulai menikmati debaran aneh yang menggelora dalam dadanya dan vaginanya. Namun, kembali naya bimbang, tak peduli berpedoman pada alasan apapun, namanya selingkuh adalah hal yang sangat salah. Naya harus memutuskan sesuatu. Harus… “Entot aku, Din…” desah Naya dengan bibir yang masih tergigit. “Hah! Udin ga salah denger nih, Tan?” tanya Udin. “Gila! Kamu gila, Naya… kamu bakal bercinta dengan orang yang sama sekali bukan suamimu.” pikiran sehat Naya mencoba menyadarkannya. “Dia hanyalah tukang ojek…” Tapi, benar kata pepatah “Nafsu mampu merubah segalanya…” “Iya… Entot aku, Din… Entot aku dengan kasar…” pinta Naya dengan kalimat kotor. Pada akhirnya, Naya tak bisa lagi menghiraukan akan segala macam norma ada yang berlaku. Saat ini, hanya satu hal yang benar-benar ia inginkan. Mendapat kepuasan dengan maksimal. Kembali, Naya menggerak-gerakkan kakinya yang masih melingkar di pinggang Udin. Kaki jenjang itu seolah meminta pinggang Udin untuk kembali maju, menabrakkan batang panjang penisnya ke liang senggamanya yang terdalam. “Entotin aku, Diiinnnn… Entotin aku…” Naya berkata tanpa berpikir. Pikirannya seolah tertutup oleh kenikmatan dari penis besar Udin. Penis yang terasa seolah selalu bergetar di setiap saraf vaginanya. Vagina gatal yang selalu haus akan gelitikan urat-urat penis ojek kampung ketika meluncur keluar masuk. Naya merasa penis Udin mampu menyentuh daerah terjauh vaginanya. Penis itu seolah menggapai dan menggaruk hingga sangat dalam, menekan rahimnya dengan keras setiap kali ia sodok. “Tante bakal puas… Tante ga bakal kecewa… dan tante bakal menginginkan k**ol Udin untuk selalu dapat memuaskan tante…” Tanpa mengambil ancang-ancang, Udin segera menghajar liang senggama milik ibu kekasihnya itu. Menghajar dengan sekuat tenaga, menusukkan dalam-dalam penis berukuran ekstranya. Tanpa rasa ampun. “CPAK… CPAK… CPAK… CPAK… CPAK…” suara tumbukan penis dan vagina basah terdengar begitu keras di tengah suasana malam yang gelap ini. “Ooouuhhh… Memekmu benar-bener enak, Tan… Jauh lebih enak dari memek pelacur di kampung sebelah…” desah Udin yang semakin mempercepat sodokan di vagina Naya. “Kurang ajar, vagina terawat milikku dibandingkan dengan vagina pelacur murahan.” batin Naya. “Sumpah… Enak banget, Tantekuuu… sepertinya Udin bakal cepet keluar nih, Tan, kalo peretnya memek tante kayak gini…” Merasakan kenikmatan jepitan vagina ibu satu anak ini, Udin seolah kesetanan. Matanya merem melek, dan mulutnya terus melumat kedua putting payudara Naya. Seolah tak mau kalah, Naya pun merasakan hal yang serupa. Gatal di vaginanya seolah terobati oleh sodokan-sodokan kasar ojek kampung yang semula tak ia sukai itu. Saat ini, Naya sama sekali tak merasakan adanya perasaan jijik sedikitpun ke Udin. Tak ada perasaan marah, ataupun benci. Dan anehnya, vaginanya yang beberapa saat tadi terasa begitu perih menyakitkan, akibat sodokan penis panjang Udin, saat ini tak terasa menyiksa lagi. Malah, penis besar, hitam, dan menyeramkan itu, sekarang terasa begitu enak. “Tante, Udin mau keluar…” ujar ojek kampung itu tiba-tiba. “Ooouuhh… Kamu pake kondom khan, Din?” tanya Naya keenakan. “Enggak. Udin kalo ngentot ga pernah pake kondom.” “Sialan…” jerit Naya. “Tapi tenang saja, Tan… Tante ga bakalan hamil ketika pertama kali bercinta dengan orang baru… terlebih jika tante merasa keenakan.” kata Udin dengan muka serius. “Pemikiran bodoh, aneh dan menyesatkan darimana itu?” tanya Naya. “Dari teman-teman Udin lah, Tan.” jawab Udin lagi. “Cabut tititmu ketika kamu keluar… Jangan keluarin spermamu di dalam memekku…” pinta Naya. Seperti sepasang pedagang dan pembeli yang sedang dalam proses negosiasi, Naya dan Udin pun tawar menawar sembari saling merasakan kenikmatan persetubuhan yang mereka lakukan. “Yah… kalo ga boleh di dalem, trus dikeluarin dimana donk?” “Di kamar mandi aja.” “Nggak mau ah… Kalo Udin ga boleh keluarin peju di memek Tante, Udin mau Tante sepongin k**ol Udin, trus pas Udin mau keluar, Tante telan peju Udin…” “Nggak mau…” “Ya udah… Kalo gitu Udin tetep keluarin peju Udin di memek Tante…” ujar Udin sambil terus menyodok-nyodokkan penis panjangnya ke Naya. Seumur-umur, Naya belum pernah melakukan oral seks. Apalagi sampai menelan sperma lawan mainnya. “Ternyata… Tante ga sehebat Mitha!” Ujar Udin tiba-tiba sambil menghentikan gerakan sodok-menyodoknya. “Kenapa dengan Mitha?” “Ya udah deh… Gapapa… Kali ini Udin keluarin peju di kamar mandi… Besok pagi aja Udin minta Mitha buat nyepongin k**ol Udin…” DEG…!!! Kembali, detak jantung Naya seolah berhenti berdetak setelah mendengar kata-kata Udin barusan. Tukang ojek ini bakal meminta putri satu-satunya buat mengoral penisnya jika Naya tak mau mengabulkan permintaannya. Dan seolah tahu akan kelemahan utama Naya, Udin menyengir lebar. “Besok kamu minta Mitha nyepongin k**ol mu, Din?” tanya Naya bingung. “Iya… abisnya Tante ga mau nyepongin k**ol Udin…” jawab Udin enteng. “Kalo tante sepongin k**ol mu… kamu ga bakal minta ama Mitha lagi khan, Din?” “Iya. Kalo tante selalu muasin k**ol Udin… Udin ga bakal minta Mitha lagi.” Naya tak bisa berpikir jernih jika sudah disangkut pautkan dengan putri kesayangannya. Seolah kehilangan kesadaran, akhirnya Naya menyetujui permintaan aneh Udin. “Jadi gimana, tan? Tante bakal sepongin k**ol Udin khannn?” tanya Udin yang seolah sudah tahu jawabannya. “I-iya, Din…” jawab Naya terpaksa. “Mulut tante bakal nerima pejuh Udin?” “Iya…” “Tante bakal bakal telen pejuh Udin?” “…” tak menjawab pertanyaan terakhir Udin, Naya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gila Naya… Kamu sudah benar-benar gila…!” Selama ini, membayangkan air mani saja sudah membuat Naya merasa mual, apalagi menelan sperma. Itu hal yang sangat menjijikkan, tapi, setelah dipikir-pikir, hal itu jauh lebih baik daripada kemudian ia mendapati dirinya hamil karena benih tukang ojek. “Okelah kalo begitu… sekarang Tante bakal merasakan gimana nikmatnya k**ol Udin…” Merasa senang karena permintaaannya dikabulkan Naya, Udin kembali mengambil ancang-ancang. Membetulkan posisi paha Naya dan meletakkan betis kaki jenjang Naya pada pundaknya. Kali ini Udin bakal melancarkan sodokansodokan brutalnya dengan cara yang lebih brutal. Naya yang sudah pasrah, mendadak merasakan kenikmatan dari hal yang dinamakan persetubuhan. Rasa nikmat yang sudah lama tak ia rasakan. Rasa nikmat yang sudah lama tak ia peroleh dari suaminya. “Sssshh… Oooouuggghhh… Diiinnn… Sssshhhh…” desah Naya. Naya tak lagi banyak berbicara. Ia hanya mendengus dan mengerang. Naya mulai menyerah pada kenikmatan dan kedatangan gelombang orgasme dari batang panjang tukang ojek yang dulu ia benci. Ibu 34 tahun ini terlihat begitu menikmati permainan cintanya yang ia lakukan dengan batang panjang milik pacar putrinya. Naya mulai menancapkan kuku jemarinya dan melenguh begitu keras setiap kali Udin menyodorkan penisnya secara brutal dan tak menentu. Naya di ambang orgasmenya lagi. Namun kali ini gelombang orgasme yang akan datang, jauh lebih besar dari gelombang orgasme beberapa saat lalu. Kakinya secara otomatis dia dirangkulkan ke pinggang Udin. Meminta-minta supaya Udin membenamkan dengan ganas semua batang panjang itu kedalam kemaluannya. Hingga pada akhirnya… “Ooooouuuuggggghhh… Dddiiiinnnnnn…” teriak Naya sembari mencakar punggung hitam Udin. Orgasmenya pecah. Orgasme yang sudah lama ia nantikan akhirnya dapat ia rasakan juga. Orgasme besar yang baru kali ini ia rasakan. Orgasme yang ia peroleh bukan dari suami yang ia cintai. “Udin juga keluar, Tanteee…” teriak Udin sambil mencengkeram keras buah dada Naya. “Kita keluar bareng-bareng…” “Ooooouuuggghhh…“ tubuh Naya tiba-tiba mengejang. Punggungnya membusur ke belakang, kepalanya mendongak keatas dan bola matanya memutih terbalik. Naya merasa tubuhnya begitu hidup. Karena kedutan orgasme yang menyerang sekujur organ kewanitaannya begitu hebat. “Ssshh… Tantee… Ennaaaakkk baaanngeeettt… Ooouuuggghhhtt…” teriak Udin begitu batang penis panjangnya memuntahkan lahar kenikmatan. Kaget mendengar teriakan Udin, Naya buru-buru sadar. “Oh tidak,” ujarnya tergagap. “Tarik keluar, Din…” Walau mendengar permintaan Naya, namun Udin sepertinya sudah tenggelam dalam kenikmatan yang ia terima dari vagina Naya. Alih-alih mencabut penis dari vagina, ia malah tersungkur jatuh ke depan. Menimpa tubuh sintal Naya. Telat. Penis Udin memuncratkan tujuh gumpalan panas ke dalam vagina Naya. Tujuh gumpalan sperma yang langsung memenuhi rongga rahimnya. Tujuh gumpalan sperma yang bakal membuat Naya hamil. Tapi entah apa yang ada di pikiran Naya saat itu. Karena walau baru saja menerima semua sperma tukang ojek kampung itu, Naya hanya bisa terdiam sambil sedikit tersenyum. “Panas sekali sperma tukang ojek ini…” batin Naya. Untuk beberapa saat, kedua insan ini menghentikan segala aktifitasnya. Mereka saling tindih dengan nafas yang putus-putus. Naya yang merasa bahagia akan efek euforia orgasme hanya bisa tersenyum mendengar gombalan tukang ojek ini. Orgasme kali ini benar-benar terasa begitu dahsyat, bahkan walau sudah 5 menit orgasme, vaginanya masih terasa berdenyut hebat. Vaginanya masih terasa kesemutan. “Tante… kalo Udin mau ngentotin lagi… Tante masih kuat?” bisik Udin sambil mengecupi pipi ibu satu anak ini. “Emangnya titit kamu masih bisa bangun lagi, Din?” tanya Naya heran. “k**ol tante… Bukan titit… titit mah punya anak kecil… kalo punya Udin namanya k**ol.” koreksi Udin. “Eh, iya… k**ol …” ujar Naya langsung mengoreksi kalimatnya. Udin hanya tersenyum melihat ibu kekasihnya ini pasrah menerima semua perlakuannya. “Bisa donkm tante…” jawab Udin enteng sambil mulai menggerakgerakkan batang penis panjangnya yang masih menancap erat di vagina Naya. Naya langsung merintih lirih begitu merasakan penis lembek Udin yang mulai bergerak keluar masuk lagi. “Gimana rasanya k**ol Udin, Tan…? Enak nggak?” tanya Udin sembari terus menggerak-gerakkan penisnya maju mundur. Naya mengangguk. Merasa reaksi Naya kurang menggemaskan, Udin kembali bertanya. “Gimana, Tan? Jawab donk, gimana rasanya?” “Enak, Din… Enak…” “Yakin bener-bener enak…?” goda Udin lagi. “Iya, Din… Bener-bener enak…” “Enak mana ama k**ol suami tante?” DEG…!!! Tiba-tiba Naya kembali teringat akan suaminya yang saat ini sedang tak ada di rumah. Suami tercinta yang saat ini sedang Naya dustai. Suami setia yang yang saat ini sedang Naya selingkuhi. “HAP…!!!” Udin tiba-tiba sambil mencaplok payudara bulat Naya. “Ooouugghh…” seolah terkaget akan perselingkuhan yang belum terselesaikan ini. Naya segera tersadar. “Enak mana, Tan?” tanya Udin lagi sambil memilin-milin putting payudara Naya yang bebas. “Enak k**ol Udin atau enak k**ol suami tante…?” Perlahan namun pasti, birahi Naya yang baru saja terpuaskan oleh persetubuhannya dengan tukang ojek ini meninggi, seiring jilatan lidah kasar Udin di payudara Naya. Perlahan namun pasti, vagina yang masih saja berkedut dahsyat karena orgasme, mulai melelehkan lendir kewanitaanya karena goyangan penis lembek udin yang keluar masuk. Perlahan namun pasti, Naya mulai menikmati perselingkuhan kilatnya ini. Dan perlahan namun pasti, sensasi nikmat penis Loddy, tergantikan oleh batang panjang menyeramkan milik Udin. Hingga pada akhirnya, air mata Naya menetes ketika menjawab pertanyaan Udin barusan. “k**ol mu, Din…” jawab Naya sambil menatap tajam sosok pria yang sedang menyetubuhinya itu. “Kenapa, Tan…? Udin nggak denger…” “ENAKAN k**ol MU, DIN…!!!” “Hehehehe… makasih ya, Tan… memek tante juga enak banget…” “Maafkan adek, mas…“ batin Naya. “Adek tak bisa menjaga kesucian pernikahan ini. Adek tak tahu harus melakukan apa guna mencegah perselingkuhan nikmat ini…” Naya tahu, jika apa yang ia lakukan malam ini adalah sebuah kesalahan. Naya juga tahu jika tak sepantasnya ia bercinta dengan pacar putrinya. Namun satu hal yang tak bisa Naya pungkiri. Persetubuhan yang baru mereka lakukan belasan menit dengan tukang ojek ini, jauh lebih nikmat daripada persetubuhan yang ia lakukan belasan tahun dengan suami tercintanya. “Tante, coba deh tante sepongin k**ol Udin…” mendadak, tukang ojek yang sedang menggerakkan pinggangnya maju mundur, mencabut batang penis panjangnya dan menyodorkan pada mulut Naya. “ASTAGA. BESAR SEKALI, DIN…” bisik Naya histeris sambil menutup mulutnya. Naya tahu jika Udin memiliki penis yang sangat besar, namun Naya tak tahu jika penisnya sebesar itu. Selama ini, yang Naya tahu tentang penis udin hanyalah dari photo-photo yang ada di laptop Mitha. Namun hal itu sangatlah berbeda, karena setelah mengetahui bagaimana kondisi batang kelamin yang menjuntai panjang dari selangkangan tukang ojek langganannya itu, Naya baru sadar, jika penis Udin yang sebenarnya jauh lebih besar daripada photo yang ada di laptop putrinya. Penis udin yang walau belum ereksi sepenuhnya, sudah membengkak sebesar pergelangan tangan Naya. Penis itu terlihat begitu menyeramkan dengan ditambah oleh urat-urat hitam yang tumbuh di sekujur batang penisnya. “GILA! Ternyata aku baru saja disetubuhi oleh botol air mineral…” ujar Naya dalam hati. “Pantesan, penis ini tadi terasa begitu menyakitkan…” Jemari lentik Naya perlahan mulai menyentuh batang penis Udin yang menggelantung lemas. Dengan seksama, Naya memeriksa batang raksasa milik pacar putrinya. “Tititmu kok bisa besar sekali sih, Din? Mana Hitam sekali…” tanya Naya sambil berulang kali membalik-balik batang hitam yang berlumuran lendir vaginanya itu. “k**ol, tante… k**ol … bukan titit.” koreksi Udin lagi. “Eh, iya… k**ol …” “Gak tahu, Tan… dari lahir k**ol Udin emang udah seperti ini…” Iseng, Naya tiba-tiba ingin mengurut batang penis panjang yang ada di hadapannya. Dan begitu diurut, dari lubang kepala penis Udin, ternyata masih ada beberapa tetes sperma yang muncrat. Mengenai mulut serta hidung Naya. “Hahahahahaha…” melihat Naya terkaget-kaget, mendadak Udin tertawa. “Masih ada aja, Din, pejuhmu…” “Iya donk… Udiiinnn…” bangga ojek kampung sialan itu. Wajar memang jika Udin berbangga ria akan kehebatan batang kejantanannya itu. Karena walau Naya tak pernah tidur dengan lelaki lain, seorang pria akan merasa begitu hebat jika ada wanita yang memuji kemampuannya di atas ranjang. Mendengar Udin yang masih berbangga ria, entah mendapat semangat dan dorongan darimana, Naya mendadak merasa ingin mengetahui sebatas apa kemampuan dirinya dalam memuaskan lelaki. “Din, boleh nggak…?” tanya Naya malu-malu. “Pengen apa ya, Tan?” “Hmm, Tante pengen…” “Pengen apa, Tantekuuu…?” “Tante pengen sepongin k**ol panjangmu…” “Hahahaha… idih, tante… kok sekarang kamu nakal sih…?” Sekarang, Naya, ibu satu anak ini merasa seperti kembali ke masa beberapa tahun silam. Masa dimana dia dan suaminya sedang akan melakukan malam pertama. Masa pacaran ketika pernikahan baru saja akan dimulai. Masa dimana seks terasa serba malu-malu. Namun bedanya, di hadapan naya bukanlah Loddy suaminya. Melainkan Udin, ojek kampung yang beberapa saat lalu sangat ia benci. “Boleh ya, Udin sayaaannggg?” “Bentar-bentar… kamu mamanya Mitha khan? Bukan pelacur kampung sebelah?” ujar Udin sambil menjauhkan pinggangnya dari mulut Naya. Sengaja mencegah Naya ketika ingin melahap kepala penisnya. “Kamprett!! Lagi-lagi Udin sialan ini membandingkanku dengan pelacur murahan…” sengit Naya dalam hati. “Namun masa bodoh-lah… yang jelas, aku pengen ngerasain kenikmatan orgasme lagi…” “Iya, aku Naya, mamanya Mitha…” ujar Naya singkat “Yakin… kamu tante Naya? ” “Iya, emangnya kenapa?” “Abisan…. Kok sekarang tingkah lakunya mirip pelacur?” “Aku bukan pelacur… aku mamanya Mitha…” “Ah, kamu bukan mamanya Mitha… kamu pasti pelacur…” canda Udin lagi sambil kembali menjauhkan batang penisnya dari mulut Naya. “Soalnya cuman pelacur yang mau nyepongin k**ol ku…” “Udiinnn… siniin…” “Ngaku dulu donk… kamu pelacur apa bukan…? Kalo kamu bukan pelacur, kamu ga boleh nyepong k**ol ku…” goda Udin lagi. “Iyaaaa… Aku pelacur… aku bukan mamanya Mitha…” kata Naya. ”Sekarang… kesiniin k**olmu…” tambah Naya sebelum akhirnya menerkam panjang Udin ke dalam mulutnya. Lidah Naya segera berlari kesana-kemari, menjilati batang penis ojek kampung itu hingga benar-benar bersih dari lumuran sperma dan lendir vaginanya. Melumati kepala penis pacar putrinya sambil sesekali menyedot lubang kencing itu kuat-kuat hingga tak tersisa setetes sperma sedikit pun. Ini adalah seks oral pertama yang pernah ia lakukan. Bagi Naya, seks oral adalah persetubuhan yang jorok, kotor dan penuh kenajisan. Sudah berulangkali Loddy mengajak Naya untuk melakukan seks oral, tapi Naya tak pernah sekalipun mengabulkan ajakan suami tercintanya. Namun anehnya, malam ini Naya begitu antusias untuk mencoba melakukan oral seks yang tak pernah ia sukai dengan orang yang sebelumnya ia benci. Naya melakukan oral seks dengan Udin, ojek kampung bau yang memiliki batang penis ekstra besar. “Tante tuh salah satu pelacurku…” ujar Udin sambil kembali memaju mundurkan kepala Naya ke arah Batang penisnya. “Tante, aku mau ngentotin tante lagi…” ucap Udin singkat sambil mencabut penisnya yang sudah kembali tegang dan memukulmukulkannya ke mulut Naya. “Tante, emangnya tante selalu sebinal ini?” tanya Udin. “Enggak… Tante tak pernah seperti ini… Sebenarnya tante malu, tapi masa bodoh…” “Ya udah… kalo gitu sekarang tante telentang…” ucap Udin sambil mencabut batang penis panjangnya dari mulut Naya. “Bentaran, Din… aku belum puas ngenyot-kenyot k**ol mu… kesini-iiiiiinnnn…” pinta Naya binal sambil menggapai-gapai ke arah Udin. Udin sama sekali tak menggubris permintaan Naya. Ia segera menuju kearah tubuh bawah Naya. Dengan tegasm Udin meminta Naya untuk membalikkan tubuhnya yang semula telentang menjadi tengkurap. Dan dengan cekatan, Udin mengangkat pinggang Naya guna memposisikan Naya supaya nungging. “Aku mau DOGGY, Tan…” ujar Udin santai sambil mulai menepuk-tepukkan batang hitam kemerahan yang ada di pangkal selangkangannya dengan bersemangat. “PEK… PEK… PEK…!” suara yang dihasilkan dari tumbukan batang penis Udin dan vagina basah Naya. “Basah bener memek kamu, Tante… Udah sange banget ya?” “Hhhmmm… Ho‟oh…” “k**ol ku ini akan memuaskan dirimu lagi malam ini…” Perlahan-lahan, Udin mendorong kepala penis hitamnya masuk ke dalam celah kenikmatan Naya. “Pelan-pelan, Din… sakit…” rintih Naya manja. “Tenang, Tante… Tahan dikit… Ntar pasti enak lagi…” “Oooouuuhhh… Pelan-pelan, Diiiinnnn… STOP! Oughhh… Stop… Memekku terasa begitu penuh…” “Laaaaahh… Tapi khan batang k**ol ku belum masuk semua, Tan?” Kalimat Udin kembali menyadarkan Naya, jika melakukan persetubuhan dengan posisi doggy ini membuat batang penis Udin yang ekstra besar ini terasa jauh lebih panjang jika dibandingkan melakukan persetubuhan dengan gaya biasa. “Serius?“ tanya Naya seolah tak percaya. “Beneran, Tan… nih…” kata Udin yang langsung melesakkan batang penisnya hingga mentok. “Ooouuugghhh… Besar sekali k**ol mu, Din…” “Memangnya k**ol suami tante tak seperti ini ya?” “Setengahnya pun tak sampe, Din…” “Hahaha… “ Ketika Udin kembali mencoba melesapkan batang panjangnya dalam-dalam. Serangkaian orgasme dalam vagina Naya pun langsung terbangun kembali. Dia tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dalam lima belas tahun pernikahannya. Orgasme yang tiap kali ia rasakan ketika bersama Loddy, suaminya, terasa begitu kecil, sangat jauh berbeda dengan orgasme yang diberikan oleh Udin. Dan bedanya lagi, walau telah beberapa menit lalu Naya baru saja diberi orgasme oleh Udin, orgasme itu tak segera menghilang. Orgasme itu selalu „mengetuk‟ dinding vagina Naya setiap kali Udin menggerakkan penisnya. Semenit, dua menit, tiga menit. Orgasme dari Udin tak juga kunjung berhenti. Naya mengalami Multi orgasme. “Bentar, Din… Bentar… jangan buru-buru nyodokin k**ol nya…” “Kenapa, Tan?” “Aku masih pengen ngerasain kedut-kedutan orgasme barusan…” “Hahahaha…“ Lagi-lagi Udin tertawa terbahak-bahak. ”Tante mirip ama perawan deh, kayak nggak tahu apa-apa…” “Ahhh, Udin… khan tante juga pengen ngerasain enaknya kedutan itu…” “Hahaha… kalo sama Udin, tante bakal terus ngerasain kedutan itu kok… tenang saja… tante bakal ketagihan terus…” Udin kembali mempergencar sodokan batang penis pada vagina ibu satu anak itu. Makin lama makin kencang dan cepat. Hingga kedua insan yang sedang dilanda nafsu birahi ini kembali melenguh-leng

Kenikmatan terindah bersama tanteku

 Kenikmatan terindah bersama tanteku


Entah kenapa, semakin aku sering melakukan Making Love dengan seseorang, membuat kehidupan sex aku bersama istriku semakin romantis saja. Dan entah semua itu semakin bisa aku nikmati. Mungkin semua ini adalah dampak dari terlalu tingginya libidoku sehingga saat aku lagi mood, tidak jarang setelah siangnya atau sorenya aku melakukan dengan teman kencanku, malamnya aku ganti menservice istriku. Aku selalu bersyukur mempunyai kelebihan dalam urusan bercinta. Ditambah pengetahuan sex aku yang aku dapatkan dari film BF, buku-buku sampai obrolan-obrolan dengan teman di kantor, membuat aku semakin bisa menyelami tentang apa itu sex. Sehingga aku benar-benar fasih dalam menerjemah apa yang aku dapat dari pengetahuan tentang sex. Itu terbukti dengan keluarnya banyak pujian dari para teman making love aku. Rata-rata mereka sangat puas saat bercinta denganku, dan mereka menemukan, merasakan dan menikmati sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan dalam masalah sex. ***** Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang ibu rumah tangga, yang entah bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui nomor cellulerku. Siang itu saat aku sedang menikmati masa istirahatku di kantin, tiba-tiba cellulerku berbunyi. "Hallo, selamat siang Dandy" suara perempuan yang manja terdengar. "Hallo juga, siapa ya ini?" tanyaku serius. "Namaku Maya" kata perempuan tersebut mengenalkan diri. "Maaf, Mbak Maya tahu nomor HP saya darimana?" tanyaku menyelidik. "Oya, aku temannya Via dan dari dia aku dapat nomor kamu" jelasnya. "Ooo, Mbak Via" kataku datar. Aku mengingat kembali kisahku sebelumnya yang berjudul Kisah bersama Ibu Muda. Via seorang sekretaris yang juga ikut 'mewarnai' kehidupan sex aku. "Gimana khabar Mbak Via?" tanyaku. "Baik, dia titip salam kangen sama kamu" jelas Maya. Sekitar 5 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang yang sudah kenal lama. Suara Maya yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisik dari wanita tersbut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Maya membuyarkan lamunanku. "Hallo.. Dandy, kamu masih disitu?" tanya Maya. "Iya.. iya Mbak.." kataku gugup. "Hayo mikir siapa, lagi mikirin Via ya?" tanyanya menggodaku. "Nggak kok, malahan mikirin Mbak Maya tuh" celetukku. "Masa sih.. Jadi GR nih" dengan suara yang menggoda. "Dandy, boleh kan kalau aku mau ketemu kamu?" tanya Maya. "Boleh aja Mbak.. Dengan senang hati" jawabku semangat. "Oke deh, kita mau ketemuan dimana?" tanyanya semangat. "Terserah Mbak deh, Dandy ngikut aja" jawabku pasrah. "Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di excelso di Tunjungan Plasa" katanya. "Oke, sampai nanti Dandy.. Aku tunggu jan 18.00" sambil berkata demikian, HP nya langsung off. Waktu menunjukkan pukul 16.30, tiba saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke Tunjungan Plaza. Sebelumnya aku prepare di kantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari aku membawa karena memang aku sering olahraga setelah jam kantor. Tiba di TP, aku segera memarkir mobil starletku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku menunjukkan pukul 18 kurang seperempat. Aku segera menuju ke excellso seperti yang dikatakan Maya. Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa melihat orang hilir mudik di area pertokoan terbesar di Surabaya ini. Saat mataku melihat situasi di sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya yang duduk sendirian. Menurut tebakan aku, wanita ini berumur sekitar 35 tahun ke atas. Wajahnya yang lumayan putih, membuat aku tertegun. Mataku yang mulai nakal, berusaha menjelajahi pemandangan yang sangat menggiurkan di depanku. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih di balik rok mininya, membuat semakin aku gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya aku jika orang tersebut adalah Maya yang menghubungi aku siang tadi. Disaat aku membayangkan sosok di depan mataku, tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdegup kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku. "Maaf, kamu Dandy ya?" tanyanya sambil menatapku. "Iy.. iyaa.. Kamu Maya?" tanyaku balik sambil berdiri. Jarinya yang lentik menyentuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesir ketika tangannya yang halus meremas tanganku dengan halus. "Silahkan duduk May" kataku sambil menarik satu bangku di depanku. "Terima kasih" kata Maya sambil tersenyum. "Dari tadi anda duduk disitu kok tidak langsung kesini?" tanyaku. "Aku tadi sempat ragu, apakah kamu memang Dandy" jelasnya. "Aku tadi juga berpikir, apakah wanita yang cakep ini kamu?" kataku sambil senyum. Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling canda, saling menggoda dan sesekali bicara yang 'nyerempet' ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah sempurna saja wajahnya yang semakin matan. Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Maya adalah seorang wanita yang sedang tugas di Surabaya. Maya adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya. "May, kamu kenal Via dimana?" tanyaku mnyelidik. "Via adalah teman chattingku di YM, aku dan via sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga untuk kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun." mulut mungil Maya menjelaskan dengan penuh semangat. "OOo, begitu.." kataku sambil manggut-manggut. "Ini adalah hari pertamaku di Surabaya dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku selesai" jelasnya tanpa aku tanya. "Sebenarny tadi Via juga mau dateng tetapi karena ada acara keluarga, mungkin besok baru bisa dateng" jelasnya kembali. "Memang Mbak Maya nginap dimana?" tanyaku. "Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E.." jelasnya. "Mmm, emang Mbak sama sapa sih?" tanyaku menyelidik. "Ya sendirilah, Dandy.. Makanya saat itu aku tanya Via" kata Maya. "Tanya apa?" tanyaku mengejar. "Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di Surabaya" kata Maya. "Dan dari situlah aku tahu nomor celluler kamu" lanjutnya. Tanpa terasa jam tanganku menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mau tutup. "Dan.. Kamu mau anter aku balik ke hotel?" tanya Maya. "Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Maya sendirian balik ke hotel" kataku. Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa. Aku dan Maya bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Maya menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika aku berjalan di belakangnya. "Silahkan duduk Dan, aku mau mandi dulu" kata Maya sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang. Mataku menyelidik, apakah benar Maya sendirian dalam kamar. Dan memang benar kelihatannya dia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak hanya beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang. Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Maya, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang molek. "Dandy, aku minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak bisa dibuang" kata Maya sambil tetap berdiri di muka pintu kamar mandi. Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika aku melewati tubuh Maya, mataku yang nakal sedikit mencuri pandang di belahan dada Maya yang terkesan menyembul keluar karena terhimpit ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, aku segera menuju bathup yang dimaksud oleh Maya. Aku menggunakan tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup bathup yang memang rapat sekali. Aku berusaha membuka secepatnya karena pikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan akhirnya"sswaasshh.." suara air langsung keluar ketika karet penutupnya sudah terlepas. "Oke May.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya" kataku sambil masih membelakangi tubuh Maya yang sedang berdiri di belakangku. Ketika aku membalikkan badanku, betapa kagetnya aku dengan pemandangan di depan mataku. Tubuh Maya tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang melekat di tubuhnya tadi. "Ma-Maaff.. Aku mau keluar May" kataku gugup. Maya tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan memeluk tubuhku, dan merangkul leherku dengan erat. "Dan, Via sudah ceritakan kehebatan permainan sex kamu" aroma bau mulutnya yang segar, membuat jantungku semakin berdetak kencang. "Mmm, anu Mbak.. Mungkin Via terlalu berlebihan" kataku. "Berikan aku kenikmatan itu Dan.." sambil berkata demikian, bibir mungil Maya langsung mendarat di bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku. Lidahku yang sudah mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran lidah Maya. Tanganku yang tadi hanya berdiam diri, sekarang aku beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang montok mendesak dadaku yang bidang. Sesekali tanganku mulai semakin berani menjelajahi pinggul Maya, pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak 35 tahun. Aku meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu membuat nafsu Maya semakin naik. Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang jenjang menjadi sasaran empuk bibirku yang mulai menari-nari di atasnya. "Ooohh.. Dandy.. Geelli.." desah Maya. Serangan bibirku semakin menjadi di leher Maya, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku. Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku semakin terbawa dalam aliran birahi yang meledak-ledak, bibir Maya yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku. Jari jemarinya yang lentik, sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang aku kenakan. Disaat aku mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang semakin liar, sepertinya tidak ingin menyisakan sedikitpun dada bidangku. Darahku mendesir hebat hingga membuat aku terangsang hebat, ketika lidahnya menari di puntingku. Daerah yang paling sensitif di tubuhku, yang bisa menggugah nafsu birahiku secara sepontan. "Ohh.. May.. Aaakh" aku merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku. Maya benar-benar sudah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa aku sadari ketika aku sudah merasakan kaki sudah dingin. Ternyata Maya sudah melepas jeans yang aku pakai sebelumnya, sehingga sekarang aku hanya menganakan celana dalam saja. Lidahnya semakin lama semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua pantatku sehingga aku benar-benar terangsang hebat. Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan mudah menarik CD ku dari belakang. "Gila.. Pantes Via puas, habis penismu gede seperti ini" kata Maya memuji. Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu CD yang membatasinya akhirnya bisa lepas. Aku melihat kebawah dan melihat Maya yang sedang tertegun dengan besarnya penisku. Penisku berdiri tegak sekali dan sesaat kemudian. "Mmm.. Srup.. Srupp" mulut Maya yang mungil mulai mengulum batang penisku. "Aakhh.. May.. Nikmmaat.. Sekkalii" rintihku. Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Maya, utnuk memudahkan bergerak maju mundur dan ketika penisku benar-benar terlean dalam mulut Maya, kenikmatan yang luar biasa aku rasakan ketika ujung penisku menthok pada dasar mulut Maya. "Sss.. Maayy.. Uhh" aku mendesah kenikamatan. Maya tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, wanita itu denagn buasnya mengulum, menjilat, mengocok dan mengoral batang kemaluanku. Sampai aku tidak kuat berdiri. Setelah Maya puas dengan aksinya, Maya bangkit dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah selangkangan aku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga tubuh Maya terduduk di kloset. Aku langsung jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesir hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan bibir vagina. Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya. "Sss.. Dandyy.. Nikmaat sekali.. Ughh" rintih Maya. Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku di ujung clitorisnya. Gerak tubuh Maya yang terkadang berputa-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin berani menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya. "Daanndy.. Gilaa banget lidah kamu.." rintih Maya. "Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan.." pintanya. Lidahku bergerak keluar masuk dalam lubang vaginanya, sesekali aku memancing clitorisnya untuk segera keluar dari persembunyiiannya. Paha Maya dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilat, mengulum, dan sesekali menghisap dalam-dalam clitorisnya. Aku perhatikan Maya merem melek menikmati nakalnya lidahku dan sesekali aku perhatikanl, wanita tersebut mengigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejolak di hatinya. "OOhh.. Dandy, aku nggak tahan.. Ugh.." rintihnya. Semakin Maya merintih, mendesah dan mengerang, semakin membuat nafsuku bergejolak. Sampai aku rasakan beberapa cairan yang terasa asin, dan aku semakin bernafsu untuk menjilatinya. "Danddy.. Danddyy.. Ooogghh.." Maya merintih panjang. Dibarengi dengan tubuhnya yang kejang-kejang, dan terasa pahanya menggapit kepalaku dengan kencang. Jari nya yang lentik meremas rambutkuyang sedikti gondrong. Maya terpejam sejenak menikmati lelehnya cairan yang meluber dari lubang vaginanya, lidahku tiada henti menerima luapan cairan bening yang wangi tersbut. Seakan-akan aku tidak peduli dengan orgasme yang didapat Maya pertama kalinya. Dan ketika aku rasakan cairan tersebut sudah bersih, aku membimbing tubuh Maya yang masih lemas. Aku mendekap tubuh Maya dari belakang, kami berdua menghadap cermin. "Ohh.. Dandy.." Maya mendesah ketika lidahku mulai menyentuh bagian belakang telinganya. Tangannya menggapai leherku, dan tanganku sepontan meraih buah dadanya dari belakang. Dengan sentuhan yang sangat halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang. Jari telunjuk kananku bergerak menggesek clitoris Maya yang sduah mulai basah kemabli. "Danddyy.." Maya kembali mendesah. Peralahan aku mengangkat kaki kanan Maya dan aku sandarkan di wastafel kamar mandi. Sehingga Maya hanya berdiri dengan satu kaki saja, batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaan Maya dan sekali hentak. "Bleesst.." kepala penisku mengoyak vagina Maya. "Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kamu" Maya merintih. Perlahan aku beregark maju mundur di lubang vagina Maya, sampai akhirnya aku merasakan cairan yang cukup di lubang vagina Maya. Sekali tekan "bless" seluruh batang kemaluanku masuk dalam lubang senggama Maya dan bersama dengan itu, tubuh Maya sedikit terangkat. "Hekk.. Danndyy.. Nikmatt sekalii.. Oooh" Maya merintih kembali. Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Maya menggelinjang hebat dan sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa di batang kemaluanku. "Danddy.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh" pinta Maya. Nampak jelas di cermin aku lihat wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang kemaluanku semakin menjadi. Aku merasakan sekali ujung penisku bergerak masuk sampai di ujung kemaluan Maya. Wanita tersebut menggoyang kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Kedua tanganku meremas kedua bukit kembar Maya dan sesekali membantu pinggul Maya utnuk berputar-putar. "Danddy.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh" tangan Maya bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke atas kebawah, kesmaping kiri kanan seperti orang yang lagi triping. Beberapa saat kemudian Maya seperti orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Maya semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyak dinding vagina Maya. "Danddy.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti.." Maya meminta. Permainanku tersebut benar-benar memancing birahi Maya untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Maya benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar hebat. "Danddyy.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang" rintih Maya. Gerakan penisku seperti goyangan anisa bahar yang patah-patah, membuat birahi Maya semakin tak terkendali. "Dann.. Ddy.. Aaammppunn" rintih Maya panjang. Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Maya. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku. "Creek.. Crek.. Crek.." suara penisku masih bergerak keluar masuk di lubang vagina Maya. Aku semakin tidak peduli dengan Maya yang sudah mendapatkan kedua orgasmenya, karena aku sendiri lagi berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Perlahan, aku turunkan kaki kanan Maya yang pada posisi pertama aku naikkan ke atas wastafel. Posisi Maya, sekarang sedikit menungging dengan posisi berdiri. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang vagina Maya. "Ohh.. Dandyy.. kamu.. memang.. ahli.." kata Maya sambil merintih. Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Maya dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya. "May.. vagina kamu memang asyik banget" pujiku. "Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?" tanyaku. Maya hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijat oleh vagina Maya dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku benar-benar bisa diterima Maya karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku. Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku. "May.. Aku mau.. Keluuar.." kataku mendesah. "Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus.." Maya merintih. "Dandyy.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu.." pinta Maya. "Iya May.. Ooogh.. Akakhh.." rintihku. Gerakan maju mundur dibelakang tubuh Maya semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama. "Danddy.. Aku.. Aku.. Nggaak kkuaat.. Aaakhh" rintih Maya. "Aku juga May.. Oohh.. Maayy" aku merintih. "crut.. Crut.. Crut.." spermaku muncrat membanjiri vagina Maya. Karena begitu banyaknya spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Maya. Setelah beberapa saat kemudian maya membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku. "Dandy ternyata Via memang benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa" kata Maya merintih. "Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja" kataku merendah. "Kamu luar biasa.." Maya tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu. Tanpa terasa kami berdua sudah naik di dalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air di pancuran shower membuat tubuh Maya yang molek seperti bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, aku menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya Maya. Aku mnggosok-gosokkan sabun ke seluruh tubuh Maya, sesekali jariku yang nakal memilin punting Maya. "Ughh.. Danddy.." Maya merintih dan bergetar saat aku permainkan puntingnya yang memerah. Untuk yang kesekian kalinya, kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali Maya seorang wanita yang sedang butuh kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berdua memburu birahinya yang tidak pernah kenyang. Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 wib, dimana aku harus segera balik kerumah karena celullerku berapa kali tadi berbunyi. Aku meninggalkan Hotel E.. Sambil menikmati sisa-sisa kenimatan yang sudah di tinggalkan oleh permainan tadi. ***** E N D

Kisah mesum dimalam jum'at

 Kisah mesum dimalam jum'at


Hello semuanya, nama saya Indra Nurhadi. Saya kaget sekali karena ternyata ada situs yang memuat cerita pengalaman yang mengasyikkan dan secara jujur saya sering bermasturbasi sambil membaca cerita-cerita tersebut. Saya adalah seorang pria yang cukup hiperseks dan tentunya saya senang sekali jika ada wanita yang ingin merasakan kenikmatan bercinta dengan saya tetapi apapun yang terjadi dengan anda, saya tidak akan menanggungnya. Saya memiliki banyak sekali cerita pengalaman asli saya dan saya akan ceritakan satu persatu dan salah satunya adalah pengalaman asli yang saya akan ceritakan berikut ini. Jika anda melihat dari judul, pasti anda akan mengira bahwa cerita ini berbau horror atau mistik. Saya akan tegaskan bahwa cerita ini tidak berbau horror ataupun mistik sehingga anda bisa membacanya di malam hari. Kamis Malam minggu lalu pukul 20:00, saya sedang asyik mengutak atik komputer karena saya baru saja menemukan program yang bisa digunakan untuk bermain Play Station di komputer. Mendadak keseriusan saya dikagetkan oleh suara telepon dan karena di rumah itu tidak ada siapa-siapa makanya saya memutuskan untuk mengangkat telepon itu. Disaat saya menjawab telepon tersebut, ternyata dia adalah seorang petugas asuransi yang menawarkan produk-produk asuransi. Secara jujur, saya tidak tahu apa-apa mengenai asuransi sehingga saya mengiyakan saja ketika gadis di telepon itu menawarkan diri untuk berkunjung ke rumah karena saat itu dia berada tidak jauh dari rumah saya dan dia mengetahui rumah saya berdasarkan referensi dari teman ayah saya yang saat ini sedang bertugas ke Negara Malaysia selama 2 minggu. Tidak lama setelah telepon tersebut ditutup, mama saya menelpon saya dan menyuruh saya untuk berhati-hati di rumah karena malam ini dia tidak akan pulang karena sedang menemani adik saya yang saat itu sedang berada di Rumah Sakit Persahabatan karena dia mengalami kecelakaan patah tulang sewaktu bermain-main di belakang halaman rumah. Saya menutup gagang telpon setelah mama saya menyuruh saya untuk menjaga rumah dan lima menit kemudian, bel rumah saya berbunyi. Saya langsung berlari ke dapur untuk mengambil kunci pintu depan. Sambil membawa kunci gerbang, saya berlari untuk mengetahui siapakah yang berada di depan pintu, ternyata dia adalah gadis petugas asuransi yang baru saja menelepon saya dan saya mengetahuinya ketika dia mengenalkan diri dan memberikan saya sebuah kartu nama yang bertuliskan namanya. Namanya adalah Cynthia K**** (edited) dan dia memiliki figur tubuh yang cukup menggairahkan dan saya sungguh kaget karena dia ternyata masih berumur 23 tahun dan itu berarti tidak begitu jauh dari umur saya. Saya mempersilakan Chynthia untuk masuk ke dalam rumah saya yang cukup besar. Setelah saya menyuruhnya duduk dan menyiapkan sedikit penganan dan minuman juice untuknya, saya menanyakan keperluan kedatangannya sambil sekali-sekali melihat ke arah balik baju kantornya yang cukup seksi karena saat itu dia mengenakan baju terusan yang biasa dipakai oleh wanita wanita karir kebanyakan. Dia menjelaskan bahwa produk di perusahaannya sangat cocok untuk pemuda seumur saya mengingat premi yang saya mesti tangguhkan cukup murah. Saya sebenarnya tidak begitu tertarik dengan produk asuransi dan mengenai uang, saya sebenarnya tidak ada masalah dengan itu berhubung tabungan saya cukup banyak di Bank BCA dan di Citybank karena biarpun saya masih muda, saya sering sekali mengikuti program program share dan investasi berjangka. Cynthia masih serius sekali menjelaskan produk finansial tersebut kepada saya dan saya tidak memperhatikan satu kalimat pun yang dia ucapkan karena pandangan saya sekarang sedang memperhatikan gundukan yang mengembung berada di balik selangkangannya dan membuat saya menelan ludah berkali-kali. Akhirnya Cynthia menyadari hal tersebut sehingga presentasinya yang tadi lancar mendadak menjadi tersendat-sendat. Untuk membuatnya tidak curiga dengan 'kegiatan mata' saya, saya kemudian mendekatinya dan berpura-pura menanyakan jumlah premi yang mesti ditangguhkan. Dia kembali menjelaskannya dan saya langsung mengelus-elus pahanya yang masih tertutup oleh kain tetapi saya kaget sekali karena tindakan nakal saya ini hanya didiamkan saja sehingga saya semakin berani untuk mengarahkan tangan saya ke arah 'bagian sensitif'nya. Rupanya agen asuransi ini cukup responsif dengan kenakalan tangan saya dan saya mengetahuinya karena dia mendadak menghentikan presentasinya dan mendesah-desah bahkan dia mulai memegang payudaranya sendiri yang masih terbungkus oleh pakaiannya. Saya tentunya tidak tahan lagi untuk bersetubuh dengannya sehingga saya langsung memeluk dan menciumnya. Pertama kali memang dia agak sedikit meronta dan melarang saya untuk berbuat zina tetapi lama-lama pertahanannya menjadi goyah karena saya terus membujuknya dengan sentuhan-sentuhan di payudara dan selangkangannya dan akhirnya dia bertekuk lutut di hadapanku. Cynthia masih duduk di kursi tamu tersebut sementara saya sudah berada di depan selangkangannya. Dengan ganasnya, saya langsung menjilati selangkangan cynthia yang masih dibalut oleh kain celananya. Permainan lidah saya di sekitar selangkangannya dan permainan tangan saya di payudaranya membuat dia menjadi mendesah dan menyuruh saya untuk berhenti sebentar. Saya menerima permintaan untuk berhenti sebentar dan Cynthia langsung membuka seluruh busananya di meja tamu sehingga sekarang saya bisa melihat sebuah pemandangan yang merangsang. Sesosok gadis muda dengan payudara yang mancung, berkulit putih mulus, befigur seperti gitar spanyol dan yang paling menyenangkan adalah masih adanya rambut-rambut halus di sekitar daerah terlarangnya. Setelah saya juga membuka seluruh busana saya, saya langsung mendekati Cynthia dan mencium bibirnya yang kecil itu sambil tangan saya menggerayangi bibir kemaluannya yang semakin basah itu. "Ohh, Indraa.." desahnya ketika jari-jari saya mulai memasuki liang kenikmatannya. Desah-desah gairahnya membuat "senjata" saya semakin menegang sehingga tanpa persetujuannya, saya langsung memasukkan senjata saya ke dalam sarung"nya. "Bless..", masuklah batang kejantanan saya yang berukuran 17 cm ke dalam liang senggamanya yang masih sempit dan diselingi oleh teriakan histeris dan darah yang mengucur dari dalam liang kewanitaannya. Ternyata, petugas asuransi ini masih perawan dan saya semakin bersemangat karena sempitnya liang kewanitaannya yang memijat-mijat batang kemaluan saya membuat desahannya semakin mengeras dan dia mulai meracau tidak karuan dan bahkan dia mulai menganggap saya sebagai kekasihnya sendiri. Hal ini saya ketahui ketika dia memanggil saya dengan sebutan "sayang", "hubby" dan bahkan ada kata-kata kotor yang membuat saya semakin terangsang. Liang kewanitaannya semakin basah dan dentuman-dentuman batang kemaluan saya di dalam liang senggamanya membuat seluruh tubuh kami menjadi berkeringat. Tiba-tiba, Cynthia memegang pinggul saya dan menyuruh saya untuk mempercepat gerakan saya sambil berkata, "Indra sayangg.. cepetann.. Cynthia udah mau keluarr.." dan tak lama setelah dia berkata demikian, dia berkata dengan terbata-bata, "enakk.. shh.. enakk.. Indraa.. saya klimakss.." sambil memeluk saya dengan erat-erat dan bahkan disaat dia mencapai puncak kenikmatannya, dia menggigit punggung saya sehingga saya merasakan perih di punggung tetapi hal ini semakin menambah gairah seksual saya. Disaat itu, saya masih tegar dan belum memperlihatkan gejala-gejala ingin klimaks tetapi tentunya birahi saya masih tinggi sekali. Saya bosan dengan gerakan saya sehingga saya langsung menyuruh Cynthia untuk berbalik badan. Cynthia menuruti saya dan dia berbalik badan dengan tangannya yang bertumpu pada kursi sofa di ruang tamu, batang kemaluan saya yang masih menegang langsung saya masukkan ke dalam lubang pantatnya. Pertama kali batang kemaluan saya menembus liang duburnya, dia berteriak histeris tetapi setelah saya mendiamkan batang kemaluan saya yang cukup besar di dalamnya, dia justru mulai menyenangi permainan ini dan menyuruh saya untuk mengeluar masukkan batang kemaluan saya di dalam liang analnya. Sekarang gantian saya yang mendesah-desah karena liang analnya mulai memijit-mijit batang kemaluan saya secara nikmat sekali. Saya terus melakukan doggy style ini dalam waktu 10 menit kedepan dan saya masih dalam keadaan yang masih kuat dalam permainan. Saya kemudian menyelesaikan permainan itu. Saya mengambil kertas koran yang tidak jauh dari kursi tamu tersebut dan menaruhnya di atas lantai, kemudian saya tidur di atas kertas koran tersebut dan saya mengajak Cynthia untuk berada di atas diri saya. Cynthia menyetujui ajakan saya dan dia langsung mulai memasukkan batang kemaluan saya yang masih tegang ke dalam liang senggamannya. "Bless.." dengan penuh sensasi, Cynthia secara refleks langsung menggerakkan naik turun sehingga batang kemaluan saya seperti dipijit pijit dan saya yakin Cynthia semakin lama menyukai permainan ini karena liang senggamanya yang semula mengering kembali basah dan hangat dan ini membuktikan bahwa dia mulai terangsang kembali. Sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya, dia mulai mengelus-elus dada saya sementara disaat yang bersamaan saya mulai memijit payudara dan pentil dadanya sehingga dia menjadi mendesah secara nikmat. Kami bergumul cukup lama. Setelah 10 menit kemudian, saya merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam batang kemaluan saya. Saya tidak peduli apakah dia akan hamil nantinya atau tidak, yang pasti saya sangat puas jika saya bisa memasukkan semua sperma saya ke dalam liang kewanitaan perempuan. Saya semakin mempercepat dan Cynthia memberikan respon yang cukup baik karena dia juga mempercepat gerakan naik turunnya sehingga gerakan kami semakin cepat dan semakin gila sehingga saya akhirnya melepaskan semua sperma saya di dalam liang kewanitaannya sementara disaat yang bersamaan, Cynthia juga telah mencapai puncak kenikmatan tersebut karena dia memeluk saya erat-erat dan saya merasakan cairan yang menetes dari dalam liang senggamanya yang membanjiri batang kemaluan dan menyatu dengan sperma saya yang sudah keluar duluan. Setelah kami sama sama melepas kenikmatan ini, kami berdua sama sama roboh dan tertidur. Setelah kami sama sama telah bangun, saya meminta aplikasi asuransi dari Cynthia dan saya memberikan segala informasi mengenai saya kepada Cynthia dan tak lama kemudian, dia mohon pamit untuk pulang dan juga berterima kasih karena memberikan dia sesuatu yang sangat nikmat dan takkan pernah terlupakan selama hidupnya. TAMAT